Menurut Kantor Berita ABNA, kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali memenggal seorang jurnalis asal Amerika Serikat. Melalui sebuah video yang diunggah ke internet ISIS mengaku telah memenggal jurnalis kedua Amerika Serikat yang disandera, Steven Sotloff.
Bulan lalu, Gedung Putih menegaskan keaslian video mengerikan tentang pemenggalan wartawan AS, James Foley oleh ISIS. Kali ini ISIS memperingatkan bahwa mereka akan membunuh Sotloff, jika presiden AS tidak menghentikan serangan udara. Demikian dilansir Press TV.
"Kehidupan warga negara Amerika ini, tergantung pada keputusan Anda (Obama) berikutnya," kata militan ISIS.
Situs pelacak aktivitas online kelompok teroris (SITE) mengatakan pada hari Selasa (2/9) bahwa video pemenggalan Sotloff diposting ke internet hampir dua pekan setelah pemenggalan Foley.
Video itu memperlihatkan kondisi Sotloff yang berada di bawah todongan pisau oleh militan ISIS dengan latar belakang padang pasir. Sotloff menghilang di Suriah pada tahun 2013, ia tercatat sebagai jurnalis yang bekerja sama dengan majalah Times.
Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan para pejabat Washington sedang memeriksa laporan tersebut. Dalam video itu, ISIS diduga juga mengancam untuk membunuh David Haines, warga negara Inggris. Gambar David Haines tampak dibagian-bagian akhir video.
Obama: Eksekusi Jurnalis Tak Akan Intimidasi AS
Dalam tanggapannya atas dieksekusinya jurnalis AS Steven Sotloff, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menegaskan, pihaknya tidak akan terintimidasi dengan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Steven Sotloff, jurnalis berusia 31 tahun itu, merupakan jurnalis AS kedua yang dieksekusi oleh ISIS, setelah James Foley.
"Amerika tidak akan terintimidasi oleh kekerasan mengerikan yang dilakukan oleh kelompok ISIS. Keadilan akan ditegakkan," ujar Obama, seperti dikutip Associated Press, Rabu (3/9/2014).
"Kematian warga AS (Foley dan Sotloff) hanya akan menyatukan Amerika. Rakyat Amerika tidak akan pernah melupakan," jelasnya.
ISIS melakukan eksekusi terhadap Steven Sotloff, sebagai bentuk balasan atas serangan udara AS di Irak. Sotloff merupakan jurnalis AS kedua yang dipenggal ISIS. Sebelumnya, kelompok tersebut juga melakukan hal serupa kepada James Foley.
Sotloff sebelumnya sudah disandera sejak Agustus 2013 lalu. Eksekusi terhadap pria berusia 31 tahun tersebut seperti meluluhkan semua upaya dari pihak keluarga yang menginginkan Sotloff dibebaskan oleh ISIS. Pada bagian lain pernyataannya, Obama mengintruksikan agar pasukan militer AS segera dikirim ke Irak. Atas instruksi tersebut, dikirim 350 personel militer tambahan ke Irak.
Pihak Gedung Putih sudah menegaskan bahwa pasukan AS tidak akan memegang peran kombatan di Irak. Namun mereka tiba di saat waktu kritis di saat kekerasan meningkat dan pasukan Irak tidak mampu lagi melawan ISIS.
"Pengiriman pasukan dilakukan atas rekomendasi Kementerian Pertahanan, setelah dilakukan pengkajian menyeluruh. Ini adalah bagian dari komitmen presiden untuk melindungi personel dan fasilitas di Irak dan mendukung Pemerintah Irak melawan ISIS," ujar Juru Bicara Pentagon Laksamana John Kirby, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/9).
ISIS belum mau menghentikan aksinya. Dalam video pemenggalan Steven Sotloff ISIS mengancam siap memenggal satu orang tahanan lagi. Orang tersebut adalah David Cawthorne Haines. Haines diketahui adalah warga negara Inggris.
Dia merupakan konsultan direktur perusahaan Kroasia. Di dalam video pemenggalan Sotloff, Haines terlihat dimunculkan di akhir video.
Di Video itu ISIS mengeluarkan ancaman kepada Inggris. Kelompok radikal ini menuntut Inggris tidak ikut campur masalah di Irak dan Suriah bila ingin nyawa Haines selamat.