23 Januari 2022 - 01:24
Kehadiran Islam Mengangkat Derajat dan Martabat Perempuan

"Sayangnya, sebelum misi Nabi Muhammad saw ada pandangan yang salah tentang perempuan. Di masa lalu, perempuan kehilangan martabat dan hak asasi mereka, tetapi dengan munculnya Islam, perempuan menikmati status individu dan sosial yang sangat baik, dan banyak tradisi usang dan palsu dari pendahulu mereka ditolak dan tidak lagi diberlakukan."

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al-Uzhma Syaikh Husain Nuri Hamedani salah seorang ulama marja taklid Syiah yang bermukim di kota Qom Republik Islam Iran dalam pertemuannya dengan Ayatullah Araki beserta rombongan anggota Persatuan Wanita Muslim Internasional pada Sabtu (22/1) sambil mengucapkan selamat atas peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra sa ia menekankan perlunya menjelaskan posisi perempuan Muslim berdasarkan budaya Fatimiyah. 

"Sayangnya, sebelum misi Nabi Muhammad saw ada pandangan yang salah tentang perempuan. Di masa lalu, perempuan kehilangan martabat dan hak asasi mereka, tetapi dengan munculnya Islam, perempuan menikmati status individu dan sosial yang sangat baik, dan banyak tradisi usang dan palsu dari pendahulu mereka ditolak dan tidak lagi diberlakukan." Ucapnya. 

Ayatullah Hamedani kemudian memberikan contoh penghormatan terhadap perempuan dalam tradisi Ahlulbait as dan menyatakan perlunya mengikuti contoh mereka. Ia berkata, "Nabi Muhammad saw selalu menghormati Sayidah Fatimah sa dengan penuh penghormatan. Diriwayatkan setiap kali Sayidah Fatimah sa memasuki majelis, Nabi akan bangkit untuk menghormatinya dan menempatkannya di tempatnya."

Ulama marja taklid Syiah ini lebih lanjut menunjukkan peran penting perempuan dalam menyebarkan dan melestarikan Islam Muhammad yang murni. Ia berkata, "Sayidah Zainab sa telah memperkenalkan Ahlulbait as ke dunia di malam dan siang hari dengan khotbahnya. Sepanjang perjalanannya di Syam dan Kufah ia memperkenalkan ketertindasan Ahlulbait as dan  ia perlihatkan diri sebagai penerus Sayidah Zahra sa yang berdiri lantang memberikan pembelaan dan dukungan pada Imamah dan wilayah. Kita harus banyak belajar dari keberanian dan ketegasan dari perempuan yang mulia ini."

Mengekspresikan peran penting perempuan dalam memperkuat keluarga dan dampaknya yang luar biasa pada pengasuhan anak, Ayatullah Nuri Hamedani menambahkan, "Imam Khomeini mengatakan dalam hal ini: laki-laki melakukan mikraj mulai dari pangkuan perempuan. Jadi membesarkan anak-anak yang saleh adalah salah satu tugas terpenting dari ibu-ibu muslim.

Ayatullah Nuri Hamedani selanjutnya menggambarkan kemenangan Revolusi Islam sebagai dasar yang sangat baik untuk membawa perempuan ke posisi utama mereka. Ia berkata, "Sebelum kemenangan Revolusi Islam, kehadiran perempuan dalam masyarakat adalah kehadiran yang dangkal dan berdasarkan budaya Barat. Banyak kegiatan sosial dilarang, tetapi Imam Khomeini (semoga Allah merahmatinya) dengan pemberontakannya menciptakan landasan bagi kehadiran mereka di berbagai bidang."

"Demonstrasi sebelum dan sesudah kemenangan Revolusi Islam, kehadiran luas di kotak suara, partisipasi dalam kegiatan di belakang layar selama pertahanan suci adalah diantaranya landasan kegiatan sosial perempuan selama Revolusi Islam." Tambahnya.

Ulama Hauzah Ilmiah Qom ini menganggap pengenalan cara hidup Islam dan ekspresi model yang cocok untuk perempuan di masa sekarang sangat diperlukan. Ia berkata, "Perempuan Muslim di masa sekarang harus bertanggung jawab atas tanggung jawab individu dan sosial mereka berdasarkan ajaran Islam dan tradisi Ahlulbait as. Sangat penting menyadari dan menyebarkan budaya Islam dan tradisi Fatimiyah dengan berkomunikasi satu sama lain di seluruh dunia."