4 Juni 2023 - 07:22
Spirit Revolusi Imam Khomeini, Tidak Ada yang Bisa Mencegah Guncangannya Sampai ke Indonesia

Imam Khomeini dengan Republik Islam Irannya telah menghidupkan kembali kehormatan Islam di mata Barat yang angkuh dan arogan, yang saat itu bahkan sampai saat ini juga, banyak negara Islam atau masyarakat Islam yang memilih tunduk dan mengikut pada Barat.

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam rangka memperingati wafatnya Imam Khomeini yang ke 34 tahun ini, redaksi ABNA menurunkan hasil wawancara dengan Syahrul Ramadhan, alumni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang saat ini melanjutkan studi S3 Pemikiran Islam Kontemporer di Universitas Internasional Almustafa Teheran Republik Islam Iran. Saat ini, aktivis kader hijau Muhammadiyah ini menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Republik Islam Iran  (PCI Muhammadiyah Iran) masa jabatan 2023-2025. 

Apa anda mengenal sosok Imam Khomeini? Apa yang anda ketahui mengenai beliau?

Meskipun tidak pernah bertemu karena memang tidak seangkatan dan terpisah secara geografis, tapi sebagai aktivis Islam yang menggali beberapa referensi keislaman kekinian tentu mengenal nama Imam Khomeini. 

Meski saya tidak pernah membaca buku beliau langsung. Tapi saya kerap menemukan nama dan pemikiran beliau dikutip dari beberapa buku yang saya baca. Seperti buku karya Murtadha Muthahari. Sehingga saya rasa kalau aktivis Islam yang akrab dengan buku-buku dan pemikiran keislaman -termasuk saya- maka tentu nama Imam Khomeini akan sangat familiar. 

Yang saya ketahui dari beliau. Tentu banyak tokoh dan pemimpin Islam yang lain di dunia kontemporer ini, karena Iran bukan satu-satunya negara dengan mayoritas penduduk muslim. Hanya saja Imam Khomeini di mata saya memiliki ciri khas yang menonjol, yaitu kesederhanaannya. Ia dikenal hidup zuhud. 

Biasanya pemimpin yang anti kemapanan itu hidup di negara-negara komunis, khususnya di Amerika Latin. Menariknya, beliau ini hidup di negara Islam. Kita tahu mayoritas negara Islam di Timur Tengah terutama yang masih berbentuk kerajaan, -maaf- rata-rata pemimpin atau kepemimpinannya sangat elit, bermegah-megahan. Sementara Imam Khomeini di lingkungan yang sama, tapi bisa tampil unik sebagai pemimpin. Meski menjadi pemimpin di sebuah negara yang dihormati sampai sekarang, tapi hidup sangat sederhana. 

Setelah memenangkan perlawanan atas kekuasaan Syah Pahlevi dan diangkat menjadi pemimpin di Iran, beliau malah memilih tinggal di rumah yang sederhana dan itupun dikontrak. Rumah orangtua saya sendiri malah lebih besar dari rumah beliau, sementara keluarga kami bukan siapa-siapa. Dari sini kekaguman saya muncul, meski tidak pernah bertemu, baru sekedar pernah menziarahi makamnya dan juga pada momen haulnya ini, mengunjungi bekas kediamannya di Teheran. 

Menurut anda, apa yang diperjuangkannya bermanfaat bagi dunia Islam? atau hanya dirasakan secara lokal saja oleh rakyat Iran dan komunitas Syiah saja?

Apa yang diperjuangkan Imam Khomeini oleh beberapa tokoh Muhammadiyah juga pernah memberikan analisanya. Contoh ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni pernah mengcaption Imam Khomeini dan Revolusi Islam Iran. Menurutnya, saat Imam Khomeini berhasil tampil sebagai pemimpin kelas dunia, peradaban Islam menjadi punya kehormatan kembali. 

Imam Khomeini dengan Republik Islam Irannya telah menghidupkan kembali kehormatan Islam di mata Barat yang angkuh dan arogan, yang saat itu bahkan sampai saat ini juga, banyak negara Islam atau masyarakat Islam yang memilih tunduk dan mengikut pada Barat. Namun Ayatullah Imam Khomeini berdiri dengan negara Islam Irannya, menaikkan harkat dan martabat umat Islam. 

