Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Makarim Syirazi menjelang shalat dhuhur Sabtu (9/2) dalam pengantar pelajaran kelas Fiqh yang diasuhnya di Masjid A'dzam Qom Republik Islam Iran berkaitan dengan peringatan kemenangan revolusi Islam Iran 22 Bahman (bertepatan dengan 10 Februari) menyatakan, "Kemenangan revolusi Islam Iran 34 tahun lalu adalah ibarat suatu mukjizat Ilahi, sebab rakyat Iran kala itu tanpa persenjataan dan pertahanan mampu bangkit melawan dan meruntuhkan rezim yang sempat merayakan 2500 tahun usianya."
"Berkat kegigihan dan sikap pantang mundur rakyat Iran serta semangat pengorbanan yang sedemikian tinggi, kerja yang bisa jadi selesai dalam 10 tahun mampu dituntaskan hanya dalam tenggang waktu 10 hari." Lanjutnya.
Ulama Marja Taklid tersebut kemudian menyebutkan bahwa berkat tawakkal kepada Allah SWT dan kesetiaan dijalur revolusi dibawah bimbingan Rahbar, rakyat Iran mampu melewati segala kesulitan dan kekuatan asing yang hendak memadamkan semangat revolusi. "34 tahun setelah kemenangan revolusi Islam Iran, musuh-musuh Islam dan Iran tidak pernah berhenti mengerahkan seluruh tenaga, kemampuan dan dana besar mereka untuk menggoyang kedaulatan republik Islam namun mereka berhadapan dengan ketangguhan dan kesetiaan rakyat terhadap semangat revolusi sehingga segala upaya mereka tidak membuahkan hasil." Ungkapnya.
Ayatullah Makarim Syirazi berkaitan dengan tradisi turun kejalan rakyat Iran dalam memperingati hari kemenangan Revolusi Islam Iran mengatakan, "Bergabung dalam aksi turun ke jalan memeriahkan peringatan kemenangan revolusi adalah sebuah kewajiban. Sebab aksi tersebut dapat menimbulkan rasa dengki pada musuh-musuh Islam dan merupakan pukulan telak terhadap mulut besar para arogan."
"Kita semua mengetahui bahwa Negara sedang menghadapi kesulitan ekonomi namun rakyat Iran mengetahui betapa pentingnya menjaga kedaulatan Negara, sebab mengetahui tujuan dari tegaknya Negara ini." Tambahnya.
"Turut memeriahkan peringatan kemenangan revolusi Islam Iran dapat membuat musuh pesimis dengan target-targetnya."
"Semua harus tetap berada pada jalur revolusi, Imam dan pemimpin besar revolusi. Tidak seorang pun kepentingan pribadinya merusak kedaulatan politik Negara, sebab musuh tidak akan tinggal diam untuk mencari segala celah dan jalan untuk menghancurkan Negara ini." Jelas guru besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut.