27 Mei 2024 - 15:20
Baraah dalam Ibadah Haji dalam Perspektif Ayatullah Khamanei

Di awal pemaparannya, Ismail Amin yang membawakan materi “Haji dan Baraah dalam Perspektif Ayatullah Khamanei” mengatakan, “Salah satu dimensi penting dari haji adalah aspek sosialnya, bahkan semua peribadatan dalam Islam memiliki dimensi sosial yang dominan.”

Menurut Kantor Berita Internasional ABNA, menyambut masuknya musim haji, Kantor Berita Internasional ABNA menggelar pertemuan ilmiah “Haji, Simbol Baraah dari Kelompok Penindas” dengan mengundang dua narasumber, Ismail Amin, MA dan Karamah Abu Bakar, MA, keduanya adalah kandidat doktor dari Universitas Internasional Almustafa Iran.

Di awal pemaparannya, Ismail Amin yang membawakan materi “Haji dan Baraah dalam Perspektif Ayatullah Khamanei” mengatakan, “Salah satu dimensi penting dari haji adalah aspek sosialnya, bahkan semua peribadatan dalam Islam memiliki dimensi sosial yang dominan.”

“Salat misalnya. Kerap dianggap bahwa salat adalah ibadah ritual yang begitu privat dan hanya menyangkut antara hamba dan Khalik. Padahal, salat juga memiliki dimensi sosial. Misalnya, dalam ayat Al-Quran disebutkan, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya mereka yang salatnya khusyuk dan benar, tentu bisa mencegahnya dari berbuat zalim pada orang lain. Dan ini jelas, sangat berkaitan dengan kehidupan sosial. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak menzalimi orang lain dengan tidak berbuat keji dan mungkar tentu akan tercipta tatanan sosial yang baik.” Tambahnya.

“Begitupun dengan puasa. Puasa kerap disebut, ibadah yang hanya hamba dan Tuhan yang tahu. Namun efek dari puasa sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw adalah melahirkan rasa empati kepada orang lain, terutama kepada golongan orang miskin. Lapar dan dahaga pada puasa akan membuat kita empati pada apa yang dirasakan oleh mereka yang miskin saat mereka kekurangan makan.Sekali lagi, bukankah ini adalah dimensi sosial juga?.” Lanjutnya.

Mahasiswa Ilmu Pendidikan Islam ini menambahkan, “Pada zakat, ini sangat jelas dimensi sosialnya. Sebab zakat diwajibkan, agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya. Agar mereka yang berkekurangan dan membutuhikan bisa terbantu melalui zakat dan sedekah. Begitupun dengan haji. Haji juga memiliki dimensi sosial yang tidak bisa diabaikan.”


Baraah dalam Ibadah Haji

Berikut poin-poin penting yang disampaikan mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa kelahiran Makassar ini dalam pertemuan ilmiah tersebut.

“Satu hal yang kerap dilupakan umat Islam saat menunaikan ibadah haji adalah adanya konsep baraah dalam ibadah haji. Ayatullah Khamenei dalam pesannya kepada jemaah haji, setiap tahunnya sering mengingatkan adanya baraah ini. Baraah adalah berlepas diri. Islam tidak hanya cukup dengan berwala atau menunjukkan loyalitas, namun juga harus menyatakan sikap berlepas diri. Jika kita menyatakan cinta dan loyal pada Rasulullah, maka saat yang sama kita harus menyatakan kebencian dan permusuhan pada apa yang dibenci dan dimusuhi Rasulullah. Apa yang Rasulullah saw berlepas diri darinya, maka kita juga wajib berlepas diri darinya. Inilah konsep baraah itu."

“Ayatullah Khamenei dalam pesan hajinya menyinggung langkah musuh-musuh Islam yang mencoba melemahkan umat Islam dengan berbagai cara, termasuk dengan menjadikan haji sebagai ibadah individu saja, dan tidak memiliki dimensi sosial sama sekali. Termasuk menghilangkan baraah dalam prosesi haji ini.”


