11 Juli 2024 - 15:48
Pezeshkian Tegaskan Dukungan Kuat terhadap Perlawanan, Zionis Putus Asa dengan Hasil Pilpres Iran

Keberhasilan terselenggaranya pemilu presiden Republik Islam Iran periode ke-14, sebagaimana pemilu sebelumnya, telah mengecewakan kalangan Zionis dan media afiliasinya.​​​​​​

Tehran, Parstoday- Menyusul kemenangan Masoud Pezeshkian sebagai presiden terpilih pada pemilu presiden ke-14, banyak media Zionis bereaksi dengan merefleksikan peristiwa ini dan, secara umum mereka mengusung isu klise seperti kemungkinan meningkatkan hubungan Iran dengan dunia Barat, kebangkitan kembali perjanjian nuklir dan kemenangan kandidat yang moderat dan reformis.

Misalnya, surat kabar Haaretz menulis tentang hal ini, "Pezeshkian adalah reformis pertama yang berkuasa setelah tahun 2005, dan ia diharapkan menerapkan kebijakan luar negeri pragmatis terhadap Barat dan memulihkan perjanjian nuklir."

Menurut Pars Today, jelas bahwa Zionis dan lingkaran media afiliasinya, yang selalu mengikuti kebijakan tekanan maksimum dan isolasi terhadap Iran, berharap masyarakat Iran tidak akan menyambut pilpres karena beberapa masalah ekonomi negara ini. Dengan cara ini bisa memaksa pemerintah Iran untuk mengubah kebijakan regional dan internasionalnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Zionis dan elemen afiliasinya  berusaha memprovokasi kandidat lain dengan membuat konten di dunia maya atas nama memihak salah satu kandidat.Mereka menyulut polarisasi dan upaya untuk menciptakan perpecahan dan perbedaan, serta membawa para pendukung kandidat ke jalan dan menciptakan konflik di negara ini.

Hal ini terjadi di saat tren anti-Iran yang memboikot pemilu gagal dan sikap presiden terpilih Iran menunjukkan bahwa kebijakan makro dan strategis Iran bukan hanya tidak akan berubah, namun akan terus berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar.

Sehubungan dengan hal tersebut, Massoud Pezeshkian menulis dalam pesannya yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah di Lebanon dengan mengatakan, "Republik Islam Iran selalu mendukung perlawanan masyarakat di kawasan terhadap rezim tidak sah Zionis. Mendukung perlawanan berakar pada kebijakan fundamental Republik Islam Iran, cita-cita Imam Khomeini dan pedoman Imam Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, dan akan terus berlanjut dengan kekuatan,".

Jelas sekali bahwa kebijakan luar negeri Republik Islam Iran didasarkan pada penolakan terhadap segala bentuk dominasi dan penerimaan dominasi, menjaga independensi menyeluruh dan integritas wilayah negara, membela hak-hak seluruh Muslim dan non-Muslim yang berkomitmen melawan hegemoni global dan menjaga hubungan damai timbal balik dengan negara-negara yang bersahabat dan tidak memusuhi.

Dalam hal ini, Republik Islam Iran berada pada posisi yang sesuai dan efektif di bidang politik luar negeri dengan menjalankan kebijakan lingkungan sekitar, mendukung poros perlawanan, multilateralisme, bergabung dengan mekanisme internasional seperti BRICS dan SCO.

Inilah alasan mengapa Zionis dan pendukungnya di Barat, terutama pemerintah AS, berputus asa atas hasil pemilu Iran baru-baru ini, dan terpilihnya Masoud Pezeshkian sebagai presiden baru Iran, karena hasil pemilu ini merupakan kegagalan lain bagi mereka untuk memboikot pemilu dan mengubah posisi Iran, terutama dukungan Tehran terhadap perlawanan.(PH)