8 Desember 2019 - 18:59
Ekstrim dalam Memahami Takdir karena Membelakangi Ahlulbait as

Pada persoalan qadha dan qadar, kita meyakini perspektif Imam Ali as yang rasional. Karenanya yang mempelajari Alquran namun membelakangi maktab Ahlulbait as akan terjebak pada pandangan yang ekstrim dalam persoalan qada dan qadhar.

Menurut Kantor Berita ABNA, pada pelajaran akhlak Ayatullah al-Uzhma Abdullah Jawadi Amuli di Mushallah Ulum Wahyani Isra di kota Qom Republik Islam Iran Kamis (5/12) ia menjelaskan mengenai salah satu hikmah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as yang terangkum dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia berkata, "Hikmah ke-78 dari perkataan mulia Amirul Mukminin as berangkat dari salah satu peristiwa pada Perang Shiffin. Dalam perjalanan menuju Syam, salah seorang anggota pasukan bertanya kepada Imam Ali as, apakah keberangkatan kita ke arah Syam adalah qadha dan qadar Allah swt?. Imam Ali as menjawab, وَیحَكَ لَعَلَّكَ ظَنَنْتَ قَضَاءً لَازِماً وَ قَدَراً حَاتِماً kamu menganggap jika kita menjawab ini adalah qadha dan qadar Allah swt artinya tangan kita terikat? Tidak! Kita diantara al-Jabr dan al-Tafwidh, ikhtiar kita berpengaruh pada qadha dan qadar Allah swt."

"Persoalan mengenai qadha dan qadar dan keterkaitannya dengan keterpaksaan dan ikhtiar manusia telah muncul bahkan di masa Imam Ali as dengan munculnya pertanyaan seperti yang dikemukakan salah satu pengikutnya. Diskusi dan perdebatan mengenai qadha dan qadar ini dalam dunia Islam telah menyita banyak pikiran sehingga aliran-aliran pun bermunculan karena adanya beragam pendapat mengenai hal tersebut. Dalam sejarah politik Islam, Muawiyah mempropagandakan doktrin al-Jabr dengan tujuan agar kekuasaan yang berada di tangannya diterima oleh masyarakat muslim sebagai takdir dan kehendak Allah swt. Muawiyah berkata, kekuasaan ditangan kami adalah takdir Allah, karenanya jangan protes kepada kami.". papar Ayatullah Jawadi Amuli. 

Lebih lanjut pengajar Hauzah Ilmiah Qom tersebut mengatakan, "Allah swt memiliki dua kehendak. Kehendak takwini dan kehendak tasyri'i. Kehendak takwini adalah kehendak yang berkaitan dengan penciptaan dan pengaturan sistem pada alam semesta, sementara kehendak tasyri'i berkaitan dengan operasional hukum dan aturan Allah swt. Melalui kehendak tasyri'i Allah swt meminta kepada umat manusia agar melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Allah swt menginginkan manusia memilih keadilan, rasionalitas, salat, puasa dan kebaikan lainnya dengan memberikan kemampuan iradah dan ikhtiar memilih kepada manusia. Allah swt seperti berkata, manusia itu memiliki iradah namun iradah mereka berada di jalan iradah Kami. Dan tidaklah Kami sepenuhnya menyerahkan urusan pada manusia, bahwa semua peristiwa terjadi murni karena kehendaknya."

"Jika ada yang bertanya, apakah perbuatan yang dilakukan seseorang, baik itu ketaatan ataupun kemaksiatan telah diketahui Allah swt sebelum perbuatan itu dilakukan? JIka dijawab -Naudzubilah- Allah tidak tahu, artinya Allah swt jahil, dan ini mustahil. Namun jika dijawab bahwa Allah swt sebelumnya sudah tahu bahwa didetik ini orang tersebut akan taat dan didetik lain orang tersebut akan bermaksiat, artinya perbuatan tersebut harus benar-benar terjadi, jika tidak terjadi maka artinya Allah swt jahil dan apa yang diketahuinya itu salah. Untuk menjawab syubhat tersebut, kita sampaikan, bahwa dengan Maha Mengetahuinya Allah swt, maka Dia tahu perbuatan setiap manusia bahkan sebelum dilakukannya. Allah swt tahu bahwa si Fulan dengan ikhtiarnya dan kecenderungannya sendiri telah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Jadi dengan ilmu-Nya Allah tahu itu, namun bukan berarti bahwa dengan tahu artinya peristiwa itu terjadi karena sejak awal menjadi takdir Allah swt dan manusia dibalik peristiwa tersebut tidak memiliki ikhtiar sendiri sama sekali." Jelasnya.

