8 Maret 2014 - 20:30
Rakyat Iran Berkomitmen Penuh terhadap Revolusi Islam

"Musuh mengira dengan sanksi akan mampu membuat Iran bertekuk lutut. Tapi rakyat negara ini membuktikan komitmen penuh mereka terhadap cita-cita revolusi dan menunjukkan kemampuannya yang besar dalam menghadapi berbagai masalah."

Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib Shalat Jumat Tehran mengingatkan tim juru runding Iran supaya waspada dalam perundingan dengan kelompok 5+1.

 

Ayatullah Mohammad Ali Movahedi Kermani Jumat (7/3) menegaskan urgensi pengetahuan lebih besar mengenai musuh, termasuk memahami motif statemen delegasi AS, Wendy Sherman dalam perundingan antara Iran dan kelompok 5+1 baru-baru ini, dan semua pihak memiliki hak yang sama dan setara dalam perundingan.

 

"Amerika merupakan negara yang tidak berkomitmen terhadap perundingan," ujar Ayatullah Movahedi dalam khutbahnya.

 

Menurut Khatib Jumat Tehran, program energi nuklir yang dipersoalkan Barat, terutama AS hanya alasan musuh Republik Islam untuk menyerang Iran.

 

"Musuh mengira dengan sanksi akan mampu membuat Iran bertekuk lutut. Tapi rakyat negara ini membuktikan komitmen penuh mereka terhadap cita-cita revolusi dan menunjukkan kemampuannya yang besar dalam menghadapi berbagai masalah, " tegas Ayatullah Movahedi.

 

Khatib Jumat Tehran mengritik statemen pejabat AS yang mengungkapkan terbukanya semua opsi, termasuk militer, dan menilainya sebagai bentuk kelemahan Washington.

 

"Ketika tidak mampu menyampaikan sesuatu secara logis, mereka [AS] mengambil opsi militer untuk membungkam pihak lain," tutur Khatib Shalat Jumat Tehran.

 

Sebelumnya, Menlu AS, John Kerry dalam sebuah wawancara di Jenewa mengatakan bahwa opsi militer masih terbuka di atas meja, jika Iran tidak memenuhi komitmen nuklirnya sesuai kesepakatan Jenewa.

 

Deputi Menlu AS, Wendy Sherman Selasa (4/2) saat berada di komite hubungan luar negeri Senat Amerika mengatakan, "Jika Iran berkomitmen dengan janjinya, maka dunia akan menjadi lebih aman, namun jika Tehran bersikap sebaliknya maka seluruh opsi masih tetap terbuka dan akan dimanfaatkan,".

 

Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Masoud Jazayeri, mereaksi pernyataan pejabat Washington dengan menyatakan, kepentingan Amerika Serikat di kawasan akan benar-benar hancur jika terjadi serangan militer terhadap Republik Islam.

Menurutnya, pemerintah AS mengetahui bahwa opsi militer anti-Iran tidak praktis.