Tentu itu memberi pengaruh dan dampak besar dalam menguatkan spirit perlawanan terhadap penindasan di dunia Islam. Sehingga apa yang telah dilakukan Imam Khomeini, tidak hanya masyarakat Iran saja yang merasakan manfaatnya. Tentu kita tahu, bahwa reformasi di Indonesia sedikit banyaknya terpengaruhi oleh kemenangan Revolusi Islam Iran. Prof. Amin Rais, yang dikenal sebagai Bapak Reformasi, meskipun kerap mengutip pemikiran Ali Syariati bahkan menerjemahkan bukunya untuk menjadi bahan bacaan aktivis reformasi, tentu Ali Syariati tidak bisa lepas dari pengaruh Imam Khomeini. 

Waktu saya kecil, dan diceritakan oleh ayah saya, bahwa saat itu, semua aktivis pergerakan Islam, itu membicarakan Iran semua. Yang tentu saja bukan sebagaimana saat ini Iran disorot, yang lebih kepada membahas mengenai fitnah-fitnah yang di dapat Iran, seperti isu Syiah dan sebagainya. Tapi saat itu, pasca revolusi dari tahun 80 sampai 90-an, sangat banyak dibicarakan mengenai pemikiran revolusi Imam Khomeini dan Ali Syariati, dimana saat itu, kondisi Indonesia kurang lebih sama dengan yang dihadapi Iran sebelum revolusi. Di situlah mungkin banyak pemikir dan aktivis Indonesia yang terwarnai dengan pemikiran Imam Khomeini yaitu ide perlawanan terhadap penindasan dan hegemoni Barat. 

Saya rasa banyak bukunya yang telah diterjemahkan, begitupun murid-muridnya diantaranya Ayatullah Muthahari. Dan ini adalah buah dari kemenangan revolusi Islam Iran. Saya yakin, jika saat itu revolusi Islam tidak menang, maka buku-buku dan pemikiran-pemikiran itu tidak akan sampai ke Indonesia atau diminati oleh masyarakat Indonesia, khususnya aktivis Islam. 

Pengaruh kemenangan Revolusi Islam Iran lainnya terhadap masyarakat Indonesia adalah makin maraknya penggunaan jilbab. Ini saya dengar dari penjelasan Prof. Quraish Shihab, dan itu juga saya baru tahu hal ini dari pemaparan beliau. Awalnya kan sebelum revolusi Islam Iran, penggunaan jilbab di masyarakat Indonesia masih kurang populer, dan bahkan istri-istri ulama berkerudungnya biasa, seperti sekedar diselempangkan. Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kemenangan revolusi Islam Iran itu mempengaruhi cara berjilbab muslimah Indonesia. 

Awalnya saya mengira, penggunaan kerudung besar berasal dari pengaruh Arab yang membawa ajaran Salafi masuk ke Indonesia. Ternyata Prof. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa berkerudung besar saat ini di Indonesia, adalah pengaruh dari gelombang revolusi Islam Iran yang gaungnya sampai ke Indonesia. Saat itu, masyarakat Indonesia menggandrungi kemenangan revolusi Islam Iran, sehingga simbol-simbolnya pun ikut digandrungi. Ketika awal saya datang ke Iran, dan melihat  busana tradisional muslimah-muslimah Iran, saya semakin yakin bahwa pengaruh revolusi Islam Iran terhadap masyarakat Indonesia sampai tahap itu.

Menurut anda bgaimana komunitas muhammadiyah selama ini memandang Imam Khomeini?

Ya tentu perlu dipisahkan antara pandangan yang murni berbasis data dan akademik, dengan pandangan yang ngawur. Dan tentu saya hanya akan membahas pandangan yang berbasis data dan akademik. Prof. Syafiq Mughni, dan beberapa tokoh Muhammadiyah lainnya pernah mengkaji atau meneliti mengenai Imam Khomeini, terkhusus tentang peradaban Islam dengan berbasis data dan akademik. Tentu akademisi muslim di Muhammadiyah memandang Imam Khomeini sebagai orang yang banyak menginspirasi, atau pemimpin yang mampu membawa dan mengangkat harkat dan martabat umat Islam di hadapan dominasi dan hegemoni Barat. 

Saat itu Islam seakan-akan umat yang terbelakang, tapi diangkat oleh Imam Khomeini menjadi umat yang memiliki harkat dan martabat. Tentang kesederhanaan, Imam Khomeini itu di mata tokoh-tokoh Islam Indonesia, terkait mazhab itu bukan sesuatu yang penting, dengan akhlaknya Imam Khomeini, pembahasan perbedaan mazhab itu menjadi tidak relevan. Semua tertutupi oleh indah dan sederhananya akhlak beliau. Ini yang menurut saya sulit sekali mencari pemimpin seperti beliau dalam hal sisi kesederhanaan dan keindahan akhlak. 