Ayatullah Jawadi Amuli melanjutkan, "Dari pertanyaan yang diajukan pasukannya, Imam Ali as menjelaskan bahwa qadha Ilahi terjaga pada tempatnya, begitupun ikhtiar manusia pada tempatnya. Allah swt pada sistem (pengaturan) takwini telah menentukan qadha dengan ukuran tertentu begitupun pada pengaturan tasyri'i Allah telah menentukan qadha dengan ukuran yang dikehendakinya. Ukuran inilah yang disebut qadar. Allah swt memiliki qadha yang berlaku secara umum, seperti misalnya كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Nah disini Allah swt menentukan, jika seseorang misalnya menjaga kesehatannya maka usianya akan mencapai sekian, dan jika tidak maka usianya sekian. Ini adalah qadar dari Allah swt. Qadha Allah swt kemudian berlaku berdasarkan apa yang telah menjadi pilihan manusia tersebut. إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَمَرَ عِبَادَهُ تَخْییراً وَ نَهَاهُمْ تَحْذِیراً وَ كَلَّفَ یسِیراً وَ لَمْ یكَلِّفْ عَسِیراً وَ أَعْطَى عَلَى الْقَلِیلِ كَثِیراً وَ لَمْ یعْصَ مَغْلُوباً وَ لَمْ, tidak ada paksaan dari suatu perbuatan. Jika ada yang kemudian memilih bermaksiat, maka tidak bisa dikatakan bahwa maksiat tersebut karena telah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah swt. Allah swt menguji kita melalui ikhtiar yang Dia berikan. Mereka yang taat kepada Allah swt pun tidak bisa dikatakan bahwa ketaatan tersebut terjadi karena keterpaksaan."

Pada bagian akhir penjelasannya Ayatullah Jawadi Amuli menyampaikan, "Oleh karena itu, kita tidak menerima konsep Jabariyah (determinisme ) sebagaimana yang diyakini 'Asyairah, bahwa  satu-satunya kehendak yang terjadi adalah kehendak Ilahi sehingga maujud-maujud lainnya tidak memiliki pengaruh sama sekali. Dan juga kita tidak menerima konsep tafwidh (kebebasan mutlak) sebagaimana yang diyakini kelompok Mu'tazilah. Mu'tazilah meyakini bahwa semua yang berkuasa adalah seluruh perbuatan manusia. Dengan mengikuti apa yang disampaikan Imam Ali as pada salah satu hikmahnya, kita memandang manusia itu berkehendak dan memiliki pilihan serta bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dimana pada saat yang sama tetap berada di bawah kekuasaan Ilahi serta sepenuhnya membutuhkan kehendak dan kekuasaan Allah swt. Pada persoalan qadha dan qadar, kita meyakini perspektif Imam Ali as yang rasional. Karenanya yang mempelajari Alquran namun membelakangi maktab Ahlulbait as akan terjebak pada pandangan yang ekstrim dalam persoalan qada dan qadhar. Baik itu terjatuh pada kubangan tafrith (meremehkan) dengan meyakini bahwa Allah sama sekali tidak memiliki kuasa pada peristiwa yang dialami manusia, atau ifrath (berlebihan) dengan meyakini sepenuhnya apapun yang terjadi pada manusia adalah sepenuhnya kehendak Allah swt tanpa ada ikhtiar manusia sama sekali di dalamnya."