9 Januari 2021 - 11:00
Ayatullah Khamenei Larang Impor Vaksin Corona AS dan Inggris

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei hari ini, Jumat (8/1/2021) menyampaikan pidato untuk memperingati kebangkitan rakyat Qom pada 19 Dey 1386 Hijriah Syamsiah atau 9 Januari 1978.

Menurut Kantor Berita ABNA, Dalam pidatonya, Rahbar berterimakasih atas rakyat Iran yang telah memeriahkan haul setahun gugurnya Letjend Syahid Qasem Soleimani. Ia mengatakan, tidak ada satupun surat perintah atau edaran yang bisa menciptakan gerakan semacam ini, karena ia lahir dari kesadaran, kepedulian dan motif yang benar.

pidato Ayatullah Khamenei tidak sebagaimana biasanya yang dihadiri banyak orang, kini dilakukan secara virtual dan disiarkan secara langsung dari televisi nasional, dan radio Iran.
 
Rahbar mengatakan, kebangkitan rakyat Qom pada 1978 tidak hanya disebabkan oleh kehadiran Presiden Amerika Serikat, ini merupakan puncak kemarahan rakyat karena selama 25 tahun Amerika memberikan berbagai tekanan terhadap mereka. Amerika menjadikan Iran sebagai pangkalan utamanya lewat tangan rezim tirani dan korup Pahlavi. Akibatnya tidak ada kemajuan bagi rakyat, sebaliknya kemiskinan ekonomi, ilmu pengetahuan, korupsi dan kerusakan budaya merajalela.  
 
Ayatullah Khamenei menambahkan, sekarang sejumlah orang mengira jika kita berdamai dengan Amerika, dan berteman dengannya, Iran akan menjadi surga, tidak, lihatlah negara-negara yang menjadi korban sedekah Amerika, bagaimana nasib mereka.
 
Ia menjelaskan, ini alasan mengapa sebagian orang bertanya apa beda Amerika dengan negara Eropa yang itu, karena telah hidup nyaman selama bertahun-tahun di negara ini, mereka selalu berpikir untuk kembali ke masa itu. Beberapa negara pengkhianat di kawasan juga ikut membantunya.
 
Rahbar menuturkan, Amerika menganggap kepentingannya bisa terjamin jika kawasan kacau. Kecuali ketika ia sudah menguasai kawasan secara penuh. Sebelum itu, kepentingan Amerika tergantung pada instabilitas kawasan.

Dalam pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengacu pada kebijakan AS terhadap Iran dalam periode sejarah yang berbeda dan, dalam menganalisis perkembangan di AS hari ini, menilai situasi politik dan ekonomi AS sebagai buruk.

Keadaan pemilu Amerika mengungkap ketidakefektifan demokrasi liberal Amerika, dan serangan rakyat Amerika ke gedung Kongres membuat negara-negara teman dan musuh Amerika Serikat di dunia mengejek negara ini. Demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai Amerika tidak lagi menjadi dasar bagi negara lain saat ini, karena pemilihan umum presiden AS tahun 2020 mengungkap ketidakefektifan semua nilai-nilai ini.

Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam menganalisis situasi saat ini di Amerika Serikat dan serangan terhadap gedung Kongres AS, mengacu pada peristiwa fitnah 1388 (2009) mengatakan, Apa yang ingin dibawa Amerika ke Iran dalam fitnah tahun 2009, ternyata mengenai mereka sendiri pada tahun 2020.

Situasi saat ini di Amerika Serikat menandai tingginya ketidakstabilan AS, bahkan para pejabat AS telah memandang peristiwa 6 Januari 2021 sebagai aib bagi sejarah Amerika, dengan kata lain, sebagai awal dari era pasca-Amerika.

Dalam kasus ini, mantan Presiden Barack Obama menanggapi kerusuhan di Washington dan serangan terhadap gedung Kongres dengan mengatakan, "Stigma ini akan tetap ada dalam sejarah Amerika."

