14 Oktober 2022 - 18:10
Persatuan adalah Kebutuhan Esensial Dunia Islam

Pada penyampaiannya, Ayatullah Jannati menganggap kata persatuan sebagai kebutuhan esensial dunia Islam. Ia berkata, “Keamanan, pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi, martabat dan otoritas semuanya mungkin di bawah payung persatuan.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Ahmad Jannati, Sekretaris Dewan Wali Republik Islam Iran pada Rabu (12/10) dalam penyampaiannya pada pertemuan Dewan ini di Tehran, mengucapkan selamat atas peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Imam Shadiq as. Ia berkata, “Kita berada di pekan persatuan; semoga peringatan maulid ini menjadi berkah untuk kita semua dan saya memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih untuk memberikan kita kesuksesan dalam mengikuti ajaran Nabiullah Muhammad saw.”

Menjelaskan dimensi eksistensial Nabi Muhammad saw Ayatullah Jannati menambahkan, “Keberadaan Nabiullah Muhammad saw adalah berkah paling berharga yang diberikan Allah Swt kepada umat manusia. Dengan mengimani dan mengikutinya adalah jaminan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.”

Ayatullah Jannati kemudian menunjukkan bahwa dalam ayat 128 Surat a-Taubah, salah satu karakteristik yang Allah Swt anggap bagi Nabi Muhammad saw adalah menjadi pelayan bagi umat. Ia menjelaskan, “Dengan deskripsi Al-Qur'an ini, siapa pun yang mengaku mengikuti yang mulia maka harus menyiapkan dirinya melayani kebutuhan umat dan tidak boleh acuh dan abai atas persoalan yang dihadapi umat.”

Dalam lanjutan sambutannya, Ayatullah Jannati menyampaikan bahwa solusi dari permasalahan dunia saat ini dan khususnya umat Islam adalah dengan kembali kepada ajaran tauhid Nabi Muhammad saw. “Mencari kebenaran, mencari keadilan, membela tertindas dan memerangi penindas adalah karakteristik yang paling penting dari kehidupan Nabi. Sepanjang hidupnya ia habiskan untuk menegakkan keadilan dan memerangi kezaliman.” Jelasnya. 

Sekretaris Dewan Wali ini lebih lanjut menekankan, “Dunia Islam harus menyesuaikan diri dengan ajaran Al-Qur'an dan menunjukkan kepada dunia jalan petunjuk yang lurus dengan menghilangkan penyimpangan yang muncul.”

Menekankan fakta bahwa kelahiran Nabi Besar Muhammad saw terjadi di era ketika kekuatan tirani menguasai dunia dan memerintah masyarakat atas dasar penindasan, Ayatullah Jannati berkata, “Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam beberapa khutbah yang tercatat dalam Nahjul Balaghah telah menggambarkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir di era zaman jahiliah. Tujuan kemunculannya adalah untuk memperbaiki penyimpangan di masanya, baik itu penyimpangan akidah maupun penyimpangan terhadap kemanusiaan dan sosial.”

Mengajak para penguasa negara-negara Islam untuk merujuk pada ajaran Nabi Muhammad saw tercinta, Ayatullah Jannati mengatakan, “Mengikuti ajaran Islam secara komprehensif adalah satu-satunya cara untuk mencapai martabat, dan mengikuti kebijakan negara-negara arogan tidak akan membawa apa-apa selain penghinaan. Ini adalah kebenaran yang sangat diyakini oleh para cendekiawan dan intelektual Muslim saat ini, dan orang-orang muda yang terbangun di negara-negara Islam terpesona oleh kemuliaan yang telah dijanjikan Tuhan.”

Ayatullah Jannati juga merespon karya seni yang diciptakan untuk memperkenalkan kepribadian besar Nabi Muhammad saw yang disebutnya masih terlalu sedikit . Ia berkata, “Para seniman dunia Islam harus memiliki usaha ekstra ke arah ini dan berdiri melawan upaya distorsi yang dilakukan media dan perfilman Barat terkait karakter Nabi Muhammad saw. Di Barat Nabi Muhammad saw digambarkan sebagai tokoh antagonis yang gemar berperang dan menumpahkan darah. Sehingga Islam yang diajarkannya pun dikenal sebagai agama teroris dan agama horor. Penggambaran negatif dan tidak benar ini harus direspon dengan memberikan penggambaran yang benar terkait karakter Nabi Muhammad saw. Dan salah satu cara untuk memberikan penggambaran yang benar itu adalah melalui kampanye media dan pembuatan karya-karya seni.”

Melanjutkan penyampaiannya, Ayatullah Jannati mengatakan, “Menciptakan perpecahan di antara umat Islam adalah strategi dan trik lama musuh-musuh Islam, dan perpecahan ini telah menumpahkan darah banyak Muslim tak berdosa sepanjang sejarah.”

“Hari ini, kekuatan arogansi dunia bukan hanya musuh bersama semua Muslim di dunia, tetapi juga musuh bersama semua orang yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan di dunia, dan cara untuk menghadapi konspirasi jahat dari arogansi global adalah persatuan semua orang bebas di dunia.” Tegasnya.

Sekretaris Dewan Wali selanjutnya menekankan, “Imam Khomeini ra adalah pendukung persatuan umat Islam sejak awal perjuangan, dan sistem Republik Islam Iran telah bergerak ke arah ini sejak awal berdirinya. Saat ini Pemimpin Tertinggi Ayatullah Sayid Ali Khamanei juga merupakan pembawa bendera Persatuan Dunia Islam.”

Ayatullah Jannati menganggap persatuan umat Islam sebagai faktor pertama dalam pembentukan umat Islam. Ia berkata, “Sampai keyakinan yang mendalam tentang persatuan di antara penganut agama Islam tidak terbentuk, tidak mungkin untuk mencapai kejayaan yang didambakan umat Islam. Banyak bencana yang terjadi di negara-negara Islam adalah akibat dari pengabaian pentingnya persatuan dunia Islam.”

“Mengadakan pertemuan dan konferensi ilmiah di antara para ahli agama Islam yang berbeda pasti akan membantu membentuk persatuan di antara umat Islam.” Tambahnya.

Pada bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah Jannati menganggap kata persatuan sebagai kebutuhan esensial dunia Islam. Ia berkata, “Keamanan, pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi, martabat dan otoritas semuanya mungkin di bawah payung persatuan.”