23 September 2022 - 07:25
Kematian Zainab Essam, Telanjangi Standar Ganda Barat

Zainab gadis Irak berusia 15 tahun dibunuh oleh pasukan pendudukan Amerika, tetapi tidak ada negara yang mengutuknya, atau menyuarakan protes ke Amerika Serikat. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga-lembaga bawahan, dan negara-negara barat tidak berbicara untuk Zainab Irak; Selama sepekan ini, negara-negara dan lembaga-lembaga internasional lantang menyurakan pembelaan pada hak-hak perempuan dan warga sipil di balik kematian Mahsa Amini.

Seorang gadis Irak berusia 15 tahun meregang nyawa pada hari Selasa (20/9) di lahan pertanian milik ayahnya, akibat tertembak oleh tentara AS di dekat pangkalan militer Victoria dalam Bandara Internasional Baghdad Irak. Dikonfirmasi kemudian, gadis itu bernama Zainab Essam Majed Al-Khazali, cucu dari syuhada Majid al-Khazali, pejuang Irak anti pendudukan AS. 

Menyikapi insiden penembakan tersebut, Sheikh Qais Al-Khazali, Sekretaris Jenderal Asa'ib Ahl Al-Haq, mengumumkan bahwa dia menuntut penyelidikan segera dan mendesak atas pembunuhan gadis itu, dengan menyebut tindakan Washington sebagai pelanggaran eksplisit terhadap konstitusi Irak dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak. 

Meskipun kasus kematian Zainab Essam menjadi berita viral di Irak, namun media mainstream Barat mendiamkannya. Tidak satupun media Barat yang menyerukan penyelidikan atas insiden kematian warga sipil di bawah umur tersebut yang dilakukan pasukan asing di wilayah yang bukan tanahnya.

Prosesi pemakaman Zainab Essam pada keesokan harinya, Rabu (21/9) berlangsung secara khidmat dan hanya menjadi pembicaraan media domestik Irak. Sementara pada waktu yang bersamaan, media-media Barat sibuk memblow up berita kematian Mahsa Amini, seorang gadis Iran yang menurut laporan Barat tewas dipukuli sampai mati oleh polisi Iran. Meski laporan dan video valid dari kepolisian Iran telah memberikan bukti sebaliknya, terutama karena foto Amini di ranjang rumah sakit tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik, media-media tetap memainkan petualangannya dengan menghasut dunia internasional mengecam Iran dan menuntut penyidikan atas kematian Mahsa Amini.  

Media Barat berkali-kali terbukti mengambil keuntungan dari narasi anti Iran dan menyebarkan kebohongan. Bukan hanya keuntungan finansial, namun standar ganda media Barat telah meningkatkan sentimen Iranofobia melalui penyebaran kebohongan dan mengabaikan kematian Zainab, yang jauh lebih tragis.



The New York Times menulis tentang kematian seorang wanita berusia 22 tahun di Iran pada Jumat (16/9) setelah ditahan oleh polisi moral. Tanpa mengajukan bukti dan hasil laporan investigasi satupun, media AS ini menuduh kekerasan fisik yang dilakukan polisi Iran sebagai penyebab kematiannya. 

Dengan nada yang sama, France 24 menulis, "Seorang wanita muda Iran dalam keadaan koma dan berjuang untuk hidupnya setelah ditangkap di Teheran oleh polisi moral republik Islam."

The Guardian, MondAfrique, The World Today, CNN, BBC dan media-media Arab pro Barat juga telah mengadopsi berita itu dan bergegas mengumumkan kematiannya karena korban pemukulan aparat kepolisian dan menyudutkan aturan internal Iran tanpa menunggu tanggapan dari polisi atau otoritas resmi atau bahkan hasil penyelidikan.

Barat telah mengeksploitasi kematian seorang wanita tidak berdosa demi mempolitisasi insiden itu demi mendorong propaganda anti-Iran mereka lebih jauh, sambil sama sekali menutup mata terhadap kebenaran dan mengabaikan kejahatan kemanusiaan lainnya yang terjadi oleh tentara AS pada kematian Zainab Essam. 

Episode ini bukan satu-satunya kasus tentang kesyahidan Zainab Essam, seorang gadis Irak, yang dihapus dari berita dan laporan media barat, tetapi menurut keluarga korban dan orang-orang di wilayah itu, ini terjadi hampir setiap hari. Warga sipil Irak dan anak-anak terus-menerus terkena peluru nyasar dari jarak tembak pangkalan militer Amerika, dan penduduk tak berdosa di dekat pangkalan ini terus-menerus terancam bahaya.

Kontradiksinya adalah bahwa salah satu dari dua berita ini tidak lebih penting dari yang lain, jika yang terpenting adalah nyawa manusia. Pentingnya dan nilai di media Barat dan Arab ini adalah masalah seleksi, yang berdasarkan posisi politik mereka, dibesar-besarkan tentang Iran dan menghasut rakyat Iran untuk menentang pemerintah dan mendiamkan kasus kehilangan nyawa yang tidak memberikan keuntungan politik pada mereka; Mehsa dan Zainab adalah contoh standar ganda dan tentu saja ini bukan yang terakhir. 

Zainab gadis Irak berusia 15 tahun dibunuh oleh pasukan pendudukan Amerika, tetapi tidak ada negara yang mengutuknya, atau menyuarakan protes ke Amerika Serikat. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga-lembaga bawahan, dan negara-negara barat tidak berbicara untuk Zainab Irak; Selama sepekan ini, negara-negara dan lembaga-lembaga internasional lantang menyurakan pembelaan pada hak-hak perempuan dan warga sipil di balik kematian Mahsa Amini.