(ABNA24.com) Rusia dan Cina sebagai dua anggota kelompok 4 +1 selalu menekankan perlunya mempertahankan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran. Dalam hal ini, Presiden Rusia Vladimir Putin pada konferensi pers bersama dengan Presiden Cina Xi Jinping Di Moskow mengatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran harus dipertahankan.Presiden Rusia dan Cina juga mengeluarkan statemen bersama yang mengutuk sanksi sepihak AS terhadap Iran yang isinya, "Kedua pihak [Rusia dan Cina] senang untuk mencatat bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam laporannya telah mengkonfirmasi bahwa Iran terus memenuhi kewajibannya. Kedua pihak juga mengutuk sanksi sepihak AS terhadap Republik Islam Iran."
Kedua pihak meminta Iran untuk menghindari segala bentuk tindakan yang diambil demi menghentikan pemenuhan kewajibannya di bawah perjanjian JCPOA dan juga menginginkan pihak lain untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah perjanjian JCPOA.
Para pemimpin Rusia dan Cina menegaskan kembali perlunya mempertahankan JCPOA dan juga mengecam sanksi nuklir Washington terhadap Tehran, sesuai dengan sikap prinsip dari dua saingan internasional AS ini tentang substansi kesepakatan nuklir JCPOA dan tujuan yang dicapai oleh kesepakatan tersebut.
Rusia dan Cina, sebagai dua kekuatan internasional memiliki banyak perbedaan pendapat dengan Amerika Serikat, tapi memiliki sikap yang sama dengan Eropa di bidang ini. Dari sudut pandang anggota Eropa di kelompok 4 + 1, keruntuhan dan pembatalan perjanjian ini akan memiliki implikasi keamanan negatif. JCPOA sekarang dilihat sebagai contoh dari perjanjian multilateral yang dapat berfungsi sebagai model untuk menyelesaikan sengketa internasional lainnya.
Menurut Presiden Cina, "JCPOA hasil dari multilateralisme dan penting untuk mempertahankan sistem non-proliferasi senjata nuklir dan perdamaian dan stabilitas Asia Barat serta harus diimplementasikan secara efektif."
Sementara itu, sejak hari pertama implementasi kesepakatan ini, pemerintah AS memulai tipu daya dalam implementasi dan upaya untuk mengurangi manfaat ekonomi Iran darinya. Dengan kedatangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, trik ini semakin intensif. Trump sangat kritis terhadap JCPOA dan berulang kali menganggapnya sebagai kesepakatan terburuk bagi Amerika Serikat dan akhirnya secara sepihak melanggar komitmen Washington pada 8 Mei 2018 dengan mengeluarkan negaranya dari perjanjian internasional dan mengumumkan dimulainya kembali sanksi nuklir. Langkah ini menuai kritik luas dunia, terutama para penandatangan JCPOA lainnya.
Dalam hal ini, Rusia dan Cina sama-sama tidak puas dengan pendekatan AS terhadap Iran dan menggunakan setiap kesempatan untuk membuat deklarasi komitmen terhadap JCPOA. Suatu masalah yang menunjukkan bahwa dunia terus mendukung Tehran dengan mengabaikan tindakan balas dendam Amerika terhadap Iran.
Dari sudut pandang Moskow dan Beijing, pendekatan AS terhadap Iran, yang sama sekali bertentangan dengan aturan dan standar internasional, membahayakan perdamaian dan keamanan regional dan global serta meningkatkan risiko konfrontasi. Jadi, tidak seperti permintaan AS dan pendekatan unilateral Washington, yang selalu menabuh genderang penghapusan JCPOA dan memperketat tekanan pada Iran, kekuatan internasional tertarik untuk mempertahankan perjanjian ini.
Langkah-langkah Amerika yang anti JCPOA dan sikap pasif negara-negara Eropa serta kegagalan mereka untuk memenuhi komitmen mereka untuk melawan sanksi nuklir Amerika terhadap Iran telah dijawab dengan tanggapan tegas Iran dan pengurangan komitmen JCPOA-nya dalam kerangka kerja Pasal 26 dan 36. Ini telah menyebabkan Rusia waspada. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov terkait apakah JCPOA tengah berada di jalur kehancuran secara perlahan atau tidak, mengatakan, "JCPOA sekarang berada dalam perawatan khusus." Dengan kata lain, jika anggota kelompok 4 + 1 tidak mengambil tindakan segera dan efektif untuk mempertahankan perjanjian ini, kelangsungan hidupnya akan berisiko.
.............
300