Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Rezim pendudukan Israel kembali melakukan aksi teror. Dalam kejahatan terbarunya, Israel telah mensyahidkan salah satu komandan terkemuka Hizbullah Lebanon, Haitsam Ali Thabtaba’i. Aksi teror ini merupakan bagian dari kebijakan terorganisir rezim Zionis untuk melakukan pembunuhan terarah terhadap para pemimpin perlawanan, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Dr. Ahmad Alwan, Ketua Partai al-Wafa Lebanon dan peneliti isu-isu strategis, dalam wawancaranya dengan ABNA mengatakan: musuh Zionis mengira dengan menyingkirkan para komandan, mereka dapat melumpuhkan perlawanan. Namun Hizbullah berdiri di atas sistem kerja kolektif, terstruktur, dan kaderisasi kepemimpinan yang terencana. Untuk setiap komandan, telah dipersiapkan para pengganti yang sepenuhnya siap dan terlatih. Karena itu, aksi-aksi teror ini bukan hanya tidak melemahkan perlawanan, justru semakin memperkuat tekadnya untuk melanjutkan perjuangan.
Tujuan Sebenarnya Rezim Zionis dari Aksi Teror Ini
Pakar Lebanon tersebut menegaskan bahwa melalui teror dan agresi semacam ini, rezim Zionis berupaya mengguncang periode kepresidenan Lebanon serta menciptakan kesan seolah-olah Lebanon tidak mematuhi komitmennya, agar mereka memiliki dalih untuk melanjutkan pendudukan, menciptakan ketidakstabilan, bahkan melakukan intervensi militer yang lebih luas di Lebanon. Pada hakikatnya, tujuan akhir rezim ini adalah mewujudkan mimpi ekspansionis “Israel Raya” dan menghancurkan perlawanan secara total di kawasan.
Dampak Teror terhadap Persamaan Daya Tangkal
Dr. Alwan menegaskan bahwa aksi teror ini sama sekali tidak akan mengganggu persamaan strategis daya tangkal. Struktur perlawanan dirancang sedemikian rupa sehingga setiap syahid memiliki pengganti dengan tingkat kemampuan keamanan dan militer yang sama. Ia menambahkan: di dunia hari ini, konsep-konsep seperti “komunitas internasional” dan “hak asasi manusia” pada praktiknya telah kehilangan makna. Mekanisme hukum internasional telah lumpuh di bawah dominasi Amerika dan Zionisme; karena itu, tidak ada penolong sejati bagi bangsa Lebanon yang tertindas.
Jawaban Perlawanan: Bahasa Kekuatan dan Api
Ketua Partai al-Wafa menegaskan: sejak diberlakukannya Resolusi 1701 dan kesepakatan gencatan senjata, justru perlawanan yang konsisten mematuhinya, sementara rezim Zionis telah melanggarnya lebih dari lima ribu kali. Perlawanan telah terlebih dahulu menempuh jalur diplomasi, namun ketika jalur itu tidak membuahkan hasil, maka penentuan waktu dan cara pembalasan diserahkan kepada perlawanan sendiri. Bahasa paling efektif untuk menghadapi rezim Zionis adalah bahasa kekuatan dan api, dan Hizbullah sendirilah yang akan menentukan waktu, tempat, serta tingkat responsnya.
Tugas Pemerintah Lebanon dan Bahaya Besar Pelucutan Senjata Perlawanan
Dr. Alwan mengatakan bahwa pemerintah Lebanon, karena keterbatasan diplomatik dan tidak diperlengkapinya tentara secara nyata akibat hambatan Amerika, pada praktiknya tidak mampu melakukan pertahanan militer secara penuh. Gagasan pelucutan senjata perlawanan adalah sebuah kesalahan strategis besar. Sebaliknya, pemerintah Lebanon seharusnya memberikan tekanan maksimal kepada rezim Zionis untuk menarik diri sepenuhnya dari tanah Lebanon, membebaskan para tawanan, dan menghentikan seluruh agresi. Presiden Lebanon memang berupaya menjauhkan negara dari perang, namun pada prinsipnya rezim Zionis sama sekali tidak menghendaki perdamaian.
Your Comment