10 Mei 2016 - 18:02
JK Ingatkan Peran Ulama Sangat Penting untuk Membendung Radikalisme Agama

Menurut Jusuf Kalla, adalah tanggungjawab seluruh umat Islam di dunia, termasuk para alim ulama, untuk menyelesaikan masalah buruknya citra Islam di dunia internasional.

Menurut Kantor Berita ABNA, Negara-negara yang tengah dilanda konflik saat ini, sebagiannya adalah negara-negara Islam.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, dalam sambutannya, di acara International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) di Gedung Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Senin (9/5) menyebutkan sejumlah negara-negara Islam yang tengah dilanda konflik saat ini sedikit banyaknya telah memperburuk citra Islam.

“Di banyak negara timbul Islamophobia, paham yang tentu mendeskreditkan Islam,” ujar Jusuf Kalla.

Ditengah sambutnnya, JK turut menyoroti kemenangan Shadiq Khan, politisi muslim, yang terpilih sebagai walikota London, Inggris. Ia menyebut kemenangan Sadiq, telah membantu memperbaiki citra Islam.

“Kita cukup berbahagia beberapa hari yang lalu umat Islam jadi Wali kota London, artinya dengan segala kampanye anti-Islam, tetap juga yang baik itu menjadi pemimpin,” ujarnya.

Menurut Jusuf Kalla, adalah tanggungjawab seluruh umat Islam di dunia, termasuk para alim ulama, untuk menyelesaikan masalah buruknya citra Islam di dunia internasional. Kata dia, kekuatan Islam harus bersatu untuk menyelesaikan konflik di negara Islam. “Sungguh tragis memang apa yang terjadi hari ini, dan semua itu tentu bagian apa yang harus kita selesaikan,” ujarnya.

Pada bagian lain sambutanya, JK menyinggung fenomena takfirisme dan radikalisme yang melanda umat Islam, khususnya dikalangan anak muda Islam. Menurutnya paham takfirisme telah menjadi penyebab utama kalangan anak muda Islam tidak segan-segan membunuh orang lain yang tidak bersala demi ambisinya masuk surga.

JK menyebutkan, pelaku teror yang siap mati dalam menjalankan aksinya sebagian besar adalah anak muda. Wakil Presiden RI menduga mereka mau melakukan aksi tersebut, karena kekeliruan dalam memahami makna jihad.

Lebih lanjut ia mengatakan para pelaku bom bunuh diri, telah salah memahami syarat untuk masuk surga. “Apa yang dia cari? Ialah surga. Persoalannya siapa yang mengajari dia bahwa dengan membunuh satu sama lain akan masuk surga?” tanyanya.

Kata dia umumnya para pelaku teror yang siap mati, bukanlah orang-orang yang taat beribadah sebelumnya, dan pemahamannya tidak dalam. Oleh karena itu mereka bisa dengan mudah diperdaya. Ia mengatakan di Eropa para pelaku teror yang mengatasnamakan umat muslim, bukanlah orang yang rajin beribadah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di Indonesia hal yang sama juga berlaku.

Untuk kasus Indonesia, Jusuf Kalla mengaku mengetahui hal tersebut setelah menangani konflik antar unat bragama di Poso, Sulaesi Tengah, pada Desember 1998 hingga Desember  2001, serta konflik Ambon tahun 2011 lalu.

“Pengalaman saya di Poso, di Ambon, semuanya saling membunuh dengan alasan surga. Anak-anak muda yang selama ini tidak mengenal masjid dan gereja, mencari jalan pintas untuk masuk surga dengan cara membunuh,” katanya.