Tehran, Parstoday-Mohammad Mehdi Sayar, seorang penyair terkemuka Iran menulis puisi baru tentang kesyahidan Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas dan berlanjutnya pembunuhan anak-anak di Gaza oleh rezim Zionis.
Puisi dengan judul "Kemarahan dan kesedihan sebagai kabar baik pembebasan Quds" mengungkapkan perasaan dan kemarahan masyarakat terhadap peristiwa tersebut.
Ruang dan Isyarat
Puisi Mohammad Mehdi Sayar terdiri dari bagian-bagian berbeda yang masing-masing mengungkapkan kedalaman kesedihan dan kemarahan terhadap kondiso di Palestina dan kesyahidan Ismail Haniyeh.
Dengan menggunakan kata-kata dan gambaran yang kuat, penyair tersebut menggambarkan suasana hati rakyat Palestina dan perlawanan mereka terhadap penindasan yang dilakukan rezim Zionis.
Puisi ini memuat berbagai kutipan dari ayat Alquran dan peristiwa sejarah yang mungkin belum diketahui pembaca. Berikut adalah beberapa petunjuk dan tema tersebut:
Ayat pertama surat At-Tin, "Demi buah Tin dan Zaitun".
Ayat ini berasal dari Surah Tin yang mengenai pohon tin dan zaitun dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat ini adalah simbol perdamaian dan berkah, namun penyair menunjukkan konflik antara konsep perdamaian dan kekerasan di Palestina dengan merujuk pada sifat berdarah dari ayat-ayat ini.
Surah Isra
Surah ini, yang juga dikenal dengan nama lain seperti Surah Bani Israel, membahas topik-topik seperti Isra Miraj dan sejarah Bani Israel. Penyair merujuk pada surah ini menunjukkan keadaan Palestina saat ini dan kebangkitan yang dicita-citakan masyarakatnya.
Tangis duka untuk Ali Asghar
Penyair menyinggung peristiwa berdarah yang menimpa Ali Asghar, putra bungsu Imam Hussain yang syahid dalam peristiwa Karbala oleh pasukan Yazid dan Bani Umayyah yang dikaitkan dengan penderitaan rakyat Palestina, termasuk nayi dan anak-anak.
Janji Allah pasti
Kalimat “Janji Allah pasti terkabul” mengacu pada keimanan masyarakat terhadap pemenuhan janji Allah swt.
Duka di Masjid Al-Aqsa
Penyair menyinggung kondisiMasjid Al-Aqsa yang penuh kekerasan dan berdarah pada malam pengeboman.
Dalam puisi ini, penyair menggambarkan intensitas dan kedalaman kesedihan dengan mengulang-ulang kata dan frasa serupa. Gambar-gambar yang penuh darah dan kekerasan menunjukkan kondisi Masjid Al-Aqsa dan kekerasan yang terus terjadi. Hati rakyat Palestina telah tertinggal di bawah reruntuhan malam-malam pengeboman dan kesabaran mereka telah berakhir.
Kabar pahit dan sedih, panas terik, dan jantung berdebar-debar masyarakat Palestina yang berteriak minta tolong dan diselamatkan, tergambar dengan baik dalam puisi tersebut.
Penyair merujuk pada gambaran berdarah dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan tangisan bayi-bayi Palestina, yang diibaratkan seperti makam Ali Asghar, dan menghubungkan kedua peristiwa menyakitkan itu menjadi satu.
Perpaduan rasa sedih dan marah di hati masyarakat Palestina serta kesiapan mereka untuk membalas dendam juga tersurat dengan baik dalam puisi ini. Keyakinan dan harapan masyarakat terhadap janji Tuhan bahwa tentara mereka akan datang demi kemerdekaan adalah bagian penting lainnya dari puisi ini.
Berikut teks lengkap puisi tersebut:
Kita galau, sedih, cemas
Mirip dengan makan malam berdarah di Masjid Al-Aqsa
Hati kami berada di bawah reruntuhan pada malam-malam pengeboman
Ya Tuhan, kami tidak tahan, jangan biarkan kami...
Beritanya pahit dan menyedihkan, merah dan berdarah, panas dan berat
Detak jantung kami melambat dan lambat
Lihatlah darah yang menetes dari ayat "wa tin wa Zaitun"
Lihatlah darah yang menetes dari baris-baris Surat Isra
Kembali terdengar isak tangis bayi dan Ali Asghar
senyum anak-anak di siang Asyura
Kami menangis melihatnya dan di mana martabat kita, ya, dimana ?
Kesedihan kami tiada habisnya, kemarahan kita juga tidak ada habisnya
Mata kami berkaca-kaca, tatapan kami dipenuhi amarah
Bilah balas dendam kita akan disiram dengan darah
Kemarahan dan kesedihan ini adalah kabar baik dari kebebasan Quds
Tentara kita akan datang
Apakah kita beristirahat? Kami kqan membalas darah yang tumpah
Jika mereka membunuh tamu di pelukan kita hari ini
Telah datang syahid baru, Husain bin Ali
Bukalah tanganmu terhadap orang-orang yang terbunuh jauh dari tanah air ini