Menurut Kantor Berita ABNA, disaat umat Islam sedunia berduka dengan terjadinya insiden mematikan di Mina yang menelan 2 ribuan korban jiwa dan luka-luka termasuk ratusan jamaah haji dinyatakan tanpa kabar pada kamis [24/9], pihak resmi Arab Saudi justru belum mengeluarkan pernyataan minta maaf atas terjadinya insiden tersebut, malah menyebutkan kesalahan ada pada ketidakdisiplinan jamaah haji, serta takdir yang tidak bisa ditolak. Media-media Arab Saudi bahkan melemparkan tanggungjawab dan kesalahan ada pada jamaah haji Iran yang disebut tidak mematuhi prosedur penyelenggaraan haji. Dengan kata lain, jamaah haji Iran tertuduh berada dibalik insiden mematikan di Mina tersebut.
Surat kabar al Syarq al Awsath yang berada dibawah kontrol kerajaan Arab Saudi merilis berita provokatif yang menyebutkan pengakuan tim pengelola jamaah haji Iran bahwa jamaah haji Iran bertanggungjawab atas terjadinya insiden di Mina.
Koran tersebut menulis sejumlah ketua rombongan jamaah haji Iran menggerakkan jamaahnya diluar prosedur dan tidak sesuai jadwal yang telah ditetapkan pengelola haji Arab Saudi adalah awal mula petaka di Mina. Disebutkan 300 jamaah haji Iran bergerak berlawanan dengan arus jamaah haji yang sedang bergerak menuju Mina yang menyebabkan terjadinya saling desak-desakan yang menelan korban jiwa.
Untuk menginvestigasi kebenaran berita tersebut, ABNA melakukan wawancara dengan salah seorang pengelola jamaah haji Iran yang saat ini masih tetap berada di Mina.
Untuk menjaga keselamatan informan, identitasnya untuk sementara dirahasiakan, sampai kembali berada di Iran dengan selamat. Sampai saat ini 3 wartawan Iran yang dikirim untuk meliput lokasi kejadian, dinyatakan hilang dan belum diketahui kabarnya.
ABNA: Surat kabar al-Syarq al-Awsath menyebutkan penyebab utama terjadinya insiden mematikan di Mina karena ada 300 jamaah haji Iran yang bergerak dengan melawaarah arus jamaah, dan disebutkan pengelola jamaah haji Iran sendiri yang memberikan kesaksian dan pengakuan tersebut. Apakah benar demikian?
Sangat tidak benar. Siapapun yang pernah menunaikan jamaah haji di tahun-tahun sebelumnya akan mengetahui bahwa disatu jalur yang sama, sama sekali tidak ada ruang atau celah untuk bisa berbalik kearah yang berlawanan.
Karenanya sangat tidak memungkinan, 300 orang Iran bisa bergerak melawan arah. Selain itu, insiden ini terjadi dipagi hari Idul Adha, yaitu belum ada satupun rombongan yang melakukan prosesi melontar jumrah. Lantas apa alasannya jamaah Iran bergerak melawan arah dan menuju pulang sementara mereka belum melontar jumrah?
ABNA: Tahun-tahun sebelumnya memang tidak memungkinkan hal itu terjadi, jalan untuk pergi dan pulang berada pada jalur yang berbeda. Bisa saja tahun ini, arah berangkat dan kembali berada pada jalur yang sama, apa bisa dijelaskan demikian?
Tentu tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Membuat jalan pergi dan pulang berada pada jalur yang sama, sama halnya merencanakan bencana kematian bagi para jamaah haji. Intinya, sama sekali tidak penjelasan rasional yang bisa menyebutkan, 300 orang bisa bergerak melawan arah, sebab semua jamaah haji saat itu bergerak ke arah Jamarat. Patut ditegaskan juga, insiden ini terjadi setelah hampir tiba di Jamarat, artinya dibagian akhir Mina. Apakah memungkinkan ada yang hendak berbuat konyol bergerak melawan arah, sementara jalan kembali juga punya jalur sendiri yang terpisah?.
