Menurut Kantor Berita ABNA, kelompok minoritas suku Rohingya mengklaim kembali mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari tentara Myanmar yang menyerbu kampung mereka. Belasan perempuan Rohingnya mengaku diperkosa oleh ratusan tentara yang melakukan penggeledahan dan penyerangan di desa Yu Syi Kya di bagian barat Myanmar pada 19 Oktober lalu.
Dalam wawancaranya dengan wartawan Reuters, 8 perempuan warga desa Yu Syi Kya mengaku diperkosa tentara. Pada 19 Oktober lalu, ratusan tentara mengklaim mencari ekstrimis melakukan penggeladahan di ratusan rumah warga di desa yang letaknya terpencil tersebut.
Dalam operasi tersebut, tentara memisahkan perempuan muda, dan melakukan aksi kejahatan seksual.
Htin Kyaw, juru bicara Kepresidenan Myamnar dalam jumpa persnya membantah klaim warga Rohingnya tersebut. Dari keterangan panglima militer yang dia minta, mengkonfirmasi adanya penyerangan ke desa tersebut oleh sejumlah kesatuan militer pada tanggal 19 Oktober namun tidak melakukan pelecehan seksual sebagaimana yang dituduhkan.
Htin Kyaw berkata, “Tidak logis, disebuah desa besar dengan 800 kepala keluarga terjadi kasus pemerkosaan massal namun warga desa tersebut tidak melawan.”
Lebih lanjut dalam pernyataannya, Jubir Kepresidenan tersebut mengatakan, yang dilakukan di desa yang dihuni suku Rohingnya tersebut hanyalah misi mencari orang-orang yang tertuduh provokator dan berbahaya bagi negara. “Sangat mungkin terjadi kekerasan dan perlakuan kasar dari tentara terhadap warga, tapi tidak sampai melakukan aksi pemerkosaan, apa itu dilakukan kepada sejumlah perempuan.” Bantahnya.