Menurut Kantor Berita ABNA, Kazem Gharibabadi (19/6/2020) menjelaskan, Iran di antara negara-negara anggota IAEA lain, merupakan negara yang paling tinggi level kerja samanya dalam menerima inspektur IAEA, setiap tahun lebih dari 33 akses penyempurnaan dilakukan Iran, maka dari itu, dibesar-besarkannya dua permintaan akses IAEA, di saat Iran memiliki keraguan dan kekhawatiran besar dalam hal ini, sementara dialog terus berlangsung, adalah langkah yang sepenuhnya tidak konstruktif dan politis.
Dubes Iran menyebut resolusi terbaru IAEA terkait izin akses lebih besar, tidak lain merupakan sikap berlebihan, dan Iran menolak sepenuhnya sikap berlebihan dari negara manapun, dan resolusi IAEA ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah teknis, sepenuhnya lahir dari sebuah agenda kerja politis, dan tidak profesional.
Gharibabadi menyesalkan langkah tiga negara Eropa yaitu Jerman, Perancis dan Inggris yang telah mengusulkan resolusi tersebut ke Dewan Gubernur IAEA padahal ketiga negara itu memiliki senjata nuklir, atau bertanggung jawab atas penempatan senjata pemusnah massal serta destruktif.
"Bukankah ini pelecehan atas seluruh aturan internasional bahwa negara-negara semacam ini mencemaskan pasal penjagaan keselamatan nuklir, tapi tidak pernah melakukan langkah nyata untuk merealisasikan komitmennya dalam kesepakatan nuklir JCPOA," pungkasnya. (HS)
342/