23 Agustus 2014 - 06:01
Imam Ja'far Shadiq Penggagas Ilmu-ilmu Modern

Ayatullah al-Uzma Shafi Gulpaigani dalam salah satu tulisannya menyatakan bahwa Imam Jaafar al-Sodiq telah mengambil kesempatan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya. Beliau mendapat peluang emas sehingga dapat memimpin gerakan ilmu terbesar denngan mendirikan madrasah di mana para ulama termasyhur menjadi murid beliau, mengambil hadis serta ilmu dari majelis-majelis beliau.

Menurut Kantor Berita ABNA,  Ayatullah al-Uzma Shafi Gulpaigani dalam salah  satu tulisannya menyatakan bahwa Imam Jaafar al-Sodiq telah mengambil kesempatan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya. Beliau mendapat peluang emas sehingga dapat memimpin gerakan ilmu terbesar denngan mendirikan madrasah di mana para ulama termasyhur menjadi murid beliau, mengambil hadis serta ilmu dari majelis-majelis beliau.

Terjemahan tulisan Ayatullah Shafi  adalah seperti berikut:

Imam Ja'far al-Sodiq (a.s) telah meresmikan sebuah madrasah pada kurun kedua hijrah yang tiada bandingannya dalam sejarah Islam sebelum itu dan masa sesudahnya masih belum kelihatan madrasah sepertinya. Ajaran dan madrasah beliau sentiasa dicari oleh para ulama besar Ulum al-Qur'an, Fikih, Kalam, Kimia dan lain-lain.

Fikah Syiah yang tergolong dalam ribuan pasal undang-undang dan pengajaran, program ilmu dan akhlak Islam dalam berbagai masalah, (bahkan boleh dikatakan hampir semua perkara) telah terhutang budi dengan limpahan ilmu Imam Ja'afar al-Sodiq yang sulit dihitung.

Misalnya berbicara mengenai huku haji yang merupakan salah satu kewajiban Islam yang utama, mengandungi falsafah tertinggi dan nilai yang ulung dari keluasan samudera ilmu Imam Ja'far al-Sodiq (a.s). Bak kata Abu Hanifah, semua itu adalah keluarga didikan Imam Ja'far al-Sodiq (a.s) dan hadis dalam kitab Ahli Sunnah yaitu Sahih Muslim telah diriwayatkan dari beliau yang menyampaikan hampir empat ratus pasal berkenaan dengan hukum pelaksanaan haji di mana Ahlus Sunnahpun mengikuti hukum tersebut.

Memang benar, Imam Ja'far al-Sodiq telah menggunakan peluang keemasan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya, sehingga beliau memimpin gerakan ilmu paling besar dan meresmikan sebuah madrasah dimana para ulama terkenal telah menjadi murid dan mengambil hadis serta ilmu beliau.

Popularitas ilmu Imam Ja'far al-Sodiq as menyebabkan para ulama dari Hijaz, Khorasan dan Sham telah belajar dari beliau dan hanya beliau saja satu-satunya jalan penyelesaian masalah ilmu dimasanya.

Apa yang perlu diberi perhatian dan diamati adalah kepempinan beliau tidak terbatas dalam ilmu pengetahuan Islam semata-mata, bahkan beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang lain seperti astronomi, falak, matematika, pengobatan, metafizika, kimia, biotani dan banyak lagi. Beliau turut mendidik murid-muridnya yang masyhur sehingga lestari dalam lembaran-lembaran hari ini dan menghiasi buku-buku kaum muslimin seperti Tauhid Mufdal, dan Risalah Ahlijah serta dialog-dialog beliau dengan kelompok Atheis. Semuanya menjadi saksi pernyataan ini yaitu ajaran beliau bagaikan sebuah universitas yang mana fakultas-fakultas dominannya telah diasaskan dalam berbagai ilmu. Dalam setiap ajaran dan fakultas terdapat perbahasan, pelajaran dan penyelidikan berkenaan dengan ilmu kepakaran yang sentiasa dicari dan dikejar.

Sebagai contoh, salah satu dari ilmu yang telah diajar oleh Imam Ja'far al-Sodiq kepada umat Islam adalah Kimia yang mana seorang yang pandai bernama Jabir bin Hayyan menjadi murid yang paling termasyhur dari alumni madrasah beliau. Sekiranya kita telah mengambil manfaat dari tokoh yang belajar dengan Imam ke-enam ini dan menitik beratkan beberapa ilmu lain yang menjadi keperluan masyarakat yang berperadaban dan maju, maka hari ini di lapangan materilistik, kita tidak akan memerlukan Barat, Eropa dan Amerika, walau apapun yang mereka miliki. Kemajuan yang dicapai Barat, prinsip-prinsip tertingginya adalah hasil dari usaha ulama-ulama Islam.

