Menurut Kantor Berita ABNA, Rektor Universitas al Azhar dan mufti Mesir Syaikh Ahmad al Tayyib senin (29/4) dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Ask News menyinggung konflik internal negaranya dengan mengatakan konflik semakin meluas karena adanya fitnah dengan isu perbedaan mazhab. Ulama Mesir tersebut berkata, "Menurut kami, butuh waktu rentang waktu 5 tahun untuk mengembalikan kondisi politik dan sosial Mesir untuk kembali normal."
Dalam lanjutan pernyataannya, beliau menyesalkan munculnya program-program TV yang tanpa kontrol telah menghembuskan isu-isu ikhtilaf dan perpecahan ditengah-tengah masyarakat, khususnya antara mazhab Suni dan Syiah maupun antara kaum muslimin dengan komunitas Kristiani. "Program-program TV tersebut pada hakikatnya telah menampar wajah Islam, bukannya menampakkan kekuatan dan kemuliaan Islam melainkan justru memicu perpecahan dan perselisihan." Tegasnya.
Ketika ditanya tanggapannya mengenai kedatangan Ahmadi Nejad beberapa waktu sebelumnya di Mesir dan sempat mengadakan pertemuan dengan Rektor al Azhar tersebut, Syaikh Ahmad al Tayyib menjawab, "Ahmadi Nejad sebagai presiden sebuah negara yang mayoritas Syiah dengan aman dan tenang telah mengunjungi negara ini, dan juga hadir di Universitas al Azhar. Kami mengadakan dialog dengan aman dan lancar, beliau menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pemahaman Syiahnya dan kami juga menyampaikan keyakinan kami. Dan jangan lupa, saya didaulat sebagai wakil kelompok Ahlus Sunnah yang merupakan mayoritas dari kaum muslimin dengan 9/10 dari keseluruhan kaum muslimin adalah Ahlus Sunnah. Saya telah banyak menghadiri pertemuan-pertemuan ulama-ulama Sunni-Syiah yang menggagas pendekatan antar Mazhab dan saya melihat kesungguhan dari saudara-saudara umat Syiah untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin tersebut. Namun tidak mudah untuk tidak menyatakan bukan Syiah dan bukan Sunni, sebab anasir asing dan pihak musuh juga gigih untuk menggagalkan upaya pendekatan dan persatuan kaum muslimin ini."
Ketika ditanya mengenai pesatnya perkembangan Syiah di beberapa negara muslim termasuk Mesir, Rektor Universitas Mesir tersebut menuturkan jawabannya, "Kami tegaskan, kami tidak pernah khawatir dan cemas dengan perkembangan Syiah, sebab kami percaya rakyat Mesir pada dasarnya adalah pecinta Ahlul Bait dari dulu, dan kecintaan tersebut adalah sesuatu yang jelas dan tidak bisa disembunyikan, kegigihan mempublikasikan ajaran Syiah tidak memiliki arti apa-apa bagi rakyat Mesir."
"Kami justru cemas terhadap pesatnya ajaran takfiri dikalangan kaum muslimin. Konflik di Suriah dan Irak dipicu oleh kepentingan politik, bukan karena pertikaian mazhab, dan sepanjang sejarah kami tidak pernah menemui peperangan yang disebabkan murni karena perbedaan mazhab. Kelompok-kelompok takfiri memanfaatkan keadaan dengan menyebar isu untuk memecah belah kaum muslimin." Lanjutnya.
Dibagian lain pernyataannya, Rektor al Azhar tersebut mengucapkan selamat atas terpilihnya Pimpinan Umar Kristiani yang baru, dan beliau berharap dengan kepemimpinan Paus yang baru hubungan antara al Azhar dan Vatikan bisa kembali erat seperti sebelumnya.