24 November 2012 - 07:02

"Kecintaan yang sejati kepada imam Husain as akan terus memercikkan api dalam jiwa, yang membakar semangat hidup pecintanya. Dalam melawan kezaliman dan juga melawan hawa nafsu yang menjemuruskan pada kemaksiatan. Karenanya tradisi peringatan Asyura harus terus dijaga dan dihidupkan. Agar kecintaan kepada imam Husain as tetap terpatri dalam jiwa-jiwa kita."

Menurut Kantor Berita ABNA, memperingati hari kesyahidan Imam Husain as, mahasiswa Indonesia asal Sulawesi -yang sedang menimba ilmu di kota Qom Republik Islam Iran- yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) Qom-Iran menyelenggarakan majelis duka Asyura Jum'at malam (23/11) pukul 18.30 sampai 21.00 waktu setempat. Acara yang berlangsung di kediaman Ust. Muhammad Adlani, MA tersebut dihadiri kurang lebih lima puluhan orang termasuk anak-anak. Acara dibuka dengan bacaan al-Qur'an oleh Muhammad Jauzan dan dilanjutkan dengan sambutan ketua KKS yang diwakili oleh Ust. Akmal Kamil, Lc ketua KKS periode sebelumnya.

Dalam sambutannya, Ust. Akmal Kamil, Lc memaparkan bahwa semangat perlawanan dan perjuangan yang dikobarkan Imam Husain as di padang Karbala 1.400 tahun silam adalah inspirasi yang menembus setiap tempat dan zaman. "Semangat pantang hina yang disuarakan Imam Husain dalam perlawanannya tersebut menjadi inspirasi dan ilham  bagi para pejuang Gaza hari ini dan para pecinta kemerdekaan sejati. Kemenangan mujahidin HAMAS dan rakyat Gaza dalam menghadapi agresi militer Zionis tidak lepas dari semangat al Husain yang tertanam dalam jiwa-jiwa mereka. Dengan persenjataan yang lebih sedikit mereka melakukan perlawanan karena hendak menunjukkan izzah dan kemulian serta penolakan terhadap keterjajahan sebagaimana yang diajarkan oleh semangat Asyura." Ucap beliau.

Dalam lanjutan sambutannya, ketua KKS periode 2010-2012 tersebut mengatakan, "Karena itu pada hakikatnya, setiap kita memperingati Asyura adalah supaya kita bisa memetik pelajaran yang besar di dalamnya. Kita sebagai pelajar memiliki kewajiban disamping mempelajari peristiwa Karbala, juga berkewajiban menyampaikan pesan-pesan imam Husain ke seluruh dunia, sebab imam Husain bukan sekedar pejuang Islam, namun juga pejuang kemanusiaan. Pesan-pesan Imam Husain itu bisa kita sampaikan lewat media-media yang kita punya. Lewat site, blog, facebook ataupun twitter."

Menukil pernyataan Imam Khomeini, Ust. Akmal mengatakan, "Islam ini terjaga oleh peringatan yang kita tradisikan di bulan Muharram dan Safar. Tradisi memperingati Asyura harus terus dihidupkan karena inilah yang menjadi symbol dan identitas kita sebagai muslim. Dengan Asyura kita mempertegas diri bahwa warna kita merah dan hitam, bukan abu-abu dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan."

Menutup sambutannya, mahasiswa program pasca sarjana Universitas al Mustafa Qom tersebut menyambut baik peringatan Asyura yang tahun ini telah diadakan yang keempat kalinya, sejak KKS Qom-Iran didirikan.

Acara selanjutnya adalah pembacaan do'a Ziarah Asyura yang dipimpin oleh Ust. Ridwan Lagading, MA. Puluhan orang yang hadir dalam acara tersebut seketika khusyuk dalam lantunan doa zi'arah yang ditujukan kepada penghulu para syuhada imam al Husain as. Sesekali terdengar isak tangis dari beberapa hadirin.

