Menurut Kantor Berita ABNA, memperingati hari kesyahidan Imam Ja'far Shadiq as, Majma Jahani Ahlul Bait mengadakan majelis duka di kantor secretariat Majma di Teheran Republik Islam Iran, ahad (1/9). Sekretaris Jenderal Majma Jahani Ahlul Bait as Hujjatul Islam Dr. Akhtari dalam ceramahnya pada acara tersebut menyatakan bahwa kesyahidan Imam Ja'far Shadiq as adalah salah satu kesedihan terbesar bagi pengikut Ahlul Bait, "Dengan memperhatikan posisi dan kedudukan Imam Ja'far Shadiq as yang istimewa dalam mazhab Syiah, maka sudah seharusnya sebagai Syiah Ahlul Bait, kita memberikan perhatian yang khusus pula akan hari peringatan syahadah beliau, sebagaimana ketika memperingati kesyahidan penghulu para syuhada, Imam Husain as."
Hujjatul Islam wa Muslimin Muhammad Hasan Akhtari berkenaan dengan kondisi sosial dan politik yang dihadapi Imam ke enam Syiah tersebut, mengatakan, "Bani Abbas hendak menjauhkan masyarakat dari Ahlul Bait, padahal naiknya mereka kepuncak kekuasaan dengan mengatasnamakan Ahlul Bait yang mereka katakan hendak dikembalikan haknya yang telah terampas dari Bani Umayyah. Namun setelah mereka mendapat kekuasaan itu, tidak ubahnya perlakuan Bani Ummayyah, pengikut Ahlul Bait pun tetap mereka siksa dan mendapat perlakuan yang zalim."
Dalam lanjutan ceramahnya, Dr. Hasan Akhtari mengatakan, "Beberapa khalifah, selepas wafatnya Nabi Saw telah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits. Tidak bisa dipungkiri, pelarangan tersebut adalah upaya pencegahan tersebarnya hadits-hadits yang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, sehingga yang terjadi, hadits-hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sangat sedikit yang kita dapatkan, tergantikan oleh banyaknya hadits-hadits palsu dan rekayasa."
"Yang terjadi kemudianpun adalah jauhnya umat Islam dari pemikiran ma'arif Islam dari keluarga Nabi Saw. Yang lebih banyak tersebar pada masyarakat muslim adalah hadits-hadits yang rekayasa dan buatan, hatta pada masalah aqidah sekalipun. Hadits-hadits palsu itulah yang membuat umat Islam terpecah-pecah dalam banyak firqah, sampai ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk dan bagian-bagian tubuh sebagaimana materi pada umumnya." Tambahnya.
"Sunnah-sunnah Nabipun banyak yang terabaikan bahkan diubah-ubah. Sampai diriwayatkan, Ummu Humaidah, istri Imam Ja'far Shadiq as yang sementara dalam keadaan tawaf di sisi Ka'bah tampak kelihatan asing bagi masyarakat muslim yang melihatnya. Siapapun yang melihat caranya tawafnya menegurnya, bahwa cara tawafnya keliru. Ummu Humaidah menjawab, "Kami tidak membutuhkan ilmu kalian. Tunjukkan pada saya, siapa dari kalian yang memiliki keutamaan, keilmuan dan pengenalannya terhadap Islam, Al Qur'an dan Sunnah melebihi suami saya." Dan memang benar, imam-imam mazhab dalam Ahlus Sunnah baik langsung ataupun tidak langsung menimba ilmu dari Imam Ja'far, keturunan Nabi Saw."
"Bahkan musuh Imam Ja'far as sekalipun yang menjadi penyebab kesyahidannya mengakui keilmuan dan keutamaan imam Ja'far. Hal itulah yang semakin menambah kedengkian para musuhnya, sehingga tidak ada cara lain lagi selain membunuhnya. Dan kebencian terhadap Ahlul Bait masih berlangsung sampai saat ini." Lanjutnya lagi.
Mengangkiri ceramahnya, sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as tersebut menukil salah satu riwayat dari imam Ja'far Shadiq as bahwa diantara syarat untuk menjadi pribadi yang dicintai adalah, baik dalam berinteraksi, baik dalam mendengar dan baik dalam menjawab.