11 Mei 2024 - 17:12
Pengenalan pada Wilayah dan Mazhab Ahlulbait as adalah Nikmat Terbesar

Ulama terkemuka Syiah dan anggota senior Dewan Tertinggi Islam Mali bertemu dan berbincang dengan Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as Sabtu (11/5).

Menurut Kantor Berita Internasional Ahlulbait as, Hujjatul Islam wa Muslimin, Sayid Muhammad Shawala Haidara, seorang ulama Syiah terkemuka dan anggota senior Dewan Tertinggi Islam Mali, dalam perjalanannya ke kota Qom Iran, pada Sabtu siang (11/5) bertemu dan berbincang dengan Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as Ayatullah Reza Ramezani.

Ayatullah Reza Ramezani setelah mendengarkan penyampaian Sayid Shawala Haidara berkata: “Allah telah mencerahkan hati anda dengan cahaya wilayah sehingga telah menjadi salah seorang pembawa berita Islam dan mazhab Syi’ah."

Ayatullah Ramezani lebih lanjut berkata: “Anda dan bersama mubaligh lainnya di Mali harus memainkan peran Sayid Jafar bin Abi Thalib di negara kalian. Dalam kitab sejarah disebutkan bahwa ketika raja Abyssinia bertanya kepada Jafar bin Abi Thalib, ayat apa tentang Yesus dan Maria yang disebutkan dalam kitabmu? Dia membaca ayat Surah Maryam dan air mata mengalir dari mata Raja Abyssinia. Anda juga harus membuat air mata kebahagiaan mengalir dari mata umat Kristiani di negara anda dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran.”

Guru besar Hauzah Ilmiah ini juga mengatakan mengenal wilayah dan mazhab Ahlulbait as dengan menyebutnya sebagai nikmat terbesar. Ia berkata: “Salah seorang Syiah yang miskin mendatangi Imam Shadiq as,mengeluhkan kemiskinannya dan meminta bantuan. Imam bersabda beberapa kali bahwa dia tidak miskin dan mengatakan: “Jika salah satu orang kaya berkata, Aku akan mengisi bumi dengan perak untukmu, dan aku memintamu untuk menghilangkan persahabatan dan perwalian Ahlulbait Nabi dari hatimu dan sebagai gantinya kau akan mendapat persahabatan dan cinta untuk musuh mereka. Apakah kamu rela dengan itu?.” Orang miskin itu berkata: “Tidak, wahai putra Rasulullah, sekalipun dia memenuhi dunia dengan emas dan memberikannya padaku! Imam Shadiq as berkata, “Jadi kamu tidak miskin, orang miskin adalah orang yang tidak memiliki apa yang kamu miliki.”

“Penting untuk menyampaikan ajaran Ahlulbait as secara komprehensif, yaitu bagian individu, sosial, irfan dan politiknya kepada khalayak. Dalam perjalanan saya ke Afrika Timur, saya katakan bahwa Anda adalah keturunan Bilal Abyssinia. Bilal menganggap perkataan Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat, dia tidak meminta mukjizat apapun darinya dan menerima Islam tanpa mukjizat. Nabi Muhammad saw pernah bersabda dalam masyarakat di mana orang kulit hitam diperbudak: Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab, hitam dan putih kecuali ketakwaan. Orang-orang musyrik banyak menyiksa Bilal dan meletakkan batu yang berat di perutnya supaya dia menghina Nabi Muhammad dan keluar dari Islam, namun dia berulang kali mengulangi zikir Ahad dan berkata: Saya tidak akan kembali ke kemusyrikan dan penyembahan berhala.”

Ayatullah Ramezani menjelaskan dua prinsip Ahlulbait as: “Ahlulbait as memiliki dua prinsip negatif yaitu tidak ada ketidakadilan dalam Islam; Artinya, seseorang tidak boleh ditindas dan tidak boleh menindas. Kehendak yang sama dari Imam Ali as yang mengatakan: "Jadilah musuh bagi penindas dan penolong bagi yang tertindas." Selalu menjadi musuh bagi penindas dan penolong bagi yang tertindas. Oleh karena itu, pembelaan Republik Islam Iran terhadap Palestina, Hamas dan rakyat tertindas di Gaza berada pada arah ini, dan Iran membela rakyat tertindas di dunia sebagai wacana Syiah dan Ahlulbait as. Saat ini, untuk menghadapi penindasan dan genosida rezim Zionis, bahkan suara rakyat dan mahasiswa Amerika pun menyuarakan itu, dan ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hati nurani sebagia manusia.”

Ayatullah Ramezani lebih lanjut mengatakan tentang hakikat ajaran Ahlulbait as: “Ajaran Ahlulbait as selaras dengan hati nurani manusia, sehingga menjawab di dunia dan dunia menerimanya.”

Di bagian akhir penyampaiannya, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as memberikan rekomendasi kepada Hujjatul Islam Sayid Shawala Haidara dengan mengatakan: “Perbanyaklah belajar Al-Qur'an, Nahj al-Balagha, dan Sahifah Sajjadiyah, karena sumber-sumber ini akan memperkaya Anda sehingga Anda dapat berbicara dan berdiskusi dengan para ilmuwan dan pemikir lain secara langsung.”