Menurut Kantor Berita ABNA, Empat anggota parlemen Turki Kamis (31/10) untuk pertama kalinya menghadiri sidang dengan mengenakan jilbab. Mereka adalah anggota Partai Keadilan dan Pembangunan Turki.
Dapat dikatakan bahwa setelah 15 tahun, ini baru pertama kalinya anggota parlemen perempuan Turki masuk ke ruangan sidang dengan mengenakan jilbab. Kali terakhir terjadi pada tahun 1999. Marwah Kavakci adalah perempuan pertama yang masuk ruangan sidang parlemen dengan mengenakan jilbab. Akan tetapi, anggota dari Partai Kesejahteraan yang telah dibubarkan ini mendapat cemooh dan olokan dari para anggota parlemen dari kubu sekuler.
Kehadiran empat anggota parlemen berjilbab di parlemen Turki ini merupakan pertama kalinya tercatat dalam sejarah politik sekuler negara ini. Menyusul kudeta tahun 1980, penggunaan jilbab di sekolah, universitas dan seluruh instansi pemerintah dilarang. Akan tetapi menariknya di parlemen Turki tidak ada persyaratan yang jelas tentang pemakaian jilbab, namun karena penentangan dari kubu sekuler dan juga larangan pemakaiannya di instansi pemerintah membuat para anggota parlemen perempuan Turki menghindari busana Muslimah ini.
Sebelumnya, sejumlah sumber Turki mengumumkan bahwa partai Republik Rakyat sekuler dan oposisi Turki akan menunjukkan reaksi tegas atas kehadiran anggota berjilbab. Akan tetapi tampaknya, tidak ada penentangan serius dari mereka.
Para pengkritik kebijakan Partai Berkuasa Keadilan dan Pembangunan Turki mengatakan bahwa pemerintah PM Recep Tayyib Erdogan akan merusak struktur sekulerisme di Turki dengan menetapkan ketentuan seperti ini. Faktanya adalah bahwa telah selama hampir satu abad, semua pemerintahan di Turki menilai jilbab sebagai simbol islamisme dan mereka menentang penguatan simbol-simbol tersebut di Turki.
Para pengamat Turki berpendapat bahwa pemerintahan sekuler sebagai simbol humanisme yang keliru dan jenis pemerintahan seperti ini tidak memiliki pijakan atau akar yang kokoh, serta tidak mampu memberikan argumen yang kuat kepada para penentangannya. Oleh karena itu, mereka memilih berdamai dengan gelombang protes rakyat.
Fenomena yang disaksikan di Turki saat ini merefleksikan fakta bahwa warga Turki tetap menyimpan dan melestarikan Islam dalam jiwa mereka, sampai tiba waktunya untuk melawan ide dan program sekulerisme.
Selain itu, warga Turki sekarang sudah lebih maju di bidang pengetahuan dan semakin menunjukkan kecenderungan keagamaan mereka. Jika penentangan kelompok sekuler terus berlanjut, diperkirakan di masa mendatang mereka tidak akan memiliki tempat di Turki. Dengan kata lain, pandangan sekulerisme mulai mendekati masa kadaluarsanya, dan Turki menjadi salah satu contoh kongkretnya.