8 Mei 2014 - 14:06
Islam Memperhatikan Hak-hak dan Martabat Buruh

Prinsip kerja dan usaha sangat dihormati dalam Islam, dan perhatian agama Samawi ini terhadap hak-hak dan martabat buruh serta semua partisipan di sektor industri di dasarkan pada pandangan ini.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai penghargaan dan penghormatan kepada buruh dan semua peran pengusaha di sektor produksi sebagai sebuah keniscayaan yang berasal dari ajaran Islam

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan hal itu dalam pidatonya di hadapan para buruh, pekerja, manajer, desainer dan perancang di kompleks industri PerusahaanPengelolaan Proyek-proyek Pembangkit Listrik Iran (MAPNA)dan ratusan buruh dari sejumlah unit produksi di Karaj, Rabu (30/4).

 

Rahbar menuturkan, prinsip kerja dan usaha sangat dihormati dalam Islam, dan perhatian agama Samawi ini terhadap hak-hak dan martabat buruh serta semua partisipan di sektor industri di dasarkan pada pandangan ini.

 

Beliau menilai pandangan pertentangan antara buruh dan pengusaha sebagai pandangan umum antara Marxisme dan pemikiran Barat. Ayatullah Khamenei menolak gagasan yang salah tersebut dan mengatakan, "Di semua bidang termasuk masalah buruh dan produksi, Islam menetapkan prinsip menghormati, interaksi dan kerjasama, di mana pandangan itu harus dijadikan tolok ukur dan dasar di semua sektor sosial dan ekonomi."

 

Ketika menyinggung penghinaan terhadap bangsa Iran di masa sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, Rahbar menandaskan, di satu masa ketika Barat tenggelam dalam kebodohan nyata, Iran telah menyumbangkan tokoh-tokoh besar ilmiah dan budaya kepada umat manusia, namun Barat telah mendominasi ekonomi, politik dan sosial Iran dengan memperalat para pemimpin taghut.

 

Kenyataan pahit ini, kata Rahbar, adalah sebuah penghinaan besar bagi bangsa Iran yang memiliki peradaban kuno dan warisan budaya yang tinggi.

 

Ayatullah Khamenei  juga menyinggung berakhirnya periode penghinaan terhadap bangsa Iran pasca kemenangan Revolusi Islam. Beliau menegaskan, "Jika bangsa Iran ingin mencapai posisi mulia dan layak di dunia di bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya, serta ingin menjadi rujukan kemajuan sains dan teknologi, maka mereka di semua sektor harus bersandar pada ilmu pengetahuan, kecerdasan, dinamisme, inisiatif dan tekadbaja."

 

Di bagian lain pidatonya, Rahbar menyinggung pilar penting dari Ekonomi Muqawama yaitu fokus dengan produk dalam negeri, dan mengatakan, kita harus berkembang dari dalam, namun tetap aktif dan efektif di pasar-pasar internasional.

 

"Ketika Iran bertekad untuk memperkaya uranium hingga 20 persen, kekuatan-kekuatan dunia tidak percaya, namun sekarang ketika para ilmuwan Iran mampu mencapai teknologi tersebut dengan kecerdasan dan inisiatif mereka, semua kekuatan dunia mengatakan bahwa mereka siap untuk menjualnya ke Iran, dan pengayaan uranium tidak boleh dilakukan di Iran," pungkasnya. (IRIB Indonesia)