Kantor Berita Ahlulbait

Sumber : Parstoday
Senin

10 Juni 2024

16.09.29
1464627

Teror Israel atas Pejabat Negara Asing, Nomor Wahid di Dunia

Berdasarkan data, Iran dan negara-negara Arab, terutama Palestina, Mesir, Suriah, Irak, dan Lebanon, menjadi korban teror terbesar Israel.

Dinas Intelijen Israel, Mossad, kemungkinan setiap tahun meneror pejabat, dan anggota dinas intelijen lain di dunia. Jumlah korban teror tersebut, seperti yang diungkap oleh buku Rise and Kill First, karya Ronen Bergman, lebih dari 3.000 orang.

Buku Rise and Kill First, adalah kisah dari seorang Israel, tentang latar belakang hingga terbentuknya dinas-dinas intelijen rezim ini, dan informasi-informasi penting terkait teror-teror yang dilakukan oleh dinas-dinas itu.

Rezim Zionis, menganggap teror sebagai poin unggul yang dimiliki dirinya. Rezim Israel, dengan metode ini berusaha memulihkan kondisinya dalam transaksi keamanan Asia Barat, dan berusaha meraih target-target di bawah ini,

1. Menghancurkan atau mengganggu proses pengambilan keputusan, dan komando strategis kelompok-kelompok perlawanan.

2. Membalas kekalahan-kekalahan intelijen, dan operasional dalam melawan rakyat Palestina, dengan cara merebut kembali inisiatif di lapangan.

3. Memulihkan citra militer dan keamanan.

4. Menutupi krisis-krisis dalam negeri Israel, dan menyimpangkan opini publik dari masalah-masalah dalam ke luar negeri.

Iran, dan negara-negara Arab, terutama Palestina, Mesir, dan Lebanon, adalah negara dengan paling banyak korban teror yang dilakukan Israel, dan meski tidak ada bukti akurat serta langsung terkait teror-teror ini, namun dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, menjadi tertuduh utama.

Teror Israel, yang paling terkenal dalam beberapa tahun terakhir adalah teror terhadap sejumlah ilmuwan Iran, dan Irak, dengan maksud untuk menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan kedua negara.

Beberapa dari teror itu dilakukan di dalam Wilayah pendudukan, dan beberapa teror yang lain dilakukan di luar Israel. Salah satu teror ini adalah teror terhadap Atef Bseiso, pada tahun 1992 di Prancis.

Atef Bseiso adalah salah satu anggota utama Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, yang berhasil mempersatukan para pejuang Palestina. Ronen Bergman, dalam bukunya menulis,

Para pejabat tinggi intelijen Israel, meyakini bahwa Bseiso, menjalin hubungan dengan dinas-dinas intelijen Eropa, sebuah langkah besar ke arah bantuan Barat, untuk melegitimasi penuh diplomasi global Yasser Arafat, dan PLO, serta mengucilkan Israel.

Dalam buku ini juga dijelaskan, bahwa Bseiso, di detik-detik terakhir, memutuskan untuk mengendarai mobil daripada terbang menggunakan pesawat dari Bonn ke Paris. Ia juga mengganti hotel yang ditinggalinya.

Bseiso melakukan hal ini karena khawatir atas keamanannya, tapi sekelompok orang di lobi hotel sudah menunggunya, dan mengikuti Bseiso hingga ke kamar.

Dua orang anggota unit teror Israel, Kidon atau bayonet, menembaknya lima kali. Senjata yang digunakan memakai peredam suara, dan mereka segera melenyapkan bukti-bukti sehingga penyelidikan sangat sulit dilakukan.

Berbagai respons atas teror ini ditulis dalam buku Rise and Kill First,

Yasser Arafat, setelah mengetahui kejadian ini segera menuduh Israel. Kolonel Zuri Sagi, mantan kepala dinas intelijen Israel, kala itu, dengan cepat mengumumkan bahwa dirinya tidak mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan ini, tapi ia mengulang kembali tuduhan-tuduhan Israel, terhadap Bseiso. Tujuh tahun kemudian pada bulan Maret 1999, polisi Prancis mengumumkan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh, Mossad, mendalangi pembunuhan Bseiso.

Reaksi semacam ini diulang-ulang dalam banyak teror Israel, dan selalu ada penekanan di sisi penolakan tanggung jawab atas teror. (HS)