Menurut Kantor Berita ABNA, Film layar lebar berjudul Abdo Moota yang disiarkan di Hari Raya Idul Adha di sinema-sinema Mesir, mengