Direktur Dinas Intelijen AS, William Burns dalam sebuah wawancara televisi pada Sabtu (25/2/2023) malam menanggapi pertanyaan mengenai apakah para pemimpin Republik Islam Iran memutuskan untuk mengejar senjata nuklir, dengan mengatakan, "Sejauh yang kami tahu, para pemimpin Iran tidak memiliki keputusan untuk melanjutkan program [nuklir] yang telah mereka bekukan pada akhir tahun 2003,".
Meski demikian, ia mengulangi klaim pengayaan uranium 84 persen di Iran, dengan mengungkapkan, "Dua landasan dari alat ini (program nuklir), yaitu pengayaan yang jelas telah maju, jika mereka mau, maka hanya dalam beberapa pekan saja bisa mencapai pengayaan 90 persen. Di isisi lain mereka memiliki kemampuan untuk memproduksi peluncur senjata nuklir,".
Sebelumnya, Behrouz Kamalvandi, Juru Bicara Badan Energi Atom Iran dalam wawancara dengan IRNA yang juga dikutip Bloomberg hari Minggu (19/2/2023) mengatakan, "Pendistorian Informasi dan penyimpangan fakta mengenai keberadaan partikel uranium di atas 60 persen bukan berarti pengayaan uranium di atas 60 persen,".
"Sayangnya, organisasi internasional [IAEA] telah menjadi alat kepentingan beberapa pihak, dan kinerjanya berdampak negatif pada kredibilitas dan prestise organisasi internasional yang penting ini," tegas Kamalvandi.(PH)
342/