Menurut Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Daerah Selatan Beirut atau Daerah Beirut, adalah daerah yang dihuni oleh Syiah di selatan Beirut yang dikenal sebagai basis utama Hizbullah. Daerah ini telah beberapa kali diserang oleh Israel pada tahun 1982, 2006, dan 2024, yang mengakibatkan penghancuran infrastruktur dan bangunan tempat tinggal. Daerah Selatan adalah kawasan yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang miskin dan terpinggirkan, di mana 85 persen penduduknya adalah Syiah. Populasi Daerah Selatan diperkirakan mencapai satu juta, yang merupakan sepertiga dari total populasi Beirut. Karena perannya yang strategis sebagai basis perlawanan Syiah Lebanon, daerah ini selalu menghadapi konflik, kerusakan akibat perang saudara, dan juga serangan dari luar oleh Israel. Daerah ini dulunya dianggap pinggiran Beirut dan secara bertahap telah menjadi salah satu pusat ekonomi dan sosial penting di Beirut.
Daerah Selatan Beirut pada awalnya adalah daerah pertanian dan pedesaan yang dianggap sebagai tempat untuk menampung pekerja Beirut, dan kemudian struktur daerah tersebut berubah seiring pertumbuhan populasi, terutama setelah migrasi Syiah dari selatan Lebanon, Baalbek, serta migrasi Palestina. Sayyid Musa Sadr memberi daerah ini julukan "Daerah Para Terpinggirkan," partai-partai kiri menyebutnya "Daerah Kemiskinan," dan Hizbullah menamakannya "Daerah Kaum Mustadhafien." Sebagian besar penduduk daerah Dahiyeh Selatan setia kepada Hizbullah dan mereka dianggap sebagai pendukung utama dan penyokong Hizbullah.
Hizbullah Lebanon memainkan peran kunci dalam mendirikan dan mengelola pusat-pusat budaya dan keagamaan di Dahiyeh Selatan Beirut, dan dengan memanfaatkan husainah dan masjid, membantu memperkuat identitas religius dan politik komunitas Syiah di daerah ini. Dengan demikian, Dahiyeh Selatan Beirut mencerminkan identitas Syiah dan aktivitas sosial serta politik yang dipromosikan oleh Hizbullah Lebanon dan lembaga-lembaga lokal lainnya. Di antara tempat-tempat penting di daerah ini, Husainiyah Sayyid al-Syuhada a.s. adalah tempat diadakannya acara-acara Hizbullah dan pidato Sayyid Hasan Nasrallah, yang husainiyah ini hancur dalam serangan ganas Israel terhadap Lebanon.
Doktrin Dahiyeh
Untuk pertama kalinya, Jenderal Gadi Eisenkot, komandan wilayah utara Angkatan Pertahanan Israel, merujuk pada "Doktrin Dahiyeh" pada Oktober 2008. Doktrin ini menggunakan kekuatan yang tidak proporsional untuk menekan musuh, berdasarkan penghancuran yang luas dan menyebabkan kerugian besar pada properti dan infrastruktur sipil serta menciptakan penderitaan bagi warga sipil sebagai "alat pencegahan."
Berdasarkan doktrin ini, Angkatan Bersenjata Israel harus segera, tegas, dan dengan kekuatan yang tidak proporsional terhadap tindakan dan ancaman yang ditimbulkan, mengambil tindakan. Eisenkot secara terang-terangan menyatakan bahwa semua orang yang percaya pada ide perlawanan menjadi sasaran, dan nasib mereka adalah kematian dan kehancuran, tanpa ada belas kasihan atau pengabaian terhadap mereka. Media Ibrani pada waktu itu mengatakan bahwa Doktrin Dahiyeh bukanlah usaha teoritis seorang perwira, melainkan telah menjadi rencana resmi yang disetujui oleh pemerintah Israel.
Meskipun selama 18 tahun sejak perang 33 hari berlalu, Israel berkali-kali menggunakan metode kriminal ini, namun menurut para analis militer dan politik rezim ini, doktrin Dahieh tidak pernah berhasil memaksa mundur pasukan perlawanan dan menyerahkan diri mereka terhadap tuntutan tidak adil dari Zionis.
