Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA ,Ned Price, Kamis (31/3/2022) malam dalam jumpa persnya menuturkan, setelah teror Jenderal Qassem Soleimani, Iran semakin mengembangkan program nuklirnya, dan serangan-serangan ke fasilitas serta sekutu AS di kawasan, relatif semakin buruk.
Ia menambahkan, "Selama tahun 2012-2018 serangan luas terhadap pasukan AS, dan fasilitas diplomatik AS di Irak, tidak pernah terjadi, namun hal itu berubah pada tahun 2018, antara tahun 2019 dan 2020, jumlah serangan kelompok-kelompok dukungan Iran, meningkat sampai 400 persen, ini terjadi setelah AS keluar dari JCPOA, setelah pengumuman IRGC sebagai teroris, dan setelah teror Soleimani."
Menurut Ned Price, upaya untuk menumpas kelompok-kelompok dukungan Iran, jika dilakukan berdasarkan strategi yang diwariskan pemerintahan AS terdahulu, tidak akan pernah efektif.
"Kami ingin menyaksikan sebuah strategi yang efektif, dan membuahkan. Kami tetap percaya bahwa kembali ke JCPOA adalah strategi yang tepat," pungkasnya. (HS)
342/