Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – kisah Ayatullah Mohsen Haidari mengenai pertemuan-pertemuannya dengan Syahid Sayid Hassan Nasrallah tidak hanya berupa kenangan pribadi, tetapi juga memperlihatkan berbagai sisi perhatian intelektual, keagamaan, dan sosial mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon tersebut.
Dalam wawancara ABNA dengan anggota Majelis Ahli Kepemimpinan Iran ini, sejumlah tema dibahas, antara lain pentingnya penjelasan mutakhir mengenai fikih politik Syiah, kapasitas ajaran Ahlulbait As dalam membangun hubungan dengan masyarakat Sunni, serta dampak intelektual yang ditinggalkan oleh fenomena ISIS.
Di Balik Kaca Gelap di Dahieh; Kisah Pertemuan Pertama dengan Nasrallah
Ayatullah Mohsen Haidari menceritakan pertemuan pertamanya dengan Syahid Sayid Hassan Nasrallah: “Dalam salah satu perjalanan saya ke Lebanon, setelah seluruh agenda yang telah direncanakan selesai, keinginan saya untuk bertemu Sayid Hassan Nasrallah akhirnya terwujud. Pak Aref yang mengatur pertemuan tersebut.”
Ia melanjutkan bahwa tepat pada waktu yang telah ditentukan, sebuah kendaraan dari Hizbullah datang menjemputnya. Meskipun ia mengetahui tujuannya adalah kawasan Dahieh, kaca mobil yang gelap membuatnya tidak dapat mengenali rute perjalanan. Mobil tersebut kemudian berhenti di tempat yang menyerupai area parkir. Ia diminta turun dan berpindah ke kendaraan lain.
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa ia memahami pergantian kendaraan tersebut dilakukan agar lokasi tempat tinggal atau keberadaan Sayid Hassan Nasrallah tidak dapat diketahui.
Menurutnya, pada saat itu Nasrallah merupakan salah satu target utama pembunuhan Mossad dan berbagai badan intelijen Israel, sementara Hizbullah sebelumnya telah menggagalkan beberapa rencana pembunuhan terhadapnya. Pergantian kendaraan, menurut Haidari, berlangsung hingga empat kali.
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah bangunan biasa. Haidari semula mengira dirinya kembali harus berpindah kendaraan, tetapi kali ini ia dibawa masuk ke gedung menggunakan lift. Beberapa menit kemudian, ketika pintu lift terbuka, ia melihat Sayid Hassan Nasrallah datang menyambut mereka.
Ayatullah Haidari menggambarkan kesan pertamanya terhadap Nasrallah: “Saat itu Sayid Hassan memiliki postur cukup tegap, dada bidang, mengenakan abaah Lebanon, berjanggut hitam, memakai kacamata besar, dan memiliki mata yang tersenyum. Ia menyambut saya dengan dialek yang menyenangkan, mengucapkan salam, memeluk saya, lalu mengajak masuk ke ruangan.”
Penulis buku Pertemuan di Dahieh itu mengatakan ruang pertemuan tersebut sederhana dan jauh dari kemewahan. Perabotannya biasa, namun suasananya sangat tenang. Di salah satu dinding putih terdapat bingkai foto yang separuhnya menampilkan Imam Khomeini dan separuh lainnya menampilkan Ayatullah Khamenei.
Pertemuan yang Berubah Menjadi Diskusi Ilmiah karena Candaan Nasrallah
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa setelah percakapan pembuka, Nasrallah mengatakan kepadanya bahwa ia telah menyaksikan program televisi pada malam sebelumnya yang ditayangkan di Al-Manar, dari awal hingga akhir. Nasrallah menyampaikan apresiasi atas kehadiran Haidari, isi pembicaraannya, serta jawaban-jawabannya dalam acara tersebut.
Namun, sesuatu yang membuat Nasrallah tertarik adalah bagaimana seorang Iran dapat berbicara hampir dua jam dalam bahasa Arab fusha dengan sangat lancar dan menjawab begitu banyak pertanyaan.
Haidari menjawab: “Benar, Sayid, saya memang orang Iran. Tetapi bahasa Arab adalah bahasa ibu saya. Saya berasal dari Ahvaz, jadi hal ini sebenarnya tidak mengherankan.”
Menurutnya, Nasrallah tertawa dan mengatakan bahwa ia sudah mengetahuinya karena semasa perang pernah datang ke Ahvaz dan berada di kawasan Lashkarabad. Nasrallah kemudian bercanda mengenai cara berbicara sebagian masyarakat Arab Ahvaz yang mencampurkan kata-kata Arab dan Persia.
Haidari mengatakan bahwa ia merasa perlu membela masyarakat kotanya dan mengatakan bahwa cara semacam itu biasanya digunakan masyarakat awam, sementara banyak kalangan terpelajar Ahvaz berbicara dalam bahasa Arab yang fasih.
Nasrallah kembali tertawa dan mengatakan bahwa ia sudah mengetahui hal itu dan hanya sedang bercanda. Ayatullah Haidari mengatakan: “Hal yang menarik bagi saya adalah Sayid Hassan, meskipun sangat tenang dan berwibawa, ternyata sangat suka bercanda. Dalam percakapan kami ia beberapa kali bercanda. Pertemuannya biasanya tidak kaku. Ketika mengetahui lawan bicaranya suka berdiskusi, ia menjadi lebih terbuka dan pertemuan berubah seperti sebuah majelis diskusi ilmiah.”
Syahid Nasrallah: Tahun 2000 Menjadi Titik Balik Sejarah Lebanon
Anggota Majelis Ahli tersebut mengatakan bahwa Nasrallah bertanya kepadanya bagaimana kesannya terhadap Lebanon. Haidari menjawab bahwa ia tidak merasa berada di negeri asing karena para anggota Hizbullah Lebanon, dari sisi keyakinan dan kecintaan terhadap wilayah, terasa dekat dengan masyarakat Iran.
Percakapan kemudian beralih kepada Lebanon dan keluarnya Israel dari wilayah Lebanon selatan pada tahun 2000. Menurut Haidari, Nasrallah menegaskan bahwa sebelum kemenangan tahun 2000, Lebanon merupakan salah satu mata rantai yang lemah dalam konflik Arab–Israel.
Namun, kemenangan tersebut mengubah posisi Lebanon di dunia Arab, menjadikannya lebih penting dan strategis, serta menurut pandangannya mengubah Lebanon menjadi kekuatan nyata dalam menghadapi Israel. Haidari mengutip Nasrallah yang mengatakan bahwa Israel tidak berhasil memaksakan syaratnya kepada Lebanon dan keluar dari negara tersebut dalam keadaan terhina.
Menurut Nasrallah, peristiwa itu bukan hanya mengubah kedudukan Lebanon, tetapi juga mengubah banyak hal lainnya. Kelompok-kelompok Palestina, katanya, memperoleh harapan dan semangat setelah melihat apa yang terjadi di Lebanon dan menjadi lebih yakin bahwa Israel dapat dikalahkan.
Kekhawatiran Nasrallah terhadap Kekosongan Literatur Fikih Politik Kontemporer bagi Generasi Muda
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut ia menghadiahkan bukunya berjudul Wilayah Faqih, yang sebelumnya ditulis dalam bahasa Persia dan diterbitkan oleh penerbit Jame'eh Modarresin Hauzah Ilmiah Qom.
Setelah melihat-lihat buku tersebut, menurut Haidari, Nasrallah mengatakan: “Generasi muda kita tidak mengenal fikih politik Imamiyah. Dalam fikih Syiah terdapat bagian-bagian penting mengenai fikih politik, tetapi karena sumber-sumber itu ditulis dengan budaya dan bahasa lama, generasi muda kita tidak banyak menggunakannya. Akibatnya, banyak keraguan muncul dalam pikiran mereka mengenai Wilayah Faqih, pemerintahan Islam, dan partisipasi dalam persoalan politik.”
Menurut Haidari, Nasrallah menggambarkan keadaan pemuda Syiah dalam masalah ini sebagai “kemiskinan”, sedangkan kondisi pemuda Sunni sebagai “kelaparan” intelektual.
Nasrallah mengatakan bahwa generasi muda Sunni membutuhkan karya yang menjelaskan fikih politik Imamiyah dengan bahasa modern dan argumentasi yang sesuai dengan zaman.
Haidari mengutip Nasrallah: “Kami meminta hauzah ilmiah dan orang-orang seperti Anda untuk menulis sumber-sumber semacam itu bagi kami. Saya yakin jika pemuda Sunni mengenal fikih politik kita melalui bahasa dan budaya semacam ini, mereka akan tertarik kepada Ahlulbait As.”
Permintaan Tidak Biasa Seorang Perempuan di Beirut: “Saya Hanya Ingin Tahu tentang Imam Husain”
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa salah satu hal yang pernah disampaikan Nasrallah mengenai kalangan elite Sunni dan kehausan mereka terhadap pengetahuan Ahlulbait As, kemudian ia saksikan sendiri secara kebetulan di Beirut.
Haidari mengatakan bahwa setiap kali mengunjungi sebuah kota atau negara, ia biasa mendatangi toko buku untuk melihat perkembangan penerbitan dan membeli buku-buku terbaru yang dibutuhkan.
Di Beirut, bersama seorang anggota Hizbullah bernama Abu Hisham, ia pergi ke Jalan Hamra, kawasan yang dipenuhi gedung tinggi, toko, pusat buku, dan penerbitan.
Saat sedang melihat-lihat buku di sebuah toko buku besar bertingkat, seorang perempuan tanpa hijab masuk. Haidari mengatakan bahwa keberadaan perempuan tanpa hijab dari kalangan Kristen, Sunni, bahkan sebagian kecil Syiah merupakan pemandangan biasa di Beirut. Ia mendengar perempuan tersebut meminta kepada penjaga toko: “Tolong rekomendasikan sebuah buku tentang Imam Husain As.”
Penjual buku meminta judul buku yang dimaksud. Namun perempuan itu mengatakan bahwa ia tidak mengetahui judul tertentu dan hanya ingin mengetahui siapa Imam Husain As. Akhirnya penjual buku mengarahkannya kepada Ayatullah Haidari dan mengatakan bahwa Haidari adalah seorang ulama Syiah yang mungkin dapat membantunya. Perempuan itu mendatangi Haidari dan mengulangi permintaannya.
Haidari kemudian teringat buku Hayat al-Husain karya Syekh Baqir al-Qurashi dan merekomendasikannya. Ia menjelaskan bahwa Syekh Baqir al-Qurashi adalah ulama Najaf yang menulis karya tiga jilid Hayat al-Imam al-Husain bin Ali: Dirasah wa Tahlil mengenai kepribadian, kehidupan, dan kebangkitan Imam Husain As.
Perempuan tersebut segera mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya dan mencatat judul buku itu. Ia lalu bertanya apakah ada buku lain. Haidari kemudian merekomendasikan buku Al-Imam al-Husain karya Abdullah al-Alayili, intelektual Sunni Lebanon yang menulis sejarah kehidupan Imam Husain As dalam tiga jilid dan banyak membahas sisi perjuangan serta revolusioner beliau. Sebelum perempuan itu kembali bertanya, Haidari juga merekomendasikan Al-Husain fi al-Fikr al-Masihi, karya Antoine Bara, seorang penulis Kristen Lebanon.
Antusiasme Seorang Perempuan Sunni untuk Mengenal Imam Husain As
Menurut Haidari, penjual buku yang sejak awal memperhatikan percakapan mereka kemudian mengatakan bahwa perempuan tersebut adalah Sunni dan Haidari seharusnya tidak merekomendasikan buku Syiah kepadanya, melainkan buku karya penulis Sunni.
Haidari menjawab bahwa ia telah menyebut tiga buku yang masing-masing ditulis oleh penulis Syiah, Sunni, dan Kristen.
Ia bertanya: “Pertama, perempuan ini ingin mengenal kebenaran tentang Imam Husain secara bebas. Kedua, mengapa Anda ingin membatasinya dalam kerangka tertentu?”
Perempuan itu kemudian menegur penjual buku: “Syekh ini benar. Saya mengatakan ingin mengenal Imam Husain. Saya tidak peduli penulis bukunya berasal dari mazhab atau keyakinan apa.”
Menurut Haidari, suara perempuan tersebut kemudian bergetar ketika ia mengatakan: “Usia saya hampir 50 tahun dan baru sekarang saya mengenal nama Imam Husain. Semoga Allah membalas Hizbullah dan jaringan Al-Manar dengan kebaikan karena melalui mereka saya mengenal nama Ahlulbait As. Kalau tidak, mungkin kami akan meninggal tanpa mengetahui bagaimana cucu Rasulullah Saw dibunuh dengan begitu zalim.”
Haidari mengatakan bahwa perempuan itu kemudian sangat emosional dan mulai menangis. Ia sendiri ikut tersentuh melihat seorang perempuan Sunni paruh baya yang tidak berhijab menangis hanya karena mendengar kisah Imam Husain As.
Haidari mendorongnya untuk terus mempelajari Ahlulbait As dan mengatakan bahwa belum terlambat untuk mengenal mereka. Perempuan tersebut kemudian meminta izin mengajukan beberapa pertanyaan. Haidari menyetujuinya, dan perempuan itu mulai mengajukan pertanyaan sambil dengan cepat mencatat jawaban-jawabannya.
Pengalaman di Beirut yang Menunjukkan Kehausan Intelektual Sebagian Masyarakat Sunni
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa seperti pernah disampaikan Sayid Hassan Nasrallah, sebagian kalangan elite Sunni mengalami kekurangan besar dalam memperoleh pengetahuan keagamaan tertentu. Menurut Haidari, tanggung jawab memperkenalkan ajaran Ahlulbait As kepada mereka berada pada pihak yang memiliki akses terhadap sumber-sumber tersebut.
Setelah perempuan itu pergi, Haidari mengatakan dirinya berpikir bahwa melalui jaringan Al-Manar, perempuan tersebut baru merasakan sedikit dari apa yang ia sebut “manisnya mazhab Husain As”, tetapi hal itu saja telah membuatnya begitu ingin mengenal beliau lebih jauh.
Ia bertanya secara retoris, apabila pengetahuan orang-orang seperti perempuan tersebut semakin luas, seperti apakah perubahan yang mungkin terjadi dalam dunia Islam. Penulis Pertemuan di Dahieh mengatakan bahwa sejak awal kepulangannya ke Iran ia mulai berusaha memenuhi permintaan Sayid Hassan Nasrallah. Dalam pertemuannya dengan Ayatullah Sobhani dan sejumlah ulama lainnya, ia menyampaikan pesan Nasrallah kepada hauzah-hauzah ilmiah.
Menurutnya, para ulama tersebut menyambut baik gagasan itu dan semakin mendorongnya menulis sebuah buku yang dapat menjawab kebutuhan generasi muda Hizbullah dan, lebih luas lagi, generasi muda Arab. Ayatullah Haidari kemudian menyinggung perjalanan keempatnya ke Lebanon.
Ia mengatakan bahwa ketika kembali menemui Sayid Hassan Nasrallah, sudah delapan tahun berlalu sejak pertemuan terakhir mereka dan ia sangat merindukannya.
Dari Qom ke Dahieh; Amanah yang Dibawa Haidari untuk Nasrallah
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa saat bertemu lagi, penampilan Nasrallah sedikit berubah dibandingkan delapan tahun sebelumnya. Janggutnya sudah banyak memutih. Namun, menurut Haidari, setelah Nasrallah menyambutnya dengan hangat dan rendah hati serta ia kembali mendengar suara yang dikenalnya, dirinya merasa tenang.
Haidari mengatakan: “Saya memegang tangannya dan menciumnya dua kali. Sambil tetap memegang tangannya, saya berkata: ciuman pertama adalah amanah yang saya lakukan atas nama Ayatullah Misbah, sementara yang kedua untuk diri saya sendiri.”
Menurut Haidari, Nasrallah tertawa dan mengajak mereka duduk. Haidari kemudian menjelaskan bahwa beberapa hari sebelumnya ia bertemu Ayatullah Misbah di Qom. Ketika mengetahui Haidari akan pergi ke Lebanon dan bertemu Nasrallah, Ayatullah Misbah berkata: “Saya mempunyai satu permintaan kepada Anda. Mungkin ini agak lancang, tetapi jika Anda mendapat kehormatan bertemu Sayid Hassan, ciumlah tangan beliau atas nama saya.”