Ehud Eilam, analis dan peneliti di Kementerian Pertahanan rezim Zionis dalam bukunya yang berjudul Doktrin Militer Israel menyatakan: "Sementara beberapa jenderal Angkatan Bersenjata Israel berargumen bahwa pengeboman udara yang intens di Dahieh, kawasan Syiah di Beirut, adalah upaya yang berhasil untuk mencegah Israel, doktrin ini secara keseluruhan dianggap sebagai sebuah kegagalan."
Dahieh Selatan masih berdenyut
Sejak awal agresi udara rezim Zionis terhadap Lebanon, kawasan Dahieh Selatan Beirut telah menjadi sasaran lebih dari daerah lain di Lebanon. Kawasan ini terkait dengan Hizbullah Lebanon dan para pendukung gerakan ini, serta banyak pusat budaya, ekonomi, dan sosial yang bergantung pada Hizbullah berada di sana, sehingga menjadi sasaran serangan luas rezim Zionis. Zionis, menurut anggapan mereka, dengan membombardir kawasan ini dan menargetkan pusat serta markas Hizbullah dan membunuh Sekretaris Jenderal Hizbullah, berniat untuk menghancurkan Hizbullah. Ihab Jabbarin ahli masalah Israel di jaringan Al Jazeera mengatakan: "Israel dengan membunuh para komandan dan membombardir gudang amunisi Hizbullah mengklaim bahwa semuanya telah selesai, tetapi hari ini Hizbullah sedang menetapkan keseimbangan Haifa di hadapan Dahieh."
Situs web Ibrani "Walla" mengutip dari "Nir Kibiniss," seorang ahli Israel, menulis; "kami diberitahu bahwa Hizbullah telah kalah, tetapi operasi terbaru membuktikan bahwa Hizbullah memiliki kemampuan tinggi. Kebenaran yang menyakitkan adalah bahwa sejak ledakan pager dan peristiwa setelahnya, yang berubah adalah luasnya api Hezbollah yang sebelumnya hanya merusak utara, tetapi sekarang telah mencapai Haifa dan selatannya."
Syahid Sayyid Hassan Nashrallah di awal perang Badai Al-Aqsa telah memperingatkan rezim Zionis bahwa jika mereka menargetkan warga sipil Lebanon, pemukim Zionis akan menjadi sasaran, dan hari ini kita saksikan setelah serangan brutal rezim Zionis ke Dahiyeh, persamaan Haifa terhadap wilayah ini telah diletakkan di meja perlawanan Lebanon. Perlawanan Islam mengumumkan kepada musuh bahwa apa yang disaksikan di selatan Haifa hanyalah bagian kecil dari apa yang menunggu, jika mereka terus melakukan agresi terhadap bangsa Lebanon yang terhormat dan mulia."
Dahiyeh adalah tempat pengangkatan Sayyid Muqawamah
Dalam kondisi serangan rezim Zionis yang meningkat terhadap Dahiyeh, Syahid Seyyid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon yang berani, memimpin pertemuan untuk mengarahkan pejuang dan mengelola perang dari pusat komando Hizbullah di Dahiyeh, dan hingga saat terakhir ia memilih untuk hidup di samping rakyat Dahiyeh yang tangguh. Rezim Zionis menyerang pusat komando Hizbullah Lebanon dengan 80 ton bom penetrator untuk membunuh Syahid Sayid Hassan Nasrallah, dan darah Sayyid Syuhada perlawanan bercampur dengan darah rakyat tangguh di wilayah Dahiyeh.
Sejak saat itu, setiap hari berbagai video dari perlawanan masyarakat Syiah di daerah Dahiyeh selatan Beirut disiarkan, yang menegaskan kelanjutan jalan perlawanan dan mengibarkan bendera Labbaik Ya Hussain serta gambar syahid Sayyid Hassan Nasrallah di atas rumah-rumah yang hancur.