20 Mei 2016 - 16:28
Presiden Iran Bertemu Dubes Baru Indonesia di Tehran

Presiden Republik Islam Iran mengatakan, Iran dan Indonesia sebagai dua negara penting di Dunia Islam harus melawan kelompok-kelompok ekstrem dan teroris.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hassan Rouhani, Presiden Iran, Selasa (17/5) dalam pertemuan dengan Octavino Alimuddin, Duta Besar baru Indonesia di Tehran menuturkan, banyak kapasitas dan peluang yang terbuka lebar bagi perluasan hubungan Tehran-Jakarta di bidang ekonomi.

Dubes baru Indonesia di Tehran selain menyerahkan surat kepercayaannya kepada Rouhani, juga mengharapkan pemanfaatan peluang-peluang kerja sama untuk memperkuat dan mempererat hubungan bilateral. 

Selain Indonesia, ada beberapa Duta Besar lain yang juga menyampaikan surat kepercayaan yaitu Slowakia, Perancis dan Azerbaijan. Pada kesempatan tersebut, Presiden Rouhani menyampaikan pentingnya peran Indonesia, terutama dalam upaya penyelesaian konflik di dunia Islam.
Presiden Rouhani mengawali sambutannya dengan ucapan selamat datang. Diharapkan kehadiran Dubes Octavino dapat membantu meningkatkan hubungan kedua negara. Presiden Rouhani juga menyampaikan kunjungannya terdahulu ke Indonesia pada tahun 2014 dalam rangka memenuhi undangan Presiden Jokowi untuk menghadiri KTT Asia Afrika. Beberapa hasil kunjungan tersebut ditandai oleh penandatanganan perjanjian kerjasama kedua negara serta pembahasan isu-isu bilateral maupun regional.
Pada isu bilateral, Rouhani menekankan besarnya potensi maupun kapasitas yang dapat ditingkatkan oleh kedua negara. Iran juga siap berpartisipasi dalam proyek-proyek infrastruktur, seperti jalan, pembangkit listrik, pembangunan bendungan dan refinery, terutama di bidang teknik dan engineering. Perusahaan swasta Iran juga siap melakukan investasi bersama (joint investment) dengan perusahaan Indonesia. Peningkatan kerjasama di bidang ekononi dan sosial budaya kedua negara diharapkan juga dapat menjadi cerminan hubungan dua negara Islam moderat yang mewakili the real Islam, bukan stigma Islam yang identik dengan radikalisme.
Padapertemuan tersebut, Presiden Rouhani juga telah mengundang Presiden Jokowi untuk dapat berkunjung ke Iran. Rouhani berharap bahwa hal tersebut dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dalam sambutannya, Dubes Octavino menyampaikan salam hangat dari Presiden Jokowi kepada Presiden Rouhani, serta dari masyarakat Indonesia kepada masyarakat Iran. Disampaikan pula ucapan selamat atas suksesnya penyelenggaraan Pemilu Majlis dan tercapainya perjanjian JCPOA yang saat ini telah masuk pada tahap implementasi.
Dubes Octavino berharap bahwa hubungan kedua negara dapat terus meningkat. Hubungan diplomatik kedua negara yang telah lebih dari setengah abad yang diwarnai oleh lebih dari 50 perjanjian bilateral serta saling dukung di forum-forum internasional dapat terus terjalin. Lebih jauh diharapkan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi maupun sosial budaya dapat terus berlanjut. Diharapkan volume perdagangan kedua negara terus meningkat, dengan beberapa komoditas perdagangan utama seperti pulp dan kertas dari Indonesia, serta bitumen dari Iran. Dubes Octavino juga menyampaikan upaya Pertamina untuk berpartisipasi pada proyek investasi di Iran serta keikutsertaan delegasi Indonesia pada MTQ Internasional yang sedang diselenggarakan di Tehran. Menanggapi peran Indonesia dan Iran sebagai 2 negara muslim yang moderat, Dubes Octavino sepakat dengan Presiden Rouhani bahwa Islam yang sejati seharusnya rahmatan lil alamin.
Sebagai penutup, Presiden Rouhani menegaskan bahwa 'no barrier for friendly country seperti Indonesia'.
Pertemuan selama 15 menit tersebut berlangsung dengan sederhana namun hangat. Pada kesempatan tersebut, Dubes Octavino dan Ibu Yanty Alimudin didampingi oleh pejabat Protokol Konsuler dan Atase Pertahanan KBRI Tehran.

Octavino Alimuddin dilantik  oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada 13 Januari 2016 bersama dengan 12 duta besar lainnya. Sebelum dilantik menjadi Duta Besar untuk Iran, Octavino menjabat sebagai Direktur Perjanjian Politik, Keamanan, dan Kewilayahan Kementerian Luar Negeri RI.

Diplomat kelahiran Jakarta 12 Oktober 1968 itu meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Trisakti Jakarta. Gelar Master of Law dia peroleh dari University of Kent, Centerburry England pada tahun 1996.

Sebagai diplomat Octavino pernah bertugas sebagai staf bidang konsuler di KBRI Manila, Filipina (1999-2003) dan staf bidang politik hingga konselor di KBRI Budapes, Hungaria (2005-2009) serta Kasubdit Perjanjian Kewilayahan pada Direktorat Perjanjian Politik, Keamanan dan Kewilayahan Kementerian Luar Negeri RI (2011-2012).

Diharapkan dengan kepemimpinan Octavino hubungan Indonesia dan Iran akan semakin membaik di tengah terjadinya krisis di Timur Tengah.