Murid tersebut mempunyai kepakaran dalam kebanyakan ilmu pengetahuan Islam, perobatan, astronomi, falak, alam sekitar, matematika, kimia, falsafah, mantik, akhlak, sejarah, sastera, syair, vaterinar, botani, pembuatan senjata dan lain-lain lagi.

Homu merupakan orang pertama yang menggunakan neraca sebagai pengalaman ilmu dan menentukan kadar sesuatu benda dalam setiap eksprimennya. Beliau dapat mengukur jarim kecil yang tidak dapat ditimbang secara tepat di masanya melainkan sekedar menebak. Selepas enam ratus tahun, ahli kimia di Barat sudah menggunakan neraca dalam eksperimen masing-masing.

Setelah 10 kurun cendekiawan tersebut berterus terang dalam bukunya yang berjudul "al-ma'rifah bi al-sifat al-ilahiyah wal hikmah al-falsafah" bahwa pandangan masyhur ahli fizika, kimia dan ilmu alam sekitar Inggris, John Dalton mengenai 'penyatuan antara dua unsur' dalam kitabnya adalah karena jasa Jabir bin Hayyan, bukannya John Dalton.

Memang benar, setiap seorang dari murid ajaran ini hanyalah menunjukkan keagungan tanpa batas aliran ini. Walau bagaimanapun sekolah pemikiran dan universitas besar ini, bukan saja para tokoh Syiah saja yang mengaku secara terus terang mengenai ketinggian ilmu Imam Ja'far as, malah para tokoh dari aliran Ahli Sunnah seperti Abu Hanifah berkata:

مَا رَأَيتُ أفقَه مِنْ جَعْفَر بْنِ مُحَمَّد؛

Aku tidak melihat orang yang lebih berpengetahuan dan memahami daripada Ja'far bin Muhammad.

Ataupun Najashi di dalam kitab rijalnya menukil dari Ahmad bin Isa Asha'ari yang berkata, "Aku pergi ke Kufah untuk menuntut ilmu dan di sana aku menemui Hasan bin Ali Wassha. Aku berkata kepadanya, "Berikan kepadaku kitab Ala bin Zarrin dan Aban bin Uthman Ahmar supaya aku dapat menyalinnya. Beliau memberikan kedua-dua kitab tersebut dan aku berkata, "Izinkan aku meriwayatkannya." Jawab beliau, "Semoga Allah merahmatimu, betapa tergesa-gesanya engkau, bawakan ia pergi dan tulislah, kemudian bawa ke mari dan bacakan supaya aku mendengarnya, ketika itu aku akan memberikan izin."

Aku berkata, "Aku tidak pasti dapat mengingatnya."

Jawab Hasan bin Wassha, "Aneh! Sekiranya aku tahu bahwa terdapat pemburu hadis seperti ini, maka aku akan mengumpul dengan lebih banyak. Aku kenal 900 sheikh di masjid Kufah dan semua berkata, "Telah diriwayatkan daripada Imam Ja'far al-Sodiq."

Madrasah dan universitas besar apakah ini sehingga para muwaqif dan mukhalif merasa heran dan sepanjang sejarah menunjukkan Nabi saw telah besabda berkali-kali bahwa, "Itrahku dan Ahlul Baitku; mempunyai kedudukan, ilmu dan derajat ini, namun sayangnya percaturan politik justru meninggalkan rujukan Ahlul Bait as sehingga sampai ke tahap al-Bukhari tidak menukilkan satu pun hadis dari Imam Ja'far al-Sodiq (a.s) sebagaimana kata penyair:

قَــــضِیــةٌ أشْـــبَهَ بِالمرْزِئَــةِ * هــذا البُخــاری إمــامُ الفِــئَـةِ بِالصَّادِقِ الــصِّدِّیقِ مـــا إحـتجَ فی * صَــحیــحِهِ وَ احــتـجّ بِـالمرجِئَة إنَّ الإمَــــامَ الصَّادِقَ المجْـــتَـبى * بِــفَــضْلِهِ الآی أتَــت منـــبئة أجَـلّ مِنْ فی عَـــــصْرِه رُتْـــبَة * لم یقْـــتَرِفْ فی عُــــمْرِه سَــیئَة قَــــلامة مِـــنْ ظــفـر إبهَـامِه * تَعْـــدِلُ مِنْ مِثْـــلِ البُخاری مِـئَة

Khazanah yang amat bernilai ini perlu diambil tahu dan semua orang menuntut ilmu dalam universitas besar ini. Dalam hari-hari peringatan kesyahidan Imam as, orang banyak hendaklah bergabung dalam majelis kedukaan dengan segala keluh kesah serta membesarkan dan menghormatinya.