Menurut Kantor Berita ABNA, insiden Mina yang menelan 2000an korban jiwa dan luka-luka termasuk ratusan orang dinyatakan tanpa kabar pada kamis [24/9] melahirkan sejumlah polemik dan debat mengenai kronologis kejadian dan sebab musababnya menyusul rezim Arab Saudi yang belum juga mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab utama terjadinya insiden kecuali menyebut ketidakdisiplinan jamaah asal Afrika sebab penyebabnya.
Berikut wawancara ABNA dengan Hamid Syakir Nejad, qari Internasional asal Masyhad Iran yang turut berada di lokasi kejadian namun mampu selamat dari insiden mematikan tersebut.
Jam berapa peristiwa tragis itu terjadi?
Masy’ar al-Haram, adalah sebuah lokasi yang terletak antara Arafah dan Mina, yang para jamaah haji harus sudah mulai bergerak ke tempat tersebut setelah maghrib pada hari Arafah, yaitu setelah waktu terakhir untuk wukuf di Arafah. Jamaah berada di lokasi tersebut sampai terbitnya matahari pada hari kesepuluh Dzulhijjah dan melakukan amalan-amalan khusus di lokasi tersebut. Kami juga berada di tempat tersebut, pada hari 10 Dzulhijjah. Pukul 8 pagi, rombongan kami yang terdiri dari para qari dan hafidz Al-Qur’an mulai bergerak menuju Rami al-Jamarat untuk melanjutkan prosesi rangkaian ibadah haji.
Dalam perjalanan kami, terjadi desak-desakan yang tidak wajar, tidak sebagaimana yang kami rasakan sebelumnya. Sampai dalam waktu yang cukup lama, arus jamaah tidak bergerak, kami juga ikut berhenti. Orang-orang mengatakan penyebabnya, karena jalanan ditutup. Tidak lama, mulailah terjadi insiden saling berdesak-desakan. Sama sekali tidak ada ruang untuk bergerak. Saat itu kondisi sangat panas, tidak ada air bahkan oksigen untuk bernapaspun terasa sulit untuk didapat.
Apakah waktu terhentinya anda itu sampai memakan waktu setengah jam?
Kalau anda berada dilokasi kejadian saat itu, anda akan merasakan sendiri, hatta 15 menit anda akan kesulitan bertahan hidup dalam kondisi seperti itu. Jika anda bergerak, anda akan lebih kesulitan lagi. Masing-masing berusaha mencari ruang untuk bisa bernafas.
Apa yang terjadi kemudian?
Saya sendiri sudah memasrahkan diri. Saya sudah merasa hidup saya akhirnya akan terhenti dalam kondisi seperti itu. Orang-orang telah berada dalam kondisi panik. Suara erangan kesakitan menggema dimana-mana. Panggilan kematian seolah-olah telah menyentuh gendang telinga. Saya sendiri mendengar suara nafas terputus-putus, sekedar mengais-ngais oksigen yang tersisa.
Jadi memang tidak ada jalan keluar lagi dari insiden maut itu?
Sejujurnya, memang tidak ada jalan lagi. Saya tidak menyalahkan kinerja pengelola Haji, namun sekiranya diupayakan saat itu, jalan yang diblokir dibuka segera, saya yakin korban jiwa dari insiden tersebut, tidak sebanyak yang kita ketahui.
Rasa haus juga telah sangat menyerang, saya benar-benar telah memasrahkan diri. Masing-masing hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ada yang terus meronta, namun ada juga yang seperti saya. Diam memasrahkan diri.
Kami melihat dari foto yang beredar, kondisi jenazah saling menindih, bisa anda jelaskan mengapa demikian?
Iya, satu-satu jamaah tampak pingsan atau sudah meninggal dunia.
Anda sendiri bagaimana?
Meskipun berada dalam tekanan orang-orang banyak, saya masih tetap bernafas. Dan sayapun merasa, bahwa saya masih punya harapan untuk tetap bertahan hidup. Sayapun berbicara dengan Tuhan. Semua kupasrahkan kepada-Nya. Orang-orang disekitarku, telah menyandarkan tubuhnya kesaya. Tubuhku pun juga sudah mulai bergetar.
Lantas bagaimana anda bisa selamat?
Dalam permohonanku kepada Tuhan. Jika saya harus mati ditempat tersebut, setidaknya matiku dimudahkan. Tidak lama, saya mendengar suara sirine ambulance. Air-air yang disemprotkan membasahi kepalaku. Saya merasa lebih baik. Dalam kondisi setengah sadar, saya dibawa kerumah sakit dan mendapat bantuan pernapasan.
Bagaimana Ambulance itu bisa membuka jalan?
Saya tidak tahu. Yang saya tahu, pertolongan itu begitu terlambat. Setelah banyak orang yang berjatuhan karena pingsan atau meninggal dunia, ambulance baru tiba.
Kami dengar yang meninggal dunia hanya dari kalangan yang sakit dan telah lanjut usia, apa benar demikian?
Tidak, ketika oksigen habis, maut tidak lagi membedakan antara yang masih muda dan yang sudah lanjut usia. Tidak ada pengaruh kondisi fisik seseorang jika sudah kehabisan nafas karena berdesak-desakan.
Pihak Arab Saudi menyatakan, penyebab insiden ini karena ketidakdisiplinan jamaah Afrika. Bagaimana anda melihat situasinya?
Intinya, penyebabnya adalah ditutupnya jalan. Saya adalah saksi mata yang melihat langsung kejadian. Penyebab utama kematian jamaah adalah karena dehidrasi dan kehausan, sementara air tidak sampai kemereka. Jika sekiranya ada helikopter diatas jamaah waktu itu, sambil menyemprotkan air, tentu saja korban kematian bisa lebih diminimalisir.
Apakah korban kematian lebih banyak dari kalangan perempuan?
Telah ditentukan bahwa yang lebih dulu berangkat adalah laki-laki, namun tetap saja saya melihat sekelompok kecil perempuan ikut dalam arus jamaah. Alhamdulillah, ditempat saya, saya tidak melihat satupun perempuan Iran.
Bagaimana dengan evakuasi tim penyelamat terhadap para jenazah korban?
Saya tidak tahu. Saya yang termasuk dilarikan kerumah sakit waktu itu. Tapi kita lihat, dilokasi kejadian, jenazah dan korban yang masih hidup ditumpuk jadi satu.
Bagaimana anda melihat pelayanan Arab Saudi terhadap para jamaah?
Tahun ini saya melihat pelayanan terhadap para jamaah sangat kurang. Saya tidak melihat adanya manajemen keselamatan dan keamanan jamaah yang memenuhi standar yang diperlihatkan pengelola Haji. Bahkan jatuhnya crane yang juga menelan korban jiwa menunjukkan adanya manajemen yang buruk dan tidak adanya antisipasi dan upaya pencegahan yang bisa memberi jaminan keselamatan dan keamanan terhadap jamaah haji. Bahkan bertambahnya korban dari jamaah Iran, disebabkan adanya larangan bagi tim medis Iran untuk juga memberikan bantuan terhadap korban.