Menurut Kantor Berita ABNA, ajakan untuk mengikuti jihad seks tidak saja menimpa wanita Tunisia yang pada akhirnya memusingkan Menteri Dalam Negeri, Lotfi Ben Jeddou karena ratusan wanita Tunisia pulang dari suriah hamil, kini di Indonesia beredar ajakan untuk menjadi budak seks.
Ajakan untuk wanita bersedia menjadi budak seks melalui jihad nikah ditandai beredarnya pamflet berisi lowongan budak seks untuk gerilyawan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang menyebar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat.
Pamflet itu diterima oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Sudarnoto Abdul Hakim melalui pesan WhatsApp.Dalam pamflet itu, disebut Masjid Fathullah — yang merupakan masjid di Kampus UIN — sebagai sekretariat ISIS Indonesia.
Yang menjadi persoalan, kata Sudarnoto, pamflet tersebut menyebut Masjid Fathullah, yang merupakan masjid milik kampus UIN, sebagai sekretariat ISIS Indonesia. Padahal, dia memastikan, tak ada kegiatan tersebut di lingkungan kampus. “Ini cara-cara mendiskreditkan sebuah lembaga,” katanya kepada Tempo di kantornya, Kamis, 7 Agustus 2014.
Dia menengarai pamflet tersebut disebarkan oleh kelompok-kelompok radikal semacam ISIS. “Ini menggambarkan rendahnya moral dan martabat kelompok jihadis, karena telah merendahkan martabat perempuan, merendahkan fungsi masjid, dan menghina umat Islam dan ajaran Islam,” kata Sudarnoto.
Dalam pamflet yang didapat Tempo dari Sudarnoto, tertulis judul “Lowongan Budak Seks”. Ada beberapa gambar wanita dengan bagian paha yang tersingkap namun menggunakan hijab berwarna hitam-hitam. Lalu terdapat tulisan “Menghibur dan Memberi Semangat Mujahidin yang Sedang Memerangi Kafir”. Ditambahkan pula, peminat lowongan ini bisa menghubungi sekretariat ISIS Indonesia di Masjid Fathullah UIN Ciputat.
Sayangnya, Sudarnoto tak begitu tahu sejauh mana pamflet ini tersebar. Namun dia mengaku khawatir karena organisasi radikal tersebut menggunakan nama UIN Ciputat.
Ihwal penyebaran pamflet tersebut, pengurus Masjid Fathullah menyatakan telah membatasi kegiatan di masjid. “Kegiatan di luar kegiatan masjid kami hentikan dulu untuk cooling down,” kata Ahmad Yani, salah satu pengurus masjid. Untuk sementara, tempat ibadah ini hanya akan digunakan untuk kepentingan internal masjid. “Jadi, (karena) situasi seperti sekarang, tak ada perizinan dari pengurus buat kegiatan di luar.”
Menanggapi hal itu Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai pamflet itu sesat. Jihad nikah tidak sesuai sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama Islam.
“Dalam Islam untuk jihad tidak ada itu istilah wanita penghibur, apalagi budak seks seperti itu,” kata Din, saat dihubungi, Jumat, 8 Agustus 2014. “Islam sama sekali tidak mengajarkan itu.”
Din mengatakan ajaran ISIS dalam berjihad itu sangatlah menyimpang. Yang sebenarnya, kata Dia, umat Islam dalam perjuangan jihad sangat menghargai kaum perempuan dengan melindunginya dari intimidasi musuh. “Bukan malah dijadikan budak seks.” Din menilai pamflet itu hanya berisi selebaran provokatif dari sekelompok orang. [satuislam]