Setelah pembacaan do'a ziarah Asyura, ust. Idham Mustakim, Lc didaulat untuk membawakan hikmah Asyura. Dalam ceramahnya, ust. Idham mengatakan bahwa bagi mereka yang benar-benar memiliki kecintaan yang besar terhadap imam Husain as hatinya akan merasakan sakit dan remuk setiap mendengar nama Imam Husain as disebut.

"Setiap seseorang jatuh cinta, maka yang terungkap selanjutnya hanyalah bahasa hati. Karenanya pada hakikatnya mereka yang sedang dimabuk cinta maka pintu akalnya tertutup. Demikian pula dengan mereka yang mengaku mencintai imam al Husain. Setiap mendengar nama imam Husain as disebut, setiap peristiwa dalam tragedi Karbala kembali diperdengarkan, maka saat itulah pecinta al Husain tidak bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air mata. Hatinya akan remuk redam mendengar kematian sang kekasih sedemikan tragis." Ucap beliau.

Dalam lanjutan ceramahnya, mahasiswa jurusan Filsafat Universitas Imam Khomeini yang juga menjabat sebagai ketua KKS periode 2012-2014 tersebut mengatakan, "Kalau orang-orang yang kita kasihi sebut saja istri kita, anak-anak dan sahabat karib kita  sedang mengalami musibah, maka tentu hati kitapun akan terasa pilu. Lantas bagaimana halnya dengan kejadian yang menimpa Imam Husain as yang kecintaan kita kepadanya harus kita lebih dahulukan dari kecintaan kepada keluarga kita? Tentu hati kita akan lebih tersayat-sayat lagi. Karenanya, tentu sulit dibayangkan, bagaimana halnya dengan mereka yang mengaku mencintai Imam Husain, mengaku mencintai Ahlul Bait Nabi namun sama sekali tidak meneteskan air mata ketika mendengar kisah tragedi Karbala diceritakan. Hanya dua kemungkinan, hatinya sedemikian keras atau malah tidak memiliki hati sama sekali."

Pada bagian lain penyampaiannya, Ust. Idham menyitir puisi Jalaluddin Rumi yang mengibaratkan hati seperti rumah yang didalamnya ada lilin. "Seorang pencuri yang hendak mengambil sesuatu dalam sebuah rumah, maka pertama yang harus dilakukannya adalah mematikan cahaya di rumah itu, sebab dalam kegelapan ia lebih leluasa beraksi tanpa diketahui oleh pemilik rumah. Pencuri itulah yang ditamsilkan sebagai penyakit-penyakit hati yang berusaha mematikan cahaya dalam hati manusia. Pencuri itu adalah maksiat dan dosa-dosa kita. Untuk menyalakan kembali cahaya dalam hati, maka dibutuhkan pemantik, diperlukan percikan-percikan api untuk menyalakan kembali lilin yang padam. Diantara pemantik itu adalah mengingat peristiwa Karbala. Imam Husain adalah cahaya yang menembus hati. Mengingat dan mencintainya akan membuat hati kita bercahaya."

Menutup ceramahnya, Ust Idham memesankan, "Kecintaan yang sejati kepada imam Husain as  akan terus memercikkan api dalam jiwa, yang membakar semangat hidup pecintanya. Dalam melawan kezaliman dan juga melawan hawa nafsu yang menjemuruskan pada kemaksiatan. Karenanya tradisi peringatan Asyura harus terus dijaga dan dihidupkan. Agar kecintaan kepada imam Husain as tetap terpatri dalam jiwa-jiwa kita."

Peringatan Asyura malam kesembilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembacaan maqtal dan syair-syair duka atas kesyahidan Imam Husain dan beberapa keluarga serta sahabatnya. Acara yang rencananya juga akan terselenggara pada malam ke 10 dan malam ke 11 Muharram tersebut ditutup dengan makan malam bersama.