Dalam pertemuan tersebut Rahbar mengungkapkan, "Kami telah katakan bahwa kita tidak akan lagi melihat rezim Zionis 25 tahun lagi, tapi justru mereka sendiri yang tergesa-gesa dan ingin musnah lebih cepat, serta senantiasa mengatakan keruntuhan semakin dekat dan kami tidak akan bertahan ke tahun 80."
Rahbar delapan tahun lalu memprediksikan bahwa rezim Zionis 25 tahun lagi akan musnah. Delapan tahun setelah prediksi ini, tanda-tanda keruntuhan rezim ilegal ini semakin nyata. Krisis baru rezim Zionis dimulai tak lama setelah berkuasanya kembali Benjamin Netanyahu. Netanyahu yang setelah 12 tahun berkuasa pada tahun 2021 kehilangan jabatan perdana menteri, pada Desember 2023 setelah 18 bulan kembali berhasil merebut kembali posisi ini. Tapi kali ini Netanyahu membentuk kabinet koalisi dengan kubu ekstrim, dan hal ini juga menjadi faktor bagi terbentuknya demonstrasi warga terhadap kabinet baru, karena kubu radikal dan Netanyahu melemahkan wewenang lembaga peradilan dan memperkuat kabinet serta Knesset, dan mempersiapkan proses progresif kediktatoran Netanyahu.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah di awal tahun baru Iran menyinggung krisis internal Israel.
Dalam pertemuan tersebut Rahbar mengungkapkan, "Kami telah katakan bahwa kita tidak akan lagi melihat rezim Zionis 25 tahun lagi, tapi justru mereka sendiri yang tergesa-gesa dan ingin musnah lebih cepat, serta senantiasa mengatakan keruntuhan semakin dekat dan kami tidak akan bertahan ke tahun 80."
Rahbar delapan tahun lalu memprediksikan bahwa rezim Zionis 25 tahun lagi akan musnah. Delapan tahun setelah prediksi ini, tanda-tanda keruntuhan rezim ilegal ini semakin nyata. Krisis baru rezim Zionis dimulai tak lama setelah berkuasanya kembali Benjamin Netanyahu. Netanyahu yang setelah 12 tahun berkuasa pada tahun 2021 kehilangan jabatan perdana menteri, pada Desember 2023 setelah 18 bulan kembali berhasil merebut kembali posisi ini. Tapi kali ini Netanyahu membentuk kabinet koalisi dengan kubu ekstrim, dan hal ini juga menjadi faktor bagi terbentuknya demonstrasi warga terhadap kabinet baru, karena kubu radikal dan Netanyahu melemahkan wewenang lembaga peradilan dan memperkuat kabinet serta Knesset, dan mempersiapkan proses progresif kediktatoran Netanyahu.
Untuk krisis ini, kita dapat menambahkan intensifikasi migrasi balik, perpecahan dan konflik etnis dan ras di Palestina pendudukan, serta ketidakpercayaan warga terhadap struktur pemerintahan Israel. Semua ini menyebabkan otoritas Zionis memperingatkan tentang runtuhnya rezim ini. Tindakan yang dilakukan Netanyahu, terutama dalam bentuk serangan terhadap Suriah, tidak didasarkan pada kemampuan, tetapi karena putus asa dan sepenuhnya pasif, mencoba menggeser dan mengubah arah krisis internal dengan menciptakan krisis eksternal.
Meski demikian, berbagai langkah ini selama empat tahun lalu juga berulang kali dilakukan, dan tidak berujung pada berakhirnya kebuntuan politik di Palestina pendudukan. Kini bukan saja tidak memiliki pengaruh pada krisis internal, bahkan meningkatkan tekad muqawama Palestina, Suriah, Lebanon dan Republik Islam Iran untuk membalas. (MF)
342/