Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Makarim Shirazi dalam kelas Dars Kharij Fiqh yang diasuhnya di masjid A'dzam Qom Republik Islam Iran rabu (10/4) dengan menukil salah satu hadits dari Nabi Saw menyatakan, "Semua amal manusia didunia kelak diakhirat akan dihisab dan diantara amalan tersebut, akhlak yang baik memiliki timbangan yang sangat berat. Dari sabda Nabi mulia Saw tersebut kita bisa saksikan bahwa insan yang memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan siapapun ibarat sebuah perhiasan yang mengagumkan. Sabda mulia Nabi ini disampaikannya dimasa masyarakat Arab berada dalam kejahilan dan kebobrokan akhlak. Dan dengan kondisi kekinian yang tidak ubahnya dengan masa jahiliyah pra Islam dengan meluasnya kezaliman dan penyimpangan akhlak, maka sabda ini harus kembali dikemukakan ke masyarakat luas."
Ulama marja taklid tersebut kemudian melanjutkan penyampaiannya, "Diantara bentuk akhlak yang baik adalah menjaga silaturahim hatta kepada orang yang telah menzalimi sekalipun selama bukan kepada para mustakbirin dan pelaku kerusakan dimuka bumi."
Menyinggung bencana gempa bumi yang dalam beberapa hari lalu melanda bagian selatan provinsi Bushahre Iran dan menelan sejumlah korban, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, "Bencana alam tersebut telah menimbulkan penderitaan kepada para korban, karenanya sebagai sesama muslim dan umat manusia kitapun harus turut berduka cita dengan kejadian naas tersebut. Membantu mengurangi beban penderitaan mereka adalah kewajiban syar'i yang tidak bisa ditawar-tawar sampai pada tahap turut merasakan pedihnya hati dan luka para korban."
"Perbaikan dan renovasi bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa harus segera dilakukan, kita tidak boleh membiarkan para korban berada di bawah tenda pengungsian berlama-lama. Sumbangan dana untuk memperbaiki semua kerusakan itu harus dikucurkan segera. Ini tanggungjawab seluruh rakyat Iran bukan dibebankan kepada pemerintah saja." Tegasnya.
Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi menyinggung fatwa terbaru ulama mufti besar Arab Saudi Syaikh al Syaikh dengan berkata, "Fatwa terbaru ulama mufti Arab Saudi tersebut menyerukan kepada seluruh kaum muslimin seluruh dunia untuk memerangi Syiah, ini adalah fatwa yang benar-benar aneh, sebab fatwa tersebut memicu perpecahan dan perang antar mazhab dalam Islam."
"Sumber dari kebencian dan sikap permusuhan terhadap Syiah sangat banyak diantaranya adanya statemen yang tidak berdasar yang dikeluarkan seorang mufti yang telah merasa dirinya sebagai Waliyul Amr dengan menyatakan perang. Sementara al Syaikh tersebut justru masih bergantung dengan penguasa dinegaranya. Sementara ulama-ulama Syiah sama sekali tidak memiliki ketergantungan apapun dengan penguasa." Sentil ulama besar Syiah tersebut.
Ayatullah Makarim Shirazi menambahkan kritikannya,"Negara dimana ulama mufti tersebut berada memiliki ketergantungan yang sangat besar dengan Amerika Serikat, oleh karenanya Negara tersebut sepenuhnya taat dan patuh dalam menjalankan agenda dan kepentingan Amerika Serikat. Ulama mufti tersebut pun tidak bisa lepas dari kondisi tersebut. Seruannya memerangi Syiah tidak lepas dari fatwa pesanan yang memberikan keuntungan besar terhadap kepentingan AS untuk memecah belah kaum muslimin."
Ulama marja taklid Syiah tersebut meminta kaum muslimin untuk mengacuhkan fatwa jahil ulama Arab Saudi yang disebutnya didasari dengan kepentingan politik. Beliau berkata, "Tidak bisa dipungkiri gerakan dan pemikiran anti Syiah bersumber dari kepentingan politik. AS dan Barat menghendaki melalui peran ulama-ulama Anti Syiah tersebut perselisihan dan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin dapat disulut bila perlu sampai harus ada peperangan dan pertumpahan darah sebagaimana pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Islam."
"Penyebab lainnya mereka memiliki permusuhan dan kebencian yang luar biasa terhadap Syiah karena Syiah memiliki argument yang logis dan rasional dalam membela ajaran-ajaran keyakinannya yang bersumber dari maktab dan manhaj Ahlul Bait as, sehingga untuk menghentikan laju dakwah Syiah maka ditempuhlah jalan kekerasan dan permusuhan." Tambahnya.
Ayatullah Makarim Shirazi melanjutkan, "Pusat pendidikan Islam di Mesir menerima pemikiran-pemikiran ulama-ulama Syiah, mereka mengkaji dan menjadikannya bahan studi, ini menunjukkan bukti bahwa dunia Islam pada hari ini menerima pemikiran dan tradisi Syiah sebagai bagian dari dunia keilmuan Islam."
"Namun bandingkan dengan apa yang kita saksikan dipusat pendidikan Islam yang mengajarkan permusuhan dan kebencian terhadap Syiah, mereka mencegah masuknya kitab-kitab Syiah di pusat pendidikan mereka. Perpustakaan-perpustakaan di Riyadh dan Makah sulit untuk menemukan adanya kitab-kitab Syiah, namun diperpustakaan lembaga pendidikan Syiah anda akan sangat mudah menemukan banyaknya kitab-kitab Ahlus Sunnah, termasuk dalam perpustakaan di masjid 'Ahzam ini. Hal ini menunjukkan ketakutan dan kekhawatiran mereka, kedok dan kebusukan mereka terbongkar, ketika umat Islam tahu bahwa hakikat kebenaran sebenarnya ada pada mahzab Ahlul Bait dan para Syiahnya." Tegasnya.