Apa anda pernah mmbaca karya-karya Imam Khomeini? menurut anda bagian mana dari pemikiran Imam Khomeini yg sangat berkesesuaian dengan cita-cita Muhammadiyah?

Saya pernah membaca beberapa buku mengenai pemikiran beliau, terutama tentang wilayatul fakih. Saya juga membaca buku Murtadha Muthahari dan buku-buku lainnya yang menjelaskan pemikiran Imam Khomeini. Tentu kesimpulannya, banyak yang sama dari yang dicita-citakan Imam Khomeini dan Muhammadiyah. Tentu yang pertama, titik temu antara dua identitas ini, Imam Khomeini dengan Republik Islam Irannya, dan KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, adalah keduanya tidak mau Islam itu jatuh pada keterbelakangan. Meski keduanya berangkat dari titik yang berbeda, yaitu Imam Khomeni berangkat dari kondisi masyarakat yang tertindas dan KH. Ahmad Dahlan berangkat dari masyarakat Islam yang terlena dengan keterbelakangan, namun keduanya melihat umat Islam harus diselamatkan secara progresif.

Kedua, ingin menggunakan atau menjadikan Islam sebagai spirit yang memajukan peradaban. Meskipun obyeknya berbeda. Imam Khomeini cakupan obyeknya  negara, kalau Muhammadiyah obyeknya  adalah masyarakat dengan bersandar pada tujuan Muhammadiyah yaitu menciptakan masyarakat Islam, bukan mendirikan negara Islam. Tapi tujuannya sama. Tidak mau Islam terbelakang, dan bagaimana memajukan umat Islam. 

Caranya adalah diantaranya tidak bergantung dan membeo pada pemikiran-pemikiran Barat, melainkan menyerap ajaran-ajaran Islam. Misalnya KH. Ahmad Dahlan mengambil inspirasi dari surah Al-Maun dan Al-Ashr, tapi juga tidak menjauhi kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan. Ada kelompok Islam, yang ingin kembali kepada Alquran dan sunnah dengan menjalankan ajaran Islam yang menurutnya murni tapi menyingkirkan kemajuan-kemajuan zaman. Kita lihat Iran hari ini, meski tetap memegang tradisi keislaman mereka tetapi juga mengejar bahkan melampaui kemajuan itu dengan prestasi-prestasi negaranya. Iran dan Muhammadiyah sama-sama tipikal ini, kembali dengan konsisten pada ajaran Islam tapi tidak meninggalkan kebutuhan dunia dan kemajuan zaman. 

Ada yang mengatakan revolusi yang dipimpin Imam Khomeini hanya menguntungkan Iran dan kelompok Syiah saja, bagaimana menurut anda? dan jika tidak benar bagaimana anda membantahnya?

Mungkin memang saat itu, fokusnya hanya untuk negara dan masyarakat Iran, namun dengan pengaruhnya yang besar dan gelombangnya yang tidak bisa dibendung, sampai berdampak pada umat Islam di negara lain. Tentu Imam Khomeini selain memiliki semangat memerdekakan Iran, juga pasti punya semangat hendak menunjukkan pada dunia Islam bahwa Islam itu bisa mandiri, Islam bisa menunjukkan kedaulatannya, Islam bisa berdiri tanpa hegemoni Barat dan sebagainya. Tentu ini berdampak pada cara pandang dan spirit dari kelompok Islam dari belahan dunia manapun. 

Sehingga kalau hanya terbatas pada Iran, itu sangat menyempitkan pengaruh revolusi Islam. 

Saya juga sudah menjelaskan, beberapa aktivis di Indonesia, sangat terpengaruh oleh geliat spirit revolusi Islam Iran, dan itu mampu menggerakkan aktivis-aktivis di Indonesia. Saat itu konteksnya, negara Islam ataupun mayoritas berpenduduk Islam banyak terpengaruh dari Imam Khomeini.

Status anda kan pelajar dan saat ini sedang studi di Iran, mengapa anda memilih Iran untuk menuntut ilmu dan apa relevan apa yg anda dapat disini untuk anda terapkan di Indonesia?