“Ayatullah Khamanei mengatakan, haji memiliki karakteristik sebagai manifestasi dari perpaduan antara spiritualitas dan politik, spiritualitas dan materialitas, juga dunia dan akhirat. Di sisi lain, Pemimpin Besar Revolusi Islam Islam Iran ini menunjukkan dimensi sosial ibadah haji, dan menyerukan kepada semua orang untuk menjaga persatuan dan solidaritas, serta kewaspadaan umat Islam melawan berbagai bentuk sabotase, perpecahan dan hasutan musuh-musuh Islam.”


Ayatullah Khamenei mengatakan, "Haji adalah manifestasi dari umat Islam, contoh yang paling jelas dan dalam. Dari mana-mana umat Islam berkumpul bersama dan betapa luar biasa kesempatan untuk berbicara satu sama lain, berempati satu sama lain, saling mendengar rasa sakit satu sama lain dan untuk mengungkapkan simpati satu sama lain. Hal ini menjadi satu titik yang bertentangan dengan kehendak musuh-musuh Islam di sepanjang masa, khususnya pada periode ini ketika musuh memprovokasi umat Islam supaya berbaris saling menyerang satu sama lain. Lihatlah perilaku Amerika yang sombong dan kriminal saat ini. Kebijakan utamanya terhadap Islam dan Muslim adalah menghasut perang Muslim harus waspada dan menyadari kebijakan jahat ini. Haji adalah dasar bagi kesadaran, dan ini adalah filosofi baraah dalam ibadah haji dari kaum musyrik dan sombong."


“Baarah atau berlepas diri dari orang-orang Musyrik secara tegas sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan merupakan salah satu aspek terpenting dari ibadah haji. Dengan demikian, Baraah adalah konsep Islam yang diingatkan oleh Ayatullah Khamenei kepada dunia.” 



“Rahbar juga memandang Baraah terhadap orang-orang Musyrik sebagai berkah bagi ibadah Haji. Ia  mengungkapkan, "Kami percaya, berkat bimbingan Imam Khomeini, Konsep baru dari ibadah haji telah jelas bagi orang-orang Iran, dan haji disertai dengan gerakan pembebasan melawan para musyrik, dan pada saat yang sama haji disertai dengan persatuan umat Islam,".


Haji merupakan manifestasi dari ayat yang artinya "Keras terhadap orang-orang kafir, yang berkasih sayang terhadap sesama muslim," Di bagian lain, Rahbar mengatakan, "Baraah berarti membenci semua kekejaman, penindasan, keburukan, merusakan dan kekejaman kapan saja, dan di mana saja. Berdiri menghadapi segala bentuk paksaan dan pemerasan yang dilkukan kubu arogan saat ini. Salah satu berkah haji yang luar biasa adalah menjadi kesempatan bagi negara-negara Muslim yang tertindas. Hari ini, Baraah terhadap Musyrik dan kekufuran, terutama ditampilkan Amerika Serikat, berarti membenci penindas dan penyulut perang. Ini hanya beberapa dari berkah haji Ibrahim yang diserukan Islam murni untuk kita semua".


“Dengan situasi sekarang, dimana rezim Zionis tidak juga berhenti melakukan kejahatan di Gaza dan Palestina, maka baraah dan menentang kezaliman itu harus diproklamirkan. Bayangkan jika jutaan jamaah haji di Makah nanti, di tengah-tengah prosesi ibadah haji, serentak menyatakan perlawanan dan protes terhadap kejahatan Zionis dan menentang kebijakan Amerika yang terus memberikan dukungannya pada Israel, maka ibadah haji akan menjadi ibadah yang disegani dan ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Mereka akan khawatir, bahwa haji akan menjadi medium bagi umat Islam menjadi melek politik dan tidak abai pada isu-isu sosial umat Islam terutama mengenai Palestina.”