Haidari mengatakan kepada Nasrallah bahwa rasa cinta dan penghormatan semacam itu tidak hanya dimiliki Ayatullah Misbah. Menurutnya, banyak ulama dan orang beriman di Iran sangat mencintai Nasrallah. Bahkan, katanya, dalam acara peringatan wafat Imam Khomeini, ada yang meneriakkan slogan: “Cucu Ruhullah, Sayid Hassan Nasrallah.”
Haidari mengatakan bahwa banyak masyarakat Syiah memandang Nasrallah sebagai simbol Islam dan Syiah serta salah satu tokoh terdepan dalam konfrontasi mereka dengan Israel dan kekuatan yang mereka anggap sebagai lawan dunia Islam.
Menurut Haidari, dalam beberapa majelis, apabila tidak ada doa untuk Nasrallah dan Hizbullah, sebagian peserta bahkan akan memprotes.
Kisah Irbid; Narasi mengenai Popularitas Hizbullah di Kalangan Sunni
Haidari mengatakan bahwa Nasrallah menyambut pernyataan tersebut dengan rendah hati dan mengatakan bahwa dukungan masyarakat Iran terhadap Hizbullah merupakan sesuatu yang wajar dan bahwa Hizbullah menghargai perhatian tersebut.
Menurut Haidari, Nasrallah juga mengatakan bahwa pandangan positif terhadap Hizbullah tidak hanya terdapat di kalangan Syiah, tetapi juga berkembang di sebagian masyarakat Sunni.
Nasrallah kemudian menceritakan sebuah peristiwa yang menurutnya terjadi di Kota Irbid. Seorang khatib salat Jumat, katanya, pada awal ceramah menuduh Syiah menganggap Sunni najis. Pernyataan tersebut memicu kegaduhan dan ketidakpuasan di antara jamaah.
Menurut kisah yang disampaikan Nasrallah, ketika khatib tersebut kemudian mengatakan bahwa “Sayid Hassan Nasrallah berbohong ketika mengatakan ingin membebaskan Al-Quds”, sebagian jamaah menjadi marah dan menyerangnya hingga khatib tersebut terpaksa meminta bantuan polisi melalui pengeras suara.
Haidari mengatakan bahwa Nasrallah juga menyinggung Ayatullah Misbah dan berkata bahwa ulama tersebut selalu membuat mereka merasa sangat dihormati. Menurut Nasrallah, setelah perang 33 hari Ayatullah Misbah datang ke Lebanon. Setelah kesyahidan Imad Mughniyeh, ia juga datang dan memberikan pidato yang sangat emosional mengenai Nasrallah serta kesetiaannya terhadap wilayah.
Nasrallah mengatakan: “Ketika saya menyaksikan rekaman pidato itu, saya menangis sampai pagi.” Haidari kemudian mengatakan bahwa Nasrallah pernah menceritakan pertemuannya dengan Ayatullah Misbah.
Dalam pertemuan tersebut Nasrallah berkata: “Allamah, nahnu Khomeiniyyun ‘ala maslak al-Sayyid al-Sadr — kami adalah pengikut Khomeini dengan metode Sayid Sadr.”
Haidari bertanya apakah yang dimaksud adalah Imam Musa Sadr. Nasrallah menjawab “Tidak, Sayid Muhammad Baqir Sadr.” Haidari kemudian memahami maksudnya dan bertanya apakah yang dimaksud berkaitan dengan konsep “melebur” dalam kepemimpinan.
Nasrallah Menjadikan “Haq al-Ta‘ah” sebagai Dasar Menjelaskan Komitmen kepada Wali Faqih
Menurut Haidari, Nasrallah menjelaskan bahwa masalahnya tidak hanya berkaitan dengan konsep “melebur”. Syahid Muhammad Baqir Sadr, katanya, dalam persoalan ketaatan kepada Imam Maksum As memiliki pendekatan yang berbeda dari pandangan populer sebagian ulama ushul.
