Menurut Kantor Berita ABNA, lambatnya pertolongan medis karena masuknya ambulans ke areal kampus khusus perempuan sempat dihalangi oleh pihak Universitas Raja Saud, Riyadh Arab Saudi, menyebabkan salah seorang mahasiswi universitas tersebut meninggal dunia, sebagaimana dilansir dari AFP Jum'at (7/20).
Berita setempat menurunkan berita mengenai peristiwa tersebut dengan menuliskan, "Seorang mahasiswi yang membutuhkan bantuan medis secara cepat sempat terhalangi oleh kebijakan universitas karena petugas ambulans dan tim medis yang datang tidak disertai laki-laki pelindung yang sah dari anggota keluarga mahasiswi yang bersangkutan."
Karena pihak keluarga tidak juga bisa didatangkan dalam dua jam, Mahasiswi yang bernama Amna Bawazeer akhirnya meninggal dunia. Perempuan berusia 24 tahun tersebut dikabarkan telah lama mengidap penyakit jantung, dan pada saat kejadian, penyakitnya kambuh dan membutuhkan pertolongan medis. Ambulans akhirnya diizinkan masuk oleh Universitas untuk membawa jenazah mahasiswi malang tersebut ke rumah sakit terdekat.
Peristiwa tragis tersebut menuai protes. Teman-teman mahasiswi Amna menulis sejumlah protes dan kritikan pada pihak universitas di Twitter, tapi pihak universitas tidak bergeming karena menganggap kebijakan tersebut sesuai dengan aturan kampus yang telah disesuaikan dengan ajaran agama.
Kejadian lebih tragis pernah terjadi pada tahun 2002. Pada Senin 11 Maret 2002 lalu, sebuah Sekolah Menengah Negeri terbakar pada pukul 8.00 waktu Mekkah. Ada sekitar 800 siswi dan 55 guru perempuan yang terjebak di tengah kobaran api yang bersumber dari lantai atas gedung sekolah khusus perempuan itu.
Kontan para siswi dan guru perempuan berhamburan menuju pintu utama sekolah untuk menyelamatkan diri dari jilatan api yang makin membesar. Namun sayangnya, usaha mereka harus kandas.
Petugas dari Committee for the Promotion of Virtue and the Prevention of Vice (Komite untuk Promosi Kebaikan dan Pencegahan Kejahatan, Amr Ma’ruf wa Nahy Munkar) atau dalam bahasa Arab disebut mutawwa’in Kerajaan Arab Saudi yang datang ke lokasi kejadian melarang mereka ke luar dari TKP. Bahkan para mutawwa’in itu yang dibantu penjaga sekolah menutup dengan sengaja pintu utama gedung sekolah.
Akibatnya sekitar 14 siswi meninggal dan 50 siswi lainnya luka-luka. Para siswi meninggal karena mereka terbakar hidup-hidup ketika tangga di dalam gedung sekolah runtuh dimakan api. Para siswi yang menjadi korban kobaran api berasal dari Arab saudi (9 siswi), juga dari Mesir, Chad, Guiena, Niger, dan Nigeria.
Saksi mata yang berada dekat lokasi kejadian mengatakan tiga petugas mutawwa’in menghalau para siswi yang ingin keluar dari gedung sekolah. Mutawwa’in juga melarang masyarakat yang hendak menolong siswi-siswi yang ketakutan itu sambil berkata, “Mendekati mereka adalah dosa”.
Mutawwa’in beralasan para siswi itu tidak mengenakan jilbab dan abaya (jubah hitam). Pakaian yang diwajibkan kerajaan Arab Saudi untuk semua perempuan yang ada di sana. Mutawwa’in khawatir kontak fisik dengan para siswi yang tidak mengenakan jilbab dan abaya tersebut akan mendorong hasrat seksual mereka dan laki-laki yang melihat para siswi itu.
Tragedi yang diberitakan oleh media lokal seperti The Saudi Gazette dan Harian al-Eqtisadiah serta media internasional seperti BBC News ini sontak mengundang perhatian banyak kalangan.
Hanny Megally, Direktur Eksekutif Human Rights Watch divisi Timur-Tengah dan Afrika Utara, menyatakan “Women and girls may have died unnecessarily because of extreme interpretations of the Islamic dress code”. Bahkan ia menuntun semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tragedi ini harus bertanggungjawab.
Kerajaan Arab Saudi memang tidak tinggal diam. Kerajaan Arab Saudi membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Gubernur Mekkah, Abdul Majid. Pangeran Saif, Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, berjanji akan menuntut yang bertanggungjawab atas kejadian itu. Namun di saat yang sama, Saif menyatakan bahwa kematian para siswi bukan disebabkan oleh kebakaran, melainkan karena kepanikan para siswi itu sendiri.
Sama seperti gedung-gedung sekolah untuk perempuan di Arab Saudi lainnya, gedung sekolah di distrik Hindawiya itu memang tidak layak untuk menampung 800 siswi. Apalagi gedung sekolah tersebut tidak memiliki alarm kebakaran, alat pemadam kebakaran, dan pintu darurat. Tapi para siswi itu tidak akan menjadi korban dan luka-luka bila tiga petugas mutawwa’in tidak memiliki pandangan keagamaan yang sempit.
503761