30 Agustus 2026 - 19:08
Para Pemimpin Kawasan Harus Mengenali Musuh Sejati Mereka / Rakyat Jangan Membiarkan Perpecahan Muncul di Tengah Masyarakat

Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran, dalam pesan memperingati Pekan Persatuan menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Imam Ja’far Shadiq as.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dalam pesannya, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei menyebut upaya menonjolkan perbedaan sebagai salah satu strategi pihak-pihak yang memusuhi Islam untuk melemahkan umat dan menguasainya.

Ia menilai persatuan umat Islam, saling membela dalam menghadapi ancaman, serta meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang material dan spiritual sebagai kebutuhan penting.

Ia juga menyerukan kepada para pemimpin negara-negara Islam, khususnya di Asia Barat dan kawasan Teluk Persia, agar mengenali apa yang disebutnya sebagai musuh sebenarnya dan menghadapi strategi mereka.

Pemimpin Iran juga menyinggung pengalaman persatuan di dalam negeri dan kembali meminta masyarakat Iran agar tidak membiarkan munculnya perpecahan di antara mereka.

Berikut terjemahan lengkap pesannya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka.”

Saya menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran yang mulia dan umat Islam yang besar atas hari-hari kelahiran sosok mulia, cahaya terbesar, makhluk termulia, pelita yang menerangi, pilihan Allah, kota ilmu, rahmat bagi seluruh alam, Rasulullah Muhammad SAW, serta keturunannya yang suci, hujah Allah, Imam Ja’far Shadiq as.

Sejak matahari keberadaan Nabi terakhir terbit di Makkah, cakrawala kebahagiaan manusia—yang bergantung pada kesempurnaan penghambaan dan ketaatan kepada Allah—mendapatkan cahaya baru.

Ruh para nabi, para malaikat dan makhluk suci dipenuhi kegembiraan, sementara setan dari kalangan manusia dan jin dipenuhi kemarahan, penyesalan dan kesedihan. Sebab makhluk terbaik Allah dari seluruh alam ciptaan hadir di dunia dan tidak lama kemudian akan menerima jubah kenabian dan penutup para nabi, membawa Al-Qur’an yang agung serta misi menyeluruh untuk membimbing manusia menuju penghambaan dan kesempurnaan menuju Allah.

Kehidupan Nabi dan para penerusnya yang maksum seluruhnya merupakan pelajaran tentang petunjuk dan penghambaan, pengetahuan dan kecintaan, keyakinan dan perjuangan, kehidupan dan akhlak mulia dalam ranah pribadi maupun sosial, amanah dan kejujuran, kehormatan dan kemuliaan, ilmu dan amal, kasih sayang dan ketegasan, keadilan, serta persatuan dan persaudaraan.

Semakin baik manusia mempelajari dan mengamalkan pelajaran-pelajaran tersebut, semakin terbuka jalan menuju puncak kebahagiaan.

Kami meyakini bahwa ruh suci Nabi pembawa rahmat serta ruh para penerusnya yang suci senantiasa memperhatikan, membimbing dan menyayangi keadaan umat Islam dan masyarakat Muslim.

Ketika umat melakukan kesalahan, mereka bersedih. Sebaliknya, ketika kaum Muslim melaksanakan ajaran dan petunjuk mereka, hati mereka bergembira.

Persatuan Umat Islam adalah Strategi Qur’ani

Kini Islam dan umatnya, setelah melalui berbagai masa sulit, gejolak dan pasang surut sejak masa awal hingga hari ini, telah sampai pada tahap yang menentukan.

Menurut saya, umat Islam saat ini dapat memainkan peran yang sangat besar dan bersejarah. Prospek kemenangan akhir kebenaran atas kebatilan dan Islam atas kekufuran kini lebih dekat dibandingkan banyak periode sebelumnya.

Syarat pertama untuk mencapainya adalah persatuan umat Islam.

Persatuan umat Islam dalam menghadapi kekuatan yang memusuhi Islam merupakan strategi Qur’ani dan ajaran autentik Islam Muhammad, bukan persoalan yang dangkal atau sementara. Yang dimaksud dengan persatuan adalah menjadikan titik-titik kesamaan di antara masyarakat Muslim sebagai poros utama.

Pada saat yang sama, melalui argumentasi dan dengan tetap menjaga seluruh prinsip persaudaraan, perbedaan yang ada hendaknya dibicarakan secara damai sehingga sejauh mungkin dapat ditemukan titik temu. Yang jelas, umat Islam dalam menghadapi kekuatan yang memusuhi mereka harus menjadikan prinsip Qur’ani: “Tegas terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka” sebagai landasan pemikiran, ucapan dan tindakan.

Dengan cara inilah persatuan Islam dapat diwujudkan. Jika salah satu bagian dari prinsip tersebut ditinggalkan, umat Islam akan semakin jauh dari kehormatan dan kekuatan yang semestinya mereka miliki.

Sejarah Pekan Persatuan di Iran

Prinsip persatuan ini merupakan salah satu pesan utama Revolusi Islam. Gagasan penyelenggaraan Pekan Persatuan pertama kali disebut telah muncul pada Esfand 1356 kalender Iran, ketika mendiang Pemimpin Revolusi berada dalam pengasingan di Iranshahr pada masa perjuangan melawan pemerintahan Pahlavi. Gagasan tersebut mendapat sambutan dari kalangan Syiah maupun Sunni.

Tidak lama setelah kemenangan Revolusi Islam, atas prakarsa Imam Khomeini, Pekan Persatuan kemudian diresmikan. Dengan pertolongan Allah, persatuan di antara masyarakat Muslim dapat dikatakan telah mendapatkan contoh yang relatif berhasil di Iran, dan berbagai upaya pihak lawan tidak banyak berhasil merusaknya.

Namun pihak-pihak yang menginginkan keburukan senantiasa mengincar nikmat besar tersebut. Salah satu hal yang mereka gunakan adalah menonjolkan perbedaan.

Perbedaan keyakinan dan mazhab memang menjadi salah satu sasaran penting, tetapi mereka tidak berhenti di sana. Perbedaan etnis, budaya, sosial, ekonomi, politik dan geografis juga dapat dimanfaatkan sebagai alasan untuk menimbulkan perpecahan di antara masyarakat Muslim, baik di Iran maupun negara Islam lainnya.

Tujuannya adalah memecah umat Islam, melemahkan kekuatannya, kemudian memanfaatkan kesempatan untuk menguasainya.

Al-Qur’an telah memperingatkan: “Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”

Karena itu, siapa pun dan dalam posisi apa pun yang melakukan sesuatu yang menimbulkan perpecahan di antara umat Islam dan menciptakan pertikaian, baik ia menyadarinya ataupun tidak, pada akhirnya dapat membantu tercapainya tujuan pihak-pihak yang memusuhi Islam.

Seruan kepada Para Pemimpin Negara Islam

Kini sudah waktunya umat Islam berpikir lebih mendalam dan melihat berbagai peristiwa dengan lebih cermat. Apakah seandainya umat Islam bersatu sebagai satu tangan yang kokoh, rakyat Palestina akan sedemikian tidak terlindungi dalam menghadapi penindasan dan kejahatan para penjajah?

Dan jika bangsa-bangsa serta pemerintahan di sekitar Teluk Persia membangun persatuan di bawah panji Islam, apakah kekuatan dari ribuan kilometer jauhnya akan dengan mudah berani mengincar wilayah dan kekayaan mereka?

Saya kembali menegaskan kepada para pemimpin negara-negara Islam, khususnya negara-negara Asia Barat dan kawasan Teluk Persia: Kenalilah musuh sejati kalian, pahami rencananya dan hadapilah strategi tersebut. Jalan mengatasi berbagai masalah umat Islam adalah persatuan, persahabatan dan kerja sama dalam kebaikan. Menurut pandangan kami, pemerintah Amerika Serikat dan sistem Israel merupakan musuh utama dari persatuan tersebut.

Mereka bukan hanya bermusuhan dengan Republik Islam Iran, rakyat Iran dan poros perlawanan, tetapi juga terhadap umat Islam secara lebih luas, termasuk masyarakat Asia Barat dan Afrika Utara. Bahkan sejumlah pemimpin negara kawasan yang memiliki hubungan kerja sama dengan mereka tidak selalu terbebas dari penghinaan dan tekanan, sebagaimana dapat dilihat dari berbagai pernyataan kasar yang pernah disampaikan pemimpin kekuatan besar terhadap sejumlah kepala negara Muslim.

Tiga Pelajaran Utama Persatuan

Pelajaran pertama dalam ajaran Islam ketika menghadapi teman dan lawan adalah persatuan dan menghindari pertikaian. Pelajaran kedua adalah saling membela ketika menghadapi ancaman dari luar. Pelajaran ketiga adalah kerja sama dan sinergi dalam berbagai bidang kehidupan material maupun spiritual, termasuk kekayaan, keamanan, ilmu pengetahuan dan kemajuan. Ujung dari proses tersebut adalah tercapainya peradaban Islam baru. Karena itu, persatuan umat Islam merupakan batu fondasi utama untuk mencapai peradaban Islam yang bermartabat dan kuat.

Kerangka pemikiran tersebut, yang menjadi salah satu harapan kami bagi dunia Islam, telah sampai pada tingkat tertentu diwujudkan di Iran. Sekali lagi saya menyerukan kepada seluruh rakyat Iran: Jangan pernah memberikan ruang bagi munculnya perpecahan di antara kalian. Pada akhirnya, saya berharap melalui syafaat Rasulullah SAW dan Ahlulbaitnya yang suci, rahmat dan keberkahan Allah senantiasa menaungi masyarakat Muslim.

Semoga dengan menjalankan perintah-perintah Allah, umat Islam dari hari ke hari semakin menapaki jalan kemajuan, kehormatan dan kemuliaan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei
30 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448 H

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha