31 Oktober 2026 - 21:19
Amerika Gunakan Segala Cara untuk Menindas Umat Manusia, Kami Berperang Melawan Musuh yang Kriminal dan Perusak Sesuai Perintah Allah

Pemimpin Ansarullah Yaman dalam pidatonya memperingati Hari Syuhada menyatakan, “Musuh-musuh yang kami perangi, dan yang Allah perintahkan kepada kami untuk memerangi mereka, adalah orang-orang jahat, kriminal, zalim, perusak, dan sombong.”

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, pemimpin Gerakan Ansarullah Yaman, dalam pidatonya memperingati Hari Syuhada menekankan pentingnya budaya kesyahidan dan perlawanan.

Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan seluruh sarana dan kemampuannya untuk menindas masyarakat di berbagai wilayah dunia.

Hari Syuhada: Penegasan Perlawanan dan Pembebasan dari Dominasi

Pada awal pidatonya, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada keluarga para syuhada yang sabar dan teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Ia mengatakan bahwa rakyat Yaman memperingati Hari Syuhada sebagai momentum besar yang memiliki nilai keimanan mendalam. Peringatan tersebut memperoleh kesucian, keagungan, dan kedudukannya yang penting dari kemuliaan yang telah Allah Swt berikan kepada kesyahidan di jalan-Nya dan kepada para syuhada yang menempuh jalan tersebut.

Ia menambahkan bahwa rakyat Yaman memperingati momentum ini dalam keadaan setiap hari kehilangan para syuhada, menjaga panji jihad di jalan Allah, serta menghadapi agresi pihak-pihak arogan, zalim, dan kriminal yang menyerang mereka tanpa hak, secara zalim dan penuh pengkhianatan.

Pemimpin Ansarullah itu menegaskan bahwa melalui peringatan tahunan tersebut, bangsa Yaman berupaya memperkokoh pemahaman Al-Qur'an mengenai kesyahidan di jalan Allah.

Menurutnya, semangat ini memiliki peranan sangat penting dalam mematahkan belenggu ketakutan dan rantai-rantai yang digunakan para tiran, penguasa sewenang-wenang, dan kekuatan arogan untuk memperbudak bangsa-bangsa umat Islam.

Al-Houthi menyatakan bahwa para syuhada di jalan Allah merupakan teladan yang menginspirasi dalam kemurahan hati, akhlak, nilai-nilai luhur, dan keteguhan. Dari mereka, umat belajar tentang kesabaran, ketabahan, dan keteguhan dalam menghadapi tirani.

Ia menegaskan bahwa perjuangan di jalan kebenaran dan demi tujuan-tujuan yang adil dilakukan untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan.

Jihad dan Perlawanan terhadap Dominasi serta Penindasan

Pemimpin Gerakan Ansarullah itu menyinggung berbagai ambisi untuk menguasai pihak lain di tingkat global. Ia mengatakan bahwa banyak kekuatan di dunia mengejar penindasan, dominasi, eksploitasi, kekerasan, kesewenang-wenangan, dan keserakahan. Keadaan tersebut, menurutnya, terlihat dalam kenyataan yang terjadi di banyak negara dan lembaga besar yang memiliki kemampuan serta sumber daya luas.

Ia menambahkan bahwa ketika suatu umat bergerak di jalan Allah, umat tersebut membebaskan dirinya dari dominasi para tiran, penguasa zalim, kekuatan arogan, dan para pelaku kejahatan, serta memperoleh pertolongan dan dukungan Ilahi.

Al-Houthi menjelaskan bahwa ia memandang jihad sebagai sarana untuk melindungi masyarakat dan membebaskan mereka dari kekuasaan tirani. Ia menegaskan bahwa salah satu hasil jihad adalah tegaknya kebenaran, keadilan, dan kebaikan dalam masyarakat.

Menurutnya, bahkan bangsa-bangsa yang mencintai perdamaian dan menghendaki kebaikan bagi masyarakat di sekitarnya tidak akan terbebas dari kejahatan pihak-pihak yang ia sebut sebagai pelaku kejahatan dan penindasan.

