5 September 2013 - 19:30
Islam adalah Agama yang Menuntut Pemeluknya untuk Bahagia

Islam adalah agama yang sempurna yang telah memberikan petunjuk yang lengkap kepada manusia untuk mencapai dan meraih kehidupan yang bahagia. Oleh karena itu, kesabaran diletakkan pada posisi terakhir dengan maksud, bahwa untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, manusia harus melengkapi dirinya dengan kesabaran dalam berjuang. Kesabaranlah yang membuat manusia pantang menyerah dan terus gigih memperjuangkan hidupnya untuk meraih kebahagiaan.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Makarim Shirazi dihadapan jama'ah dan peziarah makam Imam Ridha as di kota Masyhad Iran mengatakan, "Hari ini, menjadi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, dunia Islam Syiah semakin menunjukkan kemajuan yang membanggakan. Tidak sedikit dari muslim Syiah adalah penghafal Qur'an yang bahkan dimulai sejak usia masih kanak-kanak, dan pemuda kita terdiri dari para qari yang berprestasi dan menjadi ahli i'tikaf, demikian juga para santri dari Hauzah, ini semua menunjukkan aktivitas syiar dan dakwah Islam mulai menampakkan hasilnya. Insya Allah semua aktivitas dalam mendakwahkan dan mengembangkan penyebaran Islam tercatat sebagai amal saleh di akhirat nanti dan tersimpan dalam kitab catatan amal di sisi Allah SWT."

Pada bagian awal ceramahnya, menyinggung tafsir surah Al 'Asr, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, "Surah al 'Asr mengandung pelajaran penting dan agenda yang dapat mengantarkan manusia pada puncak kebahagiaan dan kesempurnaan. Sebagaimana termaktub secara jelas bahwa keempat poin penting tersebut adalah iman, amal saleh, sabar dan saling menasehatkan dalam kebenaran."

"Pada dua poin terakhir menunjukkan, bahwa setiap orang tidak cukup hanya dengan mengurusi dan menuntut haknya sendiri namun juga sebagai makhluk sosial ia akan bersinggungan dengan hak orang lain, dan disinilah diperlukan amar ma'ruf dan nahi mungkar." Lanjutnya.

Ayatullah Makarim Shirazi menambahkan, "Pada diri setiap manusia ada empat hak yang harus ditunaikan, hak Tuhan atas diri kita, hak terhadap diri sendiri, hak orang lain dan hak yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Inilah yang dituntunkan dalam Islam, bahwa ke empat hak-hak tersebut harus diperhatikan dan tidak diabaikan penunaiannya."

"Yang dimaksud dengan hak Tuhan atas diri kita yaitu, segala sesuatu asalnya dari Dia karenanya pengenalan terhadap segala nikmat yang telah Dia berikan sesuatu yang harus dilakukan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Hak orang lain atas diri kita, yaitu setiap manusia punya hak asasi yang harus dihargai, tidak dirampas dan dilecehkan. Bahkan dalam Islam lebih luas lagi mengajarkan, bahwa hewan sekalipun punya hak. Sebenarnya ada hak yang kelima, yaitu hak pemerintah atas masyarakat dan hak masyarakat atas pemerintah, namun itu berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial dan bermasyarakat."

"Sedangkan tentang kesabaran, sebagian musuh telah menyebarkan propaganda dusta mengenai kesabaran ini. Mereka menyatakan Islam mengajarkan kepasrahan yang salah kaprah. Bahwa meskipun kita dizalimi, hak kita dirampas dan sebagainya, sebagai muslim kita harus tetap bersabara dan memasrahkan segalanya kepada Allah. Ini adalah kedustaan besar musuh yang mengatasnamakan Islam. Islam adalah agama yang sempurna yang telah memberikan petunjuk yang lengkap kepada manusia untuk mencapai dan meraih kehidupan yang bahagia. Oleh karena itu, kesabaran diletakkan pada posisi terakhir dengan maksud, bahwa untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, manusia harus melengkapi dirinya dengan kesabaran dalam berjuang. Kesabaranlah yang membuat manusia pantang menyerah dan terus gigih memperjuangkan hidupnya untuk meraih kebahagiaan."

Pada bagian lain ceramahnya, menyinggung keutamaan berziarah ke makam-makam suci Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, "Jika kita ingin mengetahui apakah ziarah kita diterima atau tidak, maka perhatikanlah apa yang terjadi pada batiniah kita selepas ziarah, perubahan maknawi sejauh apa yang terjadi pada diri kita?".

"Bacaan ziarah bukan sekedar kita lafaskan pada saat ziarah, bacaan tersebut mengandung banyak pelajaran penting, utamanya untuk kalangan muda, karenanya sangat penting untuk diketahui maknanya, direnungkan mendalam dan diamalkan." Tambahnya.