Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al Uzhma Sayid Ali Khamanei mengingatkan, salah satu tugas dan kewajiban IRGC adalah menjamin keamanan nasional dan luar negeri. Jika tidak ada keamanan luar negeri maka menurut Rahbar keamanan nasional juga akan terancam. Iran dikelilingi bahaya dan mayoritasnya dipaksakan oleh kekuatan asing khususnya di kawasan. Dengan bersandar pada prinsip dan cita-cita Revolusi, Iran melawan ancaman tersebut dan salah satu prinsip tersebut adalah bergerak ke arah dunia yang aman tanpa hegemoni kekuatan besar global. Hal tersebut disampaikan saat bertemu dengan para komandan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Ahad (18/9) di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran.
Kondisi saat ini di kawasan menunjukkan realita ini bahwa apa tengah berlangsung di sistem internasional dalam pandangan realistis adalah sangat mengkhawatirkan dari sisi keamanan. Sementara di bidang hubungan internasional, kecenderungan hegemoni semakin meningkat drastis.
Pergerakan kekuatan-kekuatan intervensif dalam mengobarkan perang, menyebar kekerasan dan intervensi di bidang urusan dalam negeri negara kawasan dilakukan dalam bentuk terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Hal ini hanya bisa diinterpretasikan bahwa perilaku seperti ini tak lain merupakan rasio hegemoni dan dominasi.
Rekomendasi Rahbar kepada negara-negara kawasan juga berdasarkan poin ini. Kepada sejumlah negara kawasan, Rahbar menjelaskan, jika mereka tidak cerdik dan waspada serta tidak menyadari tipu daya Amerika Serikat dan tertipu dengan senyum manisnya, maka mereka akan tertinggal 50 atau bahkan 100 tahun.
Di kondisi seperti ini, menjaga keamanan merupakan prioritas utama. Memiliki keamanan dalam arti sebenarnya memiliki persyaratan dan salah satunya adalah meningkatkan kemampuan dlam menjaga keamanan itu sendiri di samping pemahaman yang benar atas kondisi sekitar serta bentuk ancaman yang ada. Pemahaman ini akan semakin berkembang dengan pengalaman sebelumnya dan akan berubah menjadi soft power bagi Republik Islam Iran.
Oleh karena itu, Rahbar menjelaskan kepada para komandan IRGC, seiring dengan kemajuan teknologi dan persenjataan musuh maka Sepah Pasdaran juga jangan merasa puas dengan kemajuan di bidang sains dan teknologinya serta jangan menghentikan semangat untuk maju.
Menurut interpretasi Rahbar, soft power Iran muncul dari ketidakpercayaan kepada kekuatan imperialis dan hegemonis khususnya Amerika Serikat. Rahbar menilai ketidakpercayaan mutlak kepada AS akibat dari rasionalitas pemikiran dan pengalaman. Beliau menekankan, permusuhan AS terhadap Iran tampak selama tahun-tahun pasca kemenangan Revolusi dan di isu terbaru perundingan nuklir serta isu lainnya. Menurut Rahbar perundingan dengan Amerika bukan saja tidak bermanfaat, namun malah merugikan.
Tepatnya karena argumentasi ini bahwa ketidakpercayaan tersebut berubah menjadi sumber soft power Iran dalam menjaga keamanan. Menurut sudut pandang ini, elemen ini harus diperhatikan sebagai salah satu unsur positif dan berpengaruh dalam memperkokoh keamanan yang harus diperluas dari hari ke hari.
Amerika yang saat ini bersikeras berunding dengan Republik Islam Iran bukan sebuah kebetulan. Seperti yang dijelaskan Rahbar, desakan AS untuk berunding dengan Iran terkait isu-isu di Asia Barat (Timur Tengah) khususnya Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman adalah untuk mencegah kehadiran Tehran di kawasan sebagai pihak utama yang menyebabkan kegagalan Washington. Dewasa ini pergerakan bangsa Iran semakin transparan, berani dan besar meski menghadapi sanksi dan ancaman.