Profesor Eyal Zisser, pakar masalah Asia Barat, sekaligus Wakil Rektor Universitas Tel Aviv, dalam artikelnya di surat kabar Israel Hayom menulis, "Sebagian orang kecewa dengan pemecatan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, dan mengatakan tidak ada orang lagi yang mengendalikan perang, tapi mereka akan menyadari bahkan di masa Gallant, Israel, tidak mengendalikan perang, sebaliknya perang lah yang menyeret Israel, ke sana dan kemari."
Ia menambahkan, Israel, sama sekali tidak punya peta jalan untuk perang Gaza dan Lebanon, dan tidak adanya strategi ini, membuatnya harus bertarung dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu operasi ke operasi lain, hal ini menyebabkan pencapaian tujuan perang menjadi sulit bagi Israel.
Zisser menjelaskan, "Ketidakpercayaan di antara Angkatan Bersenjata dan struktur politik memberikan dampak besar pada terbentuknya kondisi ini, dan kenyataannya Netanyahu, tidak ingin mengatakan kepada Angkatan Bersenjata apa sebenarnya tujuan asli perang, dan ke arah mana akan dibawa, mereka juga tidak bisa menduga apa yang Netanyahu inginkan, dan perang di Gaza, berlangsung seperti ini, Israel, pergi dari satu operasi ke operasi lain, sementara akhir dari perang tidak nampak."
"Di Lebanon, Israel, hampir setahun terjebak dalam kubangan perang ini, dan dapat disimpulkan secara umum, tidak adanya sebuah visi strategis komprehensif, membuat Israel, terjebak dalam perang atrisi berkepanjangan," ujarnya.
Sebagaimana diketahui Rezim Zionis Israel, memulai serangannya ke wilayah-wilayah di selatan Lebanon, sejak bulan September 2024 lalu.
Setelah dimulainya serangan ini, pasukan Hizbullah melancarkan banyak operasi militer ke berbagai posisi dan distrik-distrik Zionis, di utara Wilayah pendudukan, dan dalam beberapa hari terakhir mereka meluncurkan ratusan rudal ke markas-markas militer Israel, dan mengincar tentara Israel, serta peralatan lapis baja mereka di medan tempur. (HS)
342/