Menurut Kantor Berita ABNA, dalam satu sesi Konferensi Internasional Wahdah Islamiyah ke-27 yang tengah berlangsung di Tehran Republik Islam Iran, pesan tertulis Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi dibacakan oleh Mr. Ali Zadeh Musawi.
Bunyi pesan tersebut sebagai berikut:
Bismillahirrahmanirrahim
Sebelumnya, kami menyampaikan selamat dan ucapan suka cita kepada semua hadirin, saudara-saudara dan saudari-saudari sekalian, akan datangnya hari peringatan kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw beserta salah satu keturunannya yang mulia Imam Ja'far Shadiq as, khususnya kepada para pengelola Lembaga Dunia Persatuan antar Mazhab Islami beserta jajarannya yang telah menyelenggarakan pertemuan besar dan agung ini. Atas kerja kerasnya sehingga pertemuan ini terselenggara kami mengucapkan banyak terimakasih dan kami optimis bahwa pertemuan ini akan membawa keberkahan dan mencatat sejarah baru yang gemilang.
Saudara-saudari yang kami muliakan.
Sekarang, kita tengah membicarakan pentingnya persatuan umat Islam ditengah gencarnya perselisihan dan perpecahan yang terjadi di negara-negara Islam. Api peperangan dan pertumpahan darah tengah berkecamuk. Mulai dari Suriah sampai Mesir, Yaman, bahkan termasuk sebagian wilayah dari Irak, Pakistan dan Afghanistan dan mungkin kobaran api perselisihan yang tengah bergelora saat ini antar kaum muslimin lebih dasyhat dari masa-masa sebelumnya, dan sejarah sebelumnya tidak pernah mencatat adanya pertikaian sebesar ini.
Penyebabnya pun sudah sangat jelas dan terang. Bahwa semakin jauhnya kita dari pengamalan nilai-nilai Islam dan lemahnya kita dalam menghadapi konspirasi musuh sehingga menyerahkan diri untuk memenuhi keinginan dan harapan mereka, karenanya hasilnyapun kita lihat.
Al-Qur'an al Majid dalam surah al-An'am ayat 159 menekankan secara tegas akan bahayanya perpecahan dan perselisihan antar kaum muslimin,
« إِنَّ الَّذینَ فَرَّقُوا دینَهُمْ وَ کانُوا شِیَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فی شَیْءٍ إِنَّما أَمْرُهُمْ إِلَی اللَّهِ...»
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya terserah kepada Allah…"
Firman Allah SWT yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw tersebut hendak menegaskan bahwa jalan Nabi yang mengendaki persatuan berbeda dengan jalan mereka yang menyibukkan diri dengan perpecahan dan perselisihan. Agama Nabi adalah agama persatuan, yang menganjurkan persaudaraan dan ikatan kecintaan dan kasih sayang sesama muslim. Bukan agama yang penuh dengan kebencian dan senantiasa menyeru pada permusuhan, perpecahan dan pertumpahan darah.
Pada tempat yang lain di surah ar Rum ayat 31-32 yang menyebutkan bahwa orang-orang syirik itu bukan hanya yang mempersekutukan Allah SWT melainkan juga yang memecah belah agama dan menjadikannya beberapa golongan. Jadi ayat ini menegaskan bahwa perbuatan memecah belah ummat sama halnya berbuat syirik kepada Allah SWT.
Jika kita memperhatikan penyebab dari timbulnya perselisihan, maka ada dua penyebab aslinya yaitu, pertama, adanya kelompok takfiri. Yaitu kelompok kecil dari umat Islam yang mengedepankan pendapat mereka dan diluar kelompok mereka dipandang kafir dan sesat. Sehingga mereka menghalalkan harta, kehormatan dan nyawa siapa saja yang berada diluar kelompok mereka. Kedua, adanya konspirasi musuh yang tidak henti-hentinya sebab memang mereka telah bersumpah untuk menghacurkan dan mengalahkan ummat Islam. Mereka menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan mereka, termasuk mengeluarkan dana perang besar-besaran, sehingga banyak dari saudara kita yang telah menjadi korban mereka, tak terhitung kota-kota yang telah mereka hancurkan dan telah menginjak-injak kehormatan dan kedaulatan umat Islam. Yang sangat disayangkan, dan tidak bisa dipungkiri, sebagian dari pemimpin negara-negara Arab justru berada dipihak musuh dengan turut terlibat dalam dua penyebab asli dari masalah-masalah ini.
Jika kita kaum muslimin mau berpikir dengan baik dan dengan kewaspadaan yang tinggi, kita semestinya berbuat tegas untuk memisahkan diri dari kelompok minoritas takfiri yang menggerogoti ummat Islam dari dalam. Kita satukan sikap untuk menghadapi musuh bersama. Perdamaian dan kerukunan antar umat Islam sepenuhnya kita jaga. Bukankah sebelumnya bertahun-tahun lamanya, warga Syiah, Alawi, Sunni dan Kristiani di berbagai negara seperti Suriah hidup berdampingan dengan rukun dan penuh semangat persaudaraan, negara-negara mereka dalam kondisi yang aman, damai, tentram dan penuh persahabatan namun dengan dibiarkannya kelompok takfiri menjalankan aksinya dengan bantuan pihak musuh, maka semua kenangan itu menjadi hancur lebur.
Ulama Islam pada posisi ini memiliki tanggungjawab yang sangat berat dan besar, karenanya tidak boleh berdiam diri saja. Karena Nabi Muhammad Saw bersabda, "Sewaktu bid'ah ditampakkan secara terang-terangan, ulama harus menampakkan ilmunya dan jika tidak maka akan mendatangkan laknat Allah." Oleh karena itu, ulama-ulama dari berbagai mazhab yang ada yang menyadari penuh tanggungjawab dan tugasnya yang berat telah berkumpul di majelis ini untuk bertekad bersama dengan bersungguh-sungguh untuk terlibat untuk menyelesaikan problema ini.
Peran kalian para hadirin yang mulia sangat besar. Yang dengan bergandengan tangan bersama kita mampu memotong fitnah dan konspirasi musuh. Kita mampu membuat kehidupan menjadi lebih nyaman dan damai jika satu sama lain saling memahami dan bekerjasama. Insya Allah, pertemuan seperti ini tidak berakhir disini, kami tahun depan telah mengagendakan untuk kembali melakukan konferensi bersama ulama-ulama Islam yang secara khusus membicarakan bahaya dan ancaman kelompok takfiri bagi persatuan dan masa depan umat Islam. Yang kembali kehadiran kalian pada pertemuan tersebut sangat diharapkan.
Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita semua dan kami berharap dari relung hati yang paling dalam untuk kalian semua, semoga senantiasa berada dalam kedamaian dan kebahagiaan.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-27 diselenggarakan di ibukota Iran mulai tanggal 17-19 Januari 2014. Konferensi ini fokus pada al-Quran dan perannya dalam memperkuat solidaritas di antara umat Islam serta isu Palestina.
Sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim dari negara-negara dunia seperti, Indonesia, Malaysia, Rusia, Yunani, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Thailand, Suriah, Aljazair, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Uganda, Tunisia, Belanda, Qatar, Yaman dan Mesir, hadir dalam pertemuan tersebut.
497560