Pandangan populer menggunakan kaidah “qubh al-‘iqab bila bayan”, yakni bahwa memberikan hukuman tanpa adanya penjelasan atau penyampaian kewajiban sebelumnya dianggap tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu, Sayid Muhammad Baqir Sadr mengembangkan pendekatan “haq al-ta‘ah” atau hak untuk ditaati.
Menurut penjelasan yang dinisbatkan kepada Nasrallah, sebagian besar fuqaha memandang bahwa sekadar adanya kemungkinan bahwa Imam Maksum memerintahkan sesuatu belum dengan sendirinya mewajibkan seseorang menaati hal itu; kewajiban baru mengikat ketika terdapat pengetahuan atau keyakinan yang memadai.
Namun, menurut pendekatan yang ia nisbatkan kepada Syahid Sadr, bahkan kemungkinan bahwa wali menyukai atau tidak menyukai suatu tindakan pun dinilai penting.
Haidari mengutip Nasrallah: “Kami juga, seperti Syahid Sadr, karena menempatkan Wali Faqih dalam posisi kepemimpinan yang mewakili Imam Maksum, apabila kami memperkirakan bahwa Wali Faqih menginginkan sesuatu, kami melakukannya dan berkomitmen kepadanya. Jika kami memperkirakan beliau tidak menyukai sesuatu, kami meninggalkannya.”
Kisah Nasrallah tentang Ketertarikan Sebagian Masyarakat Mesir kepada Syiah
Ayatullah Haidari kemudian menceritakan kisah lain. Suatu ketika Syekh Abu al-Azaim, salah seorang ulama Al-Azhar yang berusia lebih dari 80 tahun, bertemu Sayid Hassan Nasrallah.
Nasrallah bertanya kepadanya: “Siapa yang mengatakan bahwa di Mesir terdapat gelombang besar menuju Syiah? Apa sebenarnya yang telah kami lakukan agar masyarakat Mesir menjadi Syiah? Kepada siapa kami pernah mengatakan, ‘Datanglah dan jadilah Syiah’? Mengapa pemerintah Mesir takut terhadap kebebasan hubungan dengan Iran? Apa pengaruh wisatawan Iran yang datang ke Mesir terhadap mazhab masyarakat Mesir?”
Menurut Haidari, Syekh Abu al-Azaim menjawab: “Benar bahwa Anda tidak pernah mengajak siapa pun untuk menjadi Syiah. Tetapi kenyataannya, kecenderungan itu memang sangat kuat di Mesir. Jika suatu hari masyarakat Mesir memperoleh kebebasan, akan terlihat bahwa banyak di antara mereka telah menjadi Syiah.”
Peringatan Nasrallah mengenai Warisan Pemikiran ISIS; dari Takfir hingga Munculnya Keraguan Ateistik
Ayatullah Haidari mengatakan bahwa pada bagian lain dari percakapan, Sayid Hassan Nasrallah membahas ISIS. Menurutnya, Nasrallah mengatakan bahwa meskipun ISIS telah mengalami kekalahan secara militer dan politik, dari sisi keagamaan kelompok tersebut meninggalkan dampak lain, yaitu tumbuhnya keraguan ateistik dan sikap antiagama.
Penulis Pertemuan di Dahieh mengatakan bahwa untuk mendukung pandangan tersebut, ia menceritakan kepada Nasrallah sebuah pengalaman dari perjalanannya ke Irak.
Sekitar dua tahun sebelumnya, Haidari bersama sejumlah ulama dari Qom berkunjung ke Irak mewakili Hauzah Ilmiah Qom untuk bertemu para marja, pengajar, dan pelajar hauzah di Irak.
Dalam perjalanan itu, ia menghadiahkan sebuah buku yang ditulisnya mengenai takfir dan ghuluw kepada Ayatullah Sayid Muhammad Sabzevari, salah seorang pengajar Hauzah Ilmiah Najaf dan putra almarhum Ayatullah Sayid Abdul A'la Sabzevari.
Haidari mengatakan bahwa Ayatullah Sabzevari kemudian berkata kepadanya: “Tuan Haidari, masa pembahasan takfir sudah berlalu. Mulai sekarang, Anda harus menulis buku tentang tauhid dan ateisme.”
Komentar Anda