12 Mei 2024 - 16:15
Psikolog Inggris: Mayoritas Orang Israel Sakit Jiwa Akut, dan Narsisme

Sebagian besar orang Israel, mendukung berlanjutnya perang, dan mereka meyakini bahwa pembunuhan massal luar biasa, dan kejahatan-kejahatan perang di Gaza, bisa dibenarkan.

Catatan di bawah ini adalah rangkuman dari buah pikiran Dr. Emad Moussa, psikolog Inggris, keturunan Palestina, Para pemimpin masyarakat adalah produk dari sistem keyakinan, identitas sosial, moral, dan orientasi emosional masyarakatnya. Mereka tidak bekerja kecuali mendapat dorongan, disetujui atau minimal ditoleransi, dari sisi sosial. Mayoritas orang Israel, marah kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan secara pribadi menganggapnya tidak mampu bersepakat dengan Hamas, dan melemahkan apa yang disebutnya sebagai demokrasi Israel, karena kelemahan keamanan pada 7 Oktober 2023 lalu. Akan tetapi pada saat yang sama, mayoritas pemukim Zionis, ini juga lah yang mendukung kebijakan-kebijakan Netanyahu, terhadap rakyat Palestina. Selain itu, sebagian besar orang Israel, mendukung berlanjutnya perang, dan meyakini bahwa pembunuhan massal luar biasa, serta kejahatan-kejahatan perang di Gaza, dapat dibenarkan. Media sosial Israel, terus dipenuhi oleh slogan-slogan rasisme, genosida, dan film-film yang memperlihatkan pesta serta kegembiraan atas pembunuhan warga sipil Palestina, termasuk ribuan anak-anak. Menurut Chris McNeil, yang meliput genosida di Rwanda, istilah-istilah yang digunakan orang-orang Hutu, dalam membantai Tutsi, hari ini digunakan oleh orang-orang Israel. Sebagian besar orang Israel, sangat menentang pendirian negara Palestina.  Realitas Kekerasan Orang-Orang Israel Dalam hal ini ada tiga faktor yang perlu dipikirkan terkait orang-orang Israel, pertama, mereka menganggap diri mereka korban, kedua mengidap narsisme, dan ketiga, menganggap korbannya, yaitu orang-orang Palestina, sebagai bukan manusia. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah, Zionisme, didirikan di atas konsep terbebasnya kaum Yahudi, dari posisi sebagai korban yang diklaimnya selama bertahun-tahun, dan kelahiran Israel, dianggap sebagai kebangkitan para korban. Orang-orang Israel, adalah satu-satunya penjajah modern dalam sejarah yang menganggap dirinya sebagai korban. Klaim ini membuka kesempatan kepada mereka untuk merawat kebencian terhadap orang-orang Palestina. Dalam rangka memperkuat pemikiran aneh semacam ini, orang-orang Israel, terus menerus mengatakan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah masyarakat pilihan Tuhan. Pada tahun 2023 dalam sebuah jajak pendapat, mayoritas orang Yahudi Israel, memberikan jawaban positif saat ditanya apakah Anda meyakini bahwa orang-orang Yahudi, sebagaimana disebutkan dalam kitab suci, adalah kaum pilihan Tuhan. Pada tahun 2016, 61 persen orang-orang Israel, meyakini bahwa Tuhan, telah menganugerahkan tanah Palestina, kepada mereka. Di sisi lain, untuk membenarkan pembunuhan massal atas rakyat Palestina, mereka menganggap warga Palestina, bukan manusia. Hal ini dilakukan sehingga jika ada orang bertanya mengapa Anda, menyiksa orang-orang Palestina, sedemikian keji, mereka akan berkata bahwa kami adalah kaum pilihan Tuhan, dan orang-orang Palestina, bukanlah manusia. Artinya bahwa orang-orang Palestina, sama sekali tidak punya hak sebagai manusia, dan Israel, dapat membunuh mereka sebagai "binatang manusia" secara massal, dan menduduki tanah mereka tanpa ada seorang pun yang berhak memberikan hukuman. Maka dari itu ketiga faktor di atas telah menyebabkan komunitas Israel, menjadi narsistik, yaitu gangguan mental yang membuat pengidapnya merasa sangat penting, dan merasa harus dikagumi. Mereka sangat ingin disanjung, dan sangat tidak memahami perasaan orang lain. Dari sinilah mereka akan dengan mudah, tanpa merasa bersalah, dan merasa berhak untuk melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Palestina. Dalam pandangan psikologis, sebuah masyarakat yang memiliki tanda-tanda penyakit semacam narsisme, merasa lebih unggul, dan menganggap dirinya berhak melakukan apa saja yang diperlukan untuk menjaga keamanannya, tanpa harus mempertimbangkan masalah apa pun termasuk moral. Oleh karena itu, PM Benjamin Netanyahu, dan kelompok sayap kanan esktrem Israel, leluasa mengeluarkan perintah pembunuhan terhadap 14.000 anak-anak, dan menghancurkan ratusan rumah di Jalur Gaza. Kita harus tahu bahwa Netanyahu, mendapatkan dukungan mayoritas Yahudi Israel, dalam melakukan pekerjaan ini. Kesimpulannya, Netanyahu, adalah representasi dari sebauh masyarakat yang sakit, dan bukan hanya dia yang sakit. Keterangan: Dr. Emad Moussa, adalah peneliti dan penulis di bidang psikologi politik yang memusatkan perhatian pada masalah Israel dan Palestina. Ia punya pengalaman di bidang hak asasi manusia, jurnalisme, dan sekarang selain menjadi penasihat sebuah kelompok think tank di AS, secara rutin bekerja sama dengan beberapa media, dan kampus. (HS)