"Tidak mungkin orang lain di dunia akan melihat dan menghormati Amerika Serikat dengan cara yang sama. Jika era pasca-Amerika memiliki tanggal permulaan, maka pasti 6 Januari," kata Richard Haas, Direktur Institut Hubungan Luar Negeri Amerika, ketika menilai kerusuhan di Washington dan serangan terhadap gedung Kongres.

Masalah sanksi, kehadiran regional, kemampuan pertahanan Iran dan JCPOA adalah masalah lain yang menjadi poin penting dari Pemimpin Besar Revolusi Islam. Para pejabat Iran telah berulang kali menekankan bahwa Barat dan musuh bangsa Iran memiliki kewajiban untuk mengakhiri sanksi yang menindas terhadap rakyat Iran. Sanksi terhadap rakyat Iran telah menjadi kejahatan yang terus berlanjut bahkan di puncak epidemi Corona.

Hari-hari ini, beberapa negara Eropa berbicara tentang merundingkan kehadiran regional dan kemampuan pertahanan Iran pada saat yang sama ketika terjadi perubahan kekuatan di Gedung Putih untuk mempertahankan JCPOA, tanpa memperhatikan prinsip dasar pencabutan sanksi sepenuhnya. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, Republik Islam Iran berkewajiban untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga kawan dan pendukungnya diperkuat di kawasan dan pada dasarnya keberadaan Iran di kawasan justru menciptakan kestabilan."

 
Salah seorang pakar Amerika yang sangat terkenal, terang-terangan mengatakan bahwa Amerika tidak menginginkan stabilitas di Iran, Irak, Suriah dan Lebanon. Kami tidak ingin negara-negara ini stabil.
 
Ayatullah Khamenei melanjutkan, masalah lainnya adalah Corona. Pertama, vaksin yang sudah siap untuk virus Corona, telah menjadi kebanggaan, jangan diingkari. Ini adalah sumber kemuliaan. 
 
"Ketika sentrifugal-sentrifugal itu dibuat, beberapa tokoh sains menulis surat jangan sampai tertipu karena Republik Islam Iran tidak bisa melakukan hal ini. Namun kalian menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Hal yang sama berlaku terhadap sel punca. Ketika pekerjaan besar ini dilakukan ilmuwan Iran sebagian orang mengirim pesan, jangan terlalu percaya dengan hal ini. Beberapa orang langsung berkata kepada saya, hal itu tidak terlalu bisa diterima. Tapi kami percaya ini bisa diterima dan terbukti 10 kali lipat mengalami kemajuan. Sekarang vaksin Corona Iran sudah memasuki fase uji klinis pada manusia, dan Insyaallah akan lebih disempurnakan, dan sampai sekarang dinilai berhasil, setelah ini juga akan berhasil Insyaallah. Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan vaksin ini," paparnya.
 
Rahbar menegaskan, impor vaksin dari Amerika dan Inggris dilarang. Jika Amerika mampu dan memproduksi vaksin, maka bencana ini tidak mungkin terjadi di negara itu.

Mengenai masalah JCPOA, setelah para pihak gagal memenuhi komitmen mereka dalam praktiknya, pemerintah Iran menerapkan hukum Parlemen Iran dalam aksi nuklir terbarunya, dan melakukan pengayaan uranium 20 persen di fasilitas nuklir Fordow.

Iran memiliki hak untuk melaksanakan kewajibannya di bawah JCPOA seperti yang dilakukan pihak lain. Dengan kata lain, "komitmen versus komitmen" adalah prinsip yang ditetapkan dalam JCPOA. Dalam situasi seperti itu, jika Iran mendapatkan keuntungan penuh dari kepentingan ekonomi JCPOA, yaitu sanksi dicabut sepenuhnya, maka kembalinya Amerika Serikat Biden ke JCPOA akan masuk akal, dan Iran akan kembali ke kewajibannya.

342/