Ia melanjutkan bahwa jihad di jalan Allah mewujudkan kebebasan dalam pengertiannya yang sesungguhnya dan menempatkan umat pada posisi yang kuat sehingga mampu menghadapi kejahatan, tindakan kriminal, tirani, kerusakan, dan kezaliman.

Pemimpin Ansarullah itu juga menegaskan bahwa alternatif dari jihad adalah keadaan ketika umat menyerah kepada para tiran dan kekuatan arogan. Al-Houthi menyinggung apa yang disebutnya sebagai upaya musuh-musuh untuk mendominasi umat Islam, merampas sumber daya mereka, dan menduduki wilayah-wilayah mereka.

Ia mengatakan bahwa setiap bangsa yang menginginkan kemuliaan, keamanan, dan perlindungan harus memiliki kekuatan serta kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi agresi.

Palestina dan Dampak Dominasi Kekuatan-Kekuatan Besar

Pada bagian lain pidatonya, pemimpin Ansarullah itu membahas persoalan Palestina. Ia mengatakan bahwa sebelum pendudukan Inggris dan kemudian pendudukan Zionis, rakyat Palestina tidak memiliki sikap permusuhan khusus terhadap orang-orang Yahudi maupun Inggris.

Ia menggambarkan rakyat Palestina sebagai bangsa tertindas yang, menurutnya, menjadi sasaran karena keserakahan dan niat jahat pihak-pihak tertentu.

Al-Houthi juga menyatakan bahwa umat Islam selama berabad-abad telah lalai dalam menjalankan kewajiban mereka. Kelalaian tersebut memberikan kesempatan kepada para tiran dan penguasa zalim untuk memperluas penindasan dan kerusakan. Ia menambahkan bahwa para tiran dan pelaku kejahatan telah menjadikan kehidupan masyarakat dipenuhi penderitaan, kesedihan, dan berbagai krisis.

Semakin besar kekuatan yang mereka peroleh, semakin banyak pula sarana dan kemampuan yang mereka gunakan untuk melawan masyarakat.

Dengan menyinggung kekuatan material, militer, dan ekonomi sejumlah negara serta rezim, pemimpin Ansarullah itu mengingatkan bahwa berbagai kemampuan dan pengaruh besar tersebut digunakan untuk melakukan tirani, kejahatan, dan penindasan terhadap masyarakat.

Kritik terhadap Amerika Serikat dan Penggunaan Senjata Mematikan

Abdul Malik Badruddin al-Houthi, ketika menyoroti tindakan Amerika Serikat, mengatakan: "Seandainya negara ini merupakan kekuatan yang menghendaki kebaikan dan perdamaian, serta mengerahkan seluruh sumber daya besarnya untuk melayani masyarakat dunia, bagaimana kiranya keadaan dunia saat ini?"

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menggunakan seluruh kemampuannya untuk menindas masyarakat di berbagai wilayah dunia. Pemimpin Ansarullah itu kemudian menyinggung penggunaan senjata nuklir dan bom atom oleh Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa senjata-senjata tersebut telah digunakan untuk membunuh ratusan ribu manusia, termasuk anak-anak, perempuan, orang lanjut usia, dan kaum muda.

Al-Houthi juga mengatakan bahwa Amerika Serikat merancang berbagai jenis senjata paling mematikan untuk menghancurkan kota-kota. Ia menegaskan bahwa kota-kota bukanlah barak militer, melainkan kawasan permukiman dan tempat tinggal masyarakat sipil.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa Amerika menggunakan kemampuan medianya untuk menyebarkan kesesatan dan kerusakan, menundukkan bangsa-bangsa, menipu mereka, serta menjerumuskan mereka ke dalam kerusakan.

Terjemahan mencakup seluruh teks yang dikirim. Naskah sumber berakhir pada bagian kritik terhadap penggunaan media oleh Amerika Serikat.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha