1 Agustus 2015 - 11:43
Mendalami Al-Qur’an adalah Syarat Kemajuan suatu Bangsa

“Dari kurun abad kedua dan ketiga hijriah sampai abad kesepuluh, ilmuan-ilmuan dalam bidang sains dan matematika adalah juga ulama-ulama yang ahli dalam bidang agama. Ilmuan seperti Jabir bin Hayyan, Syaikh Bahai, Ibnu Sina, Khaja Nasaruddin Thusi, Zakaria Razi dan lain-lain adalah ilmuan-ilmuan yang sampai sekarang menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Mereka adalah orang-orang yang mampu melaraskan antara ilmu Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu lainnya.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi dalam ceramahnya yang disampaikan dipelataran Haram Imam Ridha As di kota Masyhad Republik Islam Iran mengatakan, “Musuh-musuh Islam telah berulang kali melakukan pelecehan terhadap Al-Qur’an termasuk membakarnya, termasuk hendak menciderai nilai-nilai maknawi dalam kandungan Al-Qur’an dengan memberikan penafsiran yang nyeleneh dan menyimpang.”

“Namun usaha-usaha mereka itu kesemuanya gagal, sebab konspirasi mereka berhadapan dengan ulama dan pemuda Islam yang sadar dan tahu dengan strategi busuk mereka.” lanjutnya.

“Sebagai salah satu contoh, mereka mengajukan syubhat bahwa kandungan Al-Qur’an bertentangan dan tidak sesuai dengan sains. Bahwa ilmu Al-Qur’an bersifat ekslusif, hanya pada tataran ilmu syariat saja dan tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain.” tambahnya.

Ayatullah Makarim Shirazi lebih lanjut mengatakan,”Al-Qur’an al-Karim adalah kitab langit yang berasal dari Allah Swt yang tidak diragukan lagi akan keagungan dan kemuliaannya. Sejak diturunkannya dari 14 abad yang lalu, Al-Qur’an telah memberi penjelasan mengenai tauhid dan pengenalan terhadap Allah yang dikaitkan dengan ilmu eksprimen. Begitupun dengan akan terjadinya kiamat, yang hari ini telah mendapat bukti dari ilmu-ilmu alam bahwa alam semesta ini memang memiliki batas akhir dan akan hancur suatu ketika.”

“Pada hari diturunkannya Al-Qur’an telah memberikan penjelasan mengenai tema-tema keilmuan yang baru dimasa modern ini dibuktikan kebenarannya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung muatan keilmuan yang memberikan keterkaitan erat antara ulumul Islam dengan ilmu-ilmu lainnya.” lanjutnya.

Dalam lanjutan penjelasannya, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Allah Swt dalam Al-Qur’an berkali-kali menyinggung fenomena alam, mengenai proses penciptaan langit dan bumi, mengenai pergiliran siang dan malam, mengenai perputaran bumi, berhembusnya angin, turunnya hujan dan lain-lain sebagainya yang kesemuanya itu disampaikan untuk menunjukkan tanda-tanda akan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dari ayat-ayat mengenai fenomena alam itulah para ilmuan mendapat inspirasi untuk mengembangkan ilmu kesehatan, perbintangan, fisika, kimia, geologi dan bidang keilmuan lainnya. Ilmuan-ilmuan Islam dari masa klasik sampai sekarang, yang mumpuni dalam berbagai bidang keilmuan juga dikenal sebagai pakar Al-Qur’an.”

“Dari kurun abad kedua dan ketiga hijriah sampai abad kesepuluh, ilmuan-ilmuan dalam bidang sains dan matematika adalah juga ulama-ulama yang ahli dalam bidang agama. Ilmuan seperti Jabir bin Hayyan, Syaikh Bahai, Ibnu Sina, Khaja Nasaruddin Thusi, Zakaria Razi dan lain-lain adalah ilmuan-ilmuan yang sampai sekarang menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Mereka adalah orang-orang yang mampu melaraskan antara ilmu Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu lainnya.” tambah ulama marja taklid Syiah tersebut.  

“Sayang dalam perkembangan selanjutnya, kemajuan dunia Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi malah beralih ke dunia Barat. Kita tahu, buku-buku mengenai ilmu medis Ibnu Sina, selama 300 tahun berada di tangan orang-orang Barat dan mereka kaji dan kembangkan di universitas-universitas di Eropa.” ungkap Ayatullah Makarim Shirazi.

“Kalau kita melihat hadits-hadits dari khazanah keilmuan Ahlul Bait maka kita temukan bahwa para Imam Maksum As memberikan penekanan dan penegasan agar umat Islam terus menuntut ilmu dan mengembangkannya, tidak hanya terpaku pada ilmu syariat namun juga ilmu-ilmu yang bersifat duniawi yang dapat digunakan untuk membangun kemajuan peradaban manusia.” tambahnya.

Ulama marja taklid Syiah tersebut pada bagian akhir penjelasannya mengatakan, “Ketika Eropa mengalami masa kegelapan, dunia Islam justru berkembang pesat dengan kemajuan ilmu sains yang mereka peroleh, itu disebabkan saat itu tidak ada pemisahan antara ilmu syariat dengan ilmu duniawi, sehingga duniapun berada dalam genggaman kaum muslimin, namun saat ini kemunduran terjadi dalam dunia Islam dalam masalah duniawi karena umat Islam memisahkan antara urusan duniawi dan akhiratnya. Fokus pada kepentingan akhirat namun mengabaikan kepentingan duniawi, adalah pemikiran yang sesat dan salah.”