17 Januari 2017 - 01:56
 Potensi Menuntut Ilmu bagi Laki-laki dan Perempuan Sama

"Agama diturunkan Allah Swt untuk semua manusia agar mereka mencapai derajat kesempurnaannya sebagai manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan. Karenanya kemampuan dan potensi laki-laki dan perempuan sama dalam proses pencapaian tingkat kesempurnaan tersebut."

Menurut Kantor Berita ABNA, ulama marja taklid Syiah, Ayatullah al-Uzhma Jawadi Amuli menerima sejumlah guru besar dan dosen Hauzah Ilmiah khusus perempuan di ruang kerjanya pada senin (16/1) di kota Qom Republik Islam Iran.

Ayatullah Jawadi Amuli dalam pertemuan tersebut mengatakan, "Agama diturunkan Allah Swt untuk semua manusia agar mereka mencapai derajat kesempurnaannya sebagai manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan. Karenanya kemampuan dan potensi laki-laki dan perempuan sama dalam proses pencapaian tingkat kesempurnaan tersebut."

Ulama marja taklid tersebut menambahkan, "Dalam bidang keilmuan misalnya, potensi yang dimiliki laki-laki untuk mencapai tingkat keilmuan tertentu juga dimiliki oleh perempuan. Jika disebutkan dalam fikih, sejumlah pekerjaan tidak boleh dilakukan perempuan, seperti menjadi marja taklid misalnya, harus diketahui, kemarjaan bukanlah kesempurnaan ilmu, kesempurnaan ilmu terletak pada menjadi mujtahid atau ahli fikihnya seseorang, dan perempuan pun bisa mencapai derajat tersebut."

"Perempuan sebagaimana halnya laki-laki juga memiliki tugas dan kewajiban dihadapan Allah Swt yang akan dipertangungjawabkan kelak pengamalannya. Dan sebaik-baik tugas dan kewajiban bagi perempuan adalah menjadi ibu. Mengapa? karena tugas menjadi ibu adalah kekhususan yang diberikan Allah Swt kepada kaum perempuan." Lanjutnya.

Lebih lanjut, ulama mufasir Al-Qur'an tersebut menyinggung kewajiban menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan. Ia berkata, "Menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan sama wajibnya. Sebagaimana laki-laki disela-sela kewajibannya mencari nafkah bagi keluarganya ia menuntut ilmu, perempuan juga bisa melakukannya disela-sela kewajibannya mendidik dan membimbing anak-anaknya serta mengurus rumah tangganya. Tidak ada kekhususan bahwa menuntut ilmu hanya ditekankan untuk laki-laki."

"Karena itu, tidak alasan untuk mengecilkan peran hauza ilmiah perempuan dan lembaga-lembaga pendidikan khusus perempuan lainnya. Perhatian yang diberikan untuk mengembangkan kemajuan pendidikan di hauzah ilmiah perempuan harus sama dengan perhatian yang telah diberikan pada hauzah ilmiah laki-laki. Tanggungjawab dan peran sosial laki-laki di tengah-tengah masyarakat sama. Laki-laki dan perempuan sama-sama memikul tanggujawab sosial untuk memperbaiki kehidupan masyarakat untuk lebih menjalankan aturan agama." Tambahnya.

Dibagian akhir pesannya, penulis tafsir Al-Quran 'At-Tasnim" tersebut mengatakan, "Perhatian kepada ilmu-ilmu Al-Qur'an harus lebih diutamakan. Sebab Al-Qur'an adalah mata air keilmuan. Al-Qur'an sarat dengan pesan-pesan pembentukan karakter manusia termasuk metode dalam membina masyarakat. Hauza ilmiah harus mampu menggali pesan-pesan tersebut kemudian mengejewantahkannya dalam kehidupan masyarakat."