14 Oktober 2013 - 20:30
Rezim Bahrain Siksa Tahanan Sampai Mati

Salah seorang tahanan politik Bahrain, Yusuf Ali Abdullah Yaqub al-Nashmi, 31 tahun, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami penyiksaan oleh rezim Bahrain dua hari lalu.

Menurut Kantor Berita ABNA, Salah seorang tahanan politik Bahrain, Yusuf Ali Abdullah Yaqub al-Nashmi, 31 tahun, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami penyiksaan oleh rezim Bahrain dua hari lalu.

Partai Al-Wefaq memastikan kematiannya dengan menegaskan bahwa korban meninggal dunia akibat mengalami penyiksaan dan mendapat perawatan semestinya selama berada dalam tahanan.

Al-Nashmi telah ditahan oleh pihak keamanan Rezim sejak 17 Agustus 2013  atas tuduhan terlibat dalam demonstrasi menentang kekuasaan Ali Khalifah. Menyadari cedera korban akibat siksaan selama ditahan dapat menyebabkan kematian, Mahkamah Rezim membebaskannya sejak 8 Oktober lalu. 

Wali hakim korban Zainab Abdul Aziz menuduh pihak kepolisian tidak menghiraukan kesehatan korban selama di tahanan. Menurut Zainab, "Kesimpulannya, kurang perhatian sipir penjara tentang keselamatan Yusuf Al-Nashmi dan rawatannya telah menyebabkan otaknya hampir tidak berfungsi. Mahkamah ingin menahannya sampai diadakan pengadilan, tanpa membenarkan keluarganya memberikan perawatan yang selayaknya."

Menurut laporan tim medis yang menangani korban, Yusuf al Nashmi mengalami pembengkakan di bagian otak dan radang yang hampir menyebabkan otaknya tidak berfungsi.

Sekjen Gerakan Ahrar di Bahrain turut angkat bicara, Sa'id al-Shahabi berkata, "Tindakan yang diambil terhadap Yusuf al-Nashmi merupakan sebuah kezaliman dan penganiayaan."

Pihak pusat hak asasi manusia Bahrain turut mengecam kebijakan Rezim yang menangkap dan menahan para demonstran tanpa melalui proses hukum yang adil. Selain itu mereka turut mengecam tindakan menghalangi tahanan politik memberikan keterangan kepada pihak luar, dan juga tidak mendapat hak rawat yang layak.

Sementara itu pihak keluarga korban melaporkan Yusuf al Nashmi ditahan sejak 17 Agustus tahun lalu, ketika dalam perjalanan ke rumah saudara lelakinya, di kawasan Bundaran Jad al-Hafsh.

Yusuf Al-Nashmi ketika menerima kunjungan pertama saudaranya di penjara melaporkan bahwa dia disiksa dan dipukul kuat pada bahagian kepala, wajah dan tangan. Pada mulanya dia mengaku tidak bersalah, namun akhirnya membuat pengakuan setelah dipukul. Dalam pertemuan kedua, pegawai penjara enggan menerima obat-ubatan yang dibawa keluarga korban walaupun kondisinya sangat memprihatinkan. Namun dalam pertemuan berikutnya, korban didapati tidak dapat bertutur dengan baik. Meskipun begitu pegawai penjara menuduh keluarganya telah memberikan obat yang tidak sesuai sehingga menyebabkan korban hilangan ingatan.

Dengan kematian al-Nashmi, korban revolusi Bahrain meningkat sebanyak 114 orang.