ABNA: Surat kabar tersebut menyebut bahwa 300 jamaah haji Iran itu bergerak dari Muzdalifah memasuki Mina dan bukan berangkat dari perkemahan mereka. Benar demikian?
Rombongan jamaah haji Iran, setelah memasuki Mina, sarapan terlebih dahulu diperkemahan kemudian bergerak menuju Jamarat. Sebagaimana yang saya katakan, insiden ini terjadi tidak jauh dari Jamarat bukan di jalan masuk Muzdalifah. Disitu jalur juga satu arah, dan arahnya semua menuju ke Jamarat. Untuk satu orang saja tidak ada celah untuk berbalik arah, apalagi untuk 300 orang.
ABNA: Dengan penjelasan anda, lantas apa yang menyebabkan terjadinya penumpukan jamaah dan saling berdesakan satu sama lain?
Kepolisian Arab Saudi menutup jalan. Mereka mengarahkan jamaah haji untuk melalui jalan 204. Sejak menuju kearah yang ditunjukkan tersebut, penumpukan jamaah menjadi tidak wajar. Ruang bergerak menjadi sangat menyempit. Sekelompok polisi meminta rombongan yang berada di depan untuk duduk. Ini yang membuat jamaah yang dibelakang menyangka, jalanan sudah dibuka, sehinga mereka bergerak bersama. Ini yang menyebabkan terjadinya aksi saling mendorong yang akhirnya menelan korban jiwa.

ABNA: Sampai saat ini alasan diarahkannya jamaah haji ke jalan 204 belum juga disampaikan. Berita yang menyebutkan alasan penutupan jalan, karena adanya konvoi pangeran yang lewat belum bisa dipastikan kebenarannya. Sementara pihak Arab Saudi secara resmi belum menyampaikan alasannya. Apakah anda sendiri mengetahui alasan dibalik pemblokiran jalan tersebut?.
Mungkin alasannya agar tidak terjadi penumpukan jamaah di terowongan seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya sendiri sampai sekarang belum mengetahui alasan pastinya. Sebab belum juga ada penjelasan resminya.
ABNA: Jika misalnya memang ada kemungkinan jamaah haji suatu negara untuk berbalik arah. Apa peran pasukan pengamanan disini?
Bisa dipastikan berbalik arah adalah tindakan yang berbahaya, sebab bisa mencelakakan rombongan lainnya. Tentu saja pihak pengamanan harus sigap mencegah itu. Terjadinya insiden dengan alasan adanya rombongan haji Iran yang berbalik arah, sama halnya menyebutkan pasukan pengamanan lalai dalam menjalankan tugasnya, dengan ketidakmampuannya mencegah dan mengantisipasi terjadinya insiden. Justru penyebab yang sebenarnya adalah ditutupnya jalan oleh pihak pengamanan tersebut. Ketika insiden saling berdesakan terjadi, jumlah pengamanan sangat sedikit, dan tidak mengambil tindakan penyelamatan yang sigap untuk segera mengakhiri insiden tersebut. Dalam kondisi jamaah dalam keadaan menumpuk dan saling berdesakan, mereka tetap tidak juga membuka jalan.
ABNA: Maksud anda, jika jalan dibuka oleh mereka, kemungkinan insiden ini tidak bakal terjadi?
Iya, jika jalan dibuka oleh mereka, insiden ini tidak akan trejadi. Tidak adanya ruang bergerak dalam kondisi cuaca sangat panas serta dehidrasi dan rasa haus, menyebabkan insiden ini menelan korban jiwa yang tidak sedikit.
ABNA: Al-Syarq al-Awshat juga menyebutkan bahwa sesuai prosedur seharusnya rombongan Iran bergerak bersama rombongan Turki pada waktu yang telah ditentukan. Namun pengelola jamaah haji Iran malah menggerakkan rombongannya diluar prosedur yang telah ditentukan, apa benar demikian?
Pernyataan tersebut juga tidak benar. Tidak ada aturan demikian yang menyebutkan rombongan Iran memiliki jadwal yang sama dengan rombongan Turki. Setiap tahun, jamaah haji Iran melalui jalan yang sama dan bergerak pada waktu yang sama menuju lokasi melontar jumrah. Jalan yang kami lalui tidak memiliki kekhususan, bahwa jalan tersebut hanya untuk negara ini dan tidak untuk rombongan negara lain.
ABNA: Menurut anda, mengapa media Arab Saudi merilis berita yang mengandung unsur pembohongan publik ini?
Saya hanya melihat, adanya isu jamaah haji Iran yang salah, akan mengurangi tekanan dan desakan dunia Islam yang menuntut rezim Arab Saudi untuk bertanggungjawab atas terjadinya insiden ini.
ABNA: Al-Syarq al-Awshat menyebut informan berita mereka adalah salah seorang anggota pengelola haji Iran yang identitasnya mereka rahasiakan. Tanggapan anda?
Alasan identitas informannya dirahasiakan, bukan untuk menjaga keselamatan informannya, sebab informan tersebut memang tidak ada dan yang disampaikan juga tidak benar. Tidak ada fakta kebenarannya sama sekali.
ABNA: Dengan bersumber dari berita tersebut, sejumlah negara melalui media-media nasional mereka, turut menyebut Iran sebagai dalang dibalik tragedi ini. Bahkan informasi yang beredar, tim pengamanan Arab Saudi telah menangkap dan memenjarakan pengelola haji Iran yang bertanggungjawab atas rombongan hajinya. Bagaimana tanggapan anda?
Sangat disayangkan sebab berita tersebut tidak benar. Tidak ada satu orang warga Iranpun yang ditangkap atau dipenjara yang dikaitkan dengan insiden Mina ini.
ABNA: Bisa anda jelaskan, mengapa ada korban dari jamaah haji Iran dalam insiden ini, bahkan termasuk yang terbesar dibanding dari jamaah negara lain?
Sebab lokasi insiden tersebut berada dijalur yang memang dilewati oleh saudara-saudara dari Afrika dan Iran, sebab itu jalur yang terdekat dari perkemahan kami. Korban terbanyak bukan dari Iran, melainkan dari Afrika.
ABNA: Bagaimana dengan evakuasi korban dan tindakan tim medis untuk menyelamatkan korban yang masih hidup?.
Sangat disayangkan, pengelola haji Arab Saudi tampak tidak memiliki manajemen dan kesiapan untuk mengantisipasi bakal terjadinya insiden. Demikian pula insiden jatuhnya crane, pertolongan datang sangat terlambat.
Terimakasih atas waktu anda untuk wawancara ini.
Sama-sama.
***
Disebutkan, data resmi pemerintah Iran yang disampaikan oleh Ketua Departemen Haji dan Ziarah Iran menyebutkan data terakhir, jamaah haji asal Iran yang meninggal dunia sebanyak 169 orang, luka-luka dan sementara mendapatkan perawatan medis di rumah sakit sebanyak 48 orang dan 316 orang dinyatakan hilang dan tanpa kabar sejak insiden Mina terjadi. Diantara korban yang dinyatakan hilang adalah Ghadhanfar Rakn Abadi, mantan duta besar Iran untuk Lebanon. Sementara korban jiwa diantaranya adalah Muhsin Hasani Karghar, qari Al-Qur’an terbaik Iran yang prestasi terakhirnya meraih juara I pada MTQ Internasional di Malaysia 2015.

Keterangan gambar:
Kalau dinyatakan jamaah Iran bergerak tidak melalui prosedur, pihak pengamanan Arab Saudi tentu saja sangat bisa untuk mencegah itu terjadi sebelum rombongan Irak bertubrukan dengan rombongan jamaah haji lain yang lebih besar, terlebih lagi yang melakukannya dikatakan 300 orang dan alasan berbalik arahnya karena sudah melakukan prosesi melontar jumrah.