Menurut Kantor Berita ABNA, malam kemarin jumat (15/7) sekelompok perwira militer Turki, tanpa memperhatikan hirarki kemiliteran mereka, melakukan kudeta militer di negara ini.
Faksi yang di komandoi oleh perwira-perwira berpangkat rendah ini, pada mulanya menduduki dan menguasai bandara Ataturk dan stasiun televisi pemerintah; namun kedua markaz tersebut berhasil di rebut kembali oleh aparat kepolisian bersama sejumlah masyarakat yang ikut protes.
Mengingat bahwa sebuah kudeta memerlukan berbagai macam parameter - diantaranya adalah kordinasi menyeluruh pada semua elemen-elemen militer atau organ-organ pelaku kudeta – sebagian pengamat politik dan militer menyebut apa yang terjadi bukanlah sebuah kudeta; bahkan sebagian di antara mereka meyakini bahwa hal ini telah di rencanakan dan di lakukan sendiri oleh pemerintah Erdogan.
Membuat Hashtag Untuk Meledek Erdogan
Lemah dan tiadanya kordinasi para pelaku kudeta dengan elemen-elemen militer, nampak begitu aneh sehingga kebanyakan para pengguna jejaring sosial memperoloknya dengan membuat hashtag “# bukan kudeta melainkan teater”. Hashtag ini kemudian berubah dengan cepat menjadi trending topik di twitter.
Sebagian kritikus pemerintahan Erdogan juga meyakini bahwa dia telah membuat permainan ini untuk mengubah dirinya menjadi pahlawan nasional. Sebagian analis menyebutnya sedang mencari jalan untuk melakukan pembersihan besar-besaran di tubuh militer, lembaga peradilan serta lembaga-lembaga pemerintah dan sekarang, dalih-dalih seperti “Terlibat kudeta” dan “Loyalis Gulen” akan membantunya di jalan ini.
Menyusul peristiwa ini, telah mengemuka beragam pandangan:
Walid Phares penasehat di kongres Amerika serta pengamat masalah-masalah timur tengah pada sebuah wawancara dengan france24 dalam analisisnya atas situasi Turki mengatakan, “Sebuah faksi dalam militer melakukan tindakan ini dengan pikiran ingin mengambil alih kekuasaan dengan cepat. Para pelaku kudeta mengira jika mereka melakukan kudeta masyarakat secara luas akan mendukungnya. Mereka masih mengingat protes luas masyarakat di Istambul tiga tahun lalu, namun yang terjadi di jalan-jalan Ankara dan Istambul adalah sebaliknya yakni masyarakat malah bangkit menentang mereka. Pertanyaan yang mengemuka dalam hal ini adalah apakah Erdogan dapat berhasil menumpas penuh pemberontakan ini atau tidak?
Pengamat ini menambahkan, “Untuk memenangkan kudeta dukungan rakyat sangat di perlukan. Sebagai contoh; kudeta militer di Mesir berhasil lantaran dukungan luas rakyat Mesir, namun di Turki sebaliknya”.
Walid dalam menjawab pertanyaan “Apa yang menyebabkan faksi kecil militer ini berpikir untuk melakukan kudeta?” mengatakan, “Alasannya bisa banyak; namun sebagian sumber-sumber pemberitaan di Turki mengatakan bahwa sangat mungkin kudeta ini di lakukan oleh pemerintah sendiri untuk mengenali dan menumpas kekuatan-kekuatan kontra(penentang) di tubuh militer”.
Rubio, “Kudeta Ini Bukan Upaya Terencana Dari Elemen Besar Militer”
Anggota hubungan luar negeri dan intelijen senat Amerika dalam menanggapi kudeta gagal di Turki mengatakan, “Kudeta ini merupakan hasil pertarungan kekuasaan internal”.
Marco Rubio menyebut pemberitaan kudeta cukup mengejutkan dan mengatakan, “Pertikaian di Turki akhir-akhir ini makin menguat. Presiden mencopot perdana menteri dan pertarungan kekuasaan terus berlanjut. Namun kudeta ini sepertinya adalah bukan sebuah usaha yang begitu terencana dari elemen besar militer. Sepertinya pelaku kudeta ini adalah para pendukung kelompok Fhetullah Gulen. Saat ini perhatian semua orang tertuju pada kelompok ini, tetapi mungkin lebih baik jika faktor-faktor dan akar-akar peristiwa ini di periksa dengan lebih teliti lagi. Para oposan semakin tertekan dengan semakin diktatornya pemerintahan Erdogan”.
Ia menambahkan, “kudeta ini tidak bangkit dari jalan-jalan, melainkan bersumber dari struktur kekuasaan di Turki dan di rencanakan secara tidak profesional namun fatal(menyebabkan kematian).
Rubio menambahkan, “Pertanyaan yang mengemuka sekarang ialah apakah Erdogan memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih maju atau tidak? dan apakah dia akan berusaha di mana demi meraih kekuasaan lebih besar, negaranya akan berada di jalan yang makin despotis?”.
Senator Amerika ini mengatakan, “Sebagian mencontohkan kasus Mesir dan Ikhwanul Muslimin; namun kondisi Turki sepenuhnya berbeda. Militer Turki merupakan anggota NATO dan tidak mirip dengan militer Mesir”.
Jenderal Amerika, “Saya Tidak Dapat Menerima Hal Seperti Ini”
Sementara Marco Rubio menyebut kudeta kemarin malam bukan sebuah upaya terencana dari elemen besar militer dan hanya mengaitkannya dengan perwira-perwira berpangkat rendah, seorang pensiunan jenderal Amerika mengatakan bahwa Ia tidak bisa menerima pernyataan seperti itu karena perwira yang berpangkat rendah tidak mungkin melakukan ini.
Stasiun televisi CNN menanyakan kepada jenderal ini, “Pemerintah Turki menyatakan bahwa yang bertanggung jawab atas kudeta ini adalah perwira berpangkat rendah. Namun demikian, mengingat bahwa operasi semacam ini memerlukan perencanaan yang sangat rahasia serta pengalaman dan spesialisasi yang tinggi, apakah klaim pemerintah Turki bisa di benarkan?
Mark Hertling, pensiunan jenderal Amerika menjawab, “Saya tidak dapat menerima hal seperti itu. Ini bergantung dengan apa definisi anda tentang perwira berpangkat rendah. Jika yang di maksud adalah perwira-perwira tinggi selain komandan-komandan umum, maka hal itu memungkinkan. Tetapi saya tidak berpikir demikian”.
Ia menambahkan, “Terdapat dua poin penting dalam kaitan ini bahwa komandan-komandan tinggi mengetahui rencana kudeta; pertama ialah perencanaan dan rembukan(konsultasi) secara luas di perlukan untuk tindakan seperti ini”.
Hertling menjelaskan, “Poin menarik lainnya yang saya pahami dari militer Turki ialah bahwa militer ini mempunyai kultur khas dan tidak punya kesamaan yang di berikan oleh Ataturk. Militer bertugas menjaga demokrasi di negara ini, sedangkan di negara-negara kita tugas ini di lakukan oleh lembaga-lembaga non militer. Militer Turki berkewajiban untuk menjamin terlaksananya fungsi demokrasi. Mungkin perasaan inilah yang menyebabkan terjadinya kudeta, yaitu perasaan bahwa Erdogan dengan memenjarakan wartawan-wartawan surat kabar, meniadakan hak-hak individu dll.. telah mengambil jarak dari pilar-pilar demokrasi”.