Kita ketahui mainstream di Indonesia ada dua kutub yang berseberangan dalam gerakan Islam. Pertama adalah tradisionalis, yang kedua, modernis. Kedua kutub ini seperti Barat dan Timur. Kelompok tradisionalis cenderung tidak progresif, karena banyak mendalami kajian-kajian tradisi, kajian-kajian lama dan klasik dan terlalu terjebak pada ritual-ritual mistik keagamaan. Meski tidak progresif namun sangat mengedepankan tradisi Islam, ini kelebihannya.

Begitu juga kelompok modernis, mereka progresif tapi memiliki kekurangan,yaitu karena modern ada beberapa kekeringan dalam ruhani, karena kelompok ini cenderung materialis dan pragmatis. Mereka juga tidak banyak mendalami kajian-kajian klasik. 

Di iran saya melihat posisinya di tengah. pada satu sisi mengkaji atau menggunakan tradisi-tradisi Islam dalam kehidupannya tapi tidak konservatif, tidak terbelakang, tidak malah menjadikan kehidupannya itu terlena pada ritualistik. Malah ritualistiknya itu diarahkan pada progresivitas. Ini kesuksesan Iran menyeimbangkan antara tradisi Islam dengan kemajuan. Ini yang membuat saya tertarik untuk lanjut studi di Iran dan menurut saya cara pandang dan cara berpikir seperti ini penting untuk nantinya dibawa ke Indonesia.Ulama-ulama Iran selalu memposisikan ajaran atau pemikiran Islam itu di atas pemikiran Barat, sehingga peradaban Islam tidak merasa kerdil. Jadi tidak menganggap peradaban Barat itu, pemikirannya lebih pintar, Iran percaya bahwa pemikiran Islam itu pemikiran yang lebih unggul. Ini sejalan dengan prinsip Islam Muhammadiyah yaitu Islam berkemajuan. 

Presiden Raisi baru saja dari Indonesia. Menurut anda apa yang perlu ditingkatkan kerjasama antara Iran-Indonesia dan apa harapan anda terhadap hubungan antara kedua negara bersahabat ini?

Ini momen Presiden Iran melanjutkan kembali tradisi mengunjungi ke Indonesia melalui lawatan resmi. Saya tahu yang terakhir adalah Ahmadi Nejad. Dan saya melihat kemarin, beberapa akun media sosial, live streaming dan sebagainya, isu Syiah itu sudah tidak terlalu ramai dibincangkan. Banyak dukungan dari netizen tentang hubungan baik Indonesia dan Iran. Itu menunjukkan masyarakat Indonesia semakin terbuka dan semakin inklusif. Iran juga saat ini melakukan comeback dengan berhasil memperbaiki hubungan dengan negara-negara Islam lainnya khususnya di Timur Tengah. Sejumlah negara Islam yang sebelumnya lebih condong ke Amerika sekarang memilih akrab dengan Iran. Ini tentu peluang bagus juga bagi Indonesia. 

Harapan saya, mudah-mudahan apa yang disepakati kemarin benar-benar dilaksanakan di lapangan. Karena pasti ada beberapa ganjalan. Amerika dan musuh-musuh Iran pasti tidak suka jika Indonesia menjalin hubungan baik dengan Iran. Iran secara terang-terangan anti Amerika Serikat sementara Indonesia masih dalam posisi menjaga hubungan ke semua negara, entah itu blok china maupun blok AS. 

Semoga ini menjadi kerjasama yang baik, terlebih lagi Indonesia dan Iran adalah negara mayoritas muslim. Selain kerjasama diplomatik, tentu saja juga dibutuhkan kerjasama dalam bidang keagamaan. Momen sekarang adalah peluag besar untuk terus mengkampanyekan persatuan Islam. Terlebih lagi isu Sunni-Syiah saat ini tidak banyak lagi digoreng dan dimainkan untuk kepentingan politik Barat. 

Terimakasih atas waktunya. 

---

Ayatullah Sayid Ruhullah Musavi Khomeini yang lahir pada 17 Mei 1900 adalah Pemimpin Agung Iran dan salah satu ulama Marja Syiah yang memimpin revolusi Iran dan setelah itu mendirikan Republik Islam melalui referendum dan memimpinnya sampai akhir hayatnya. Ia wafat pada 3 Juni 1989. Setiap tanggal wafatnya, oleh rakyat Iran maupun pengagum dan pecintanya di seluruh dunia menggelar majelis haul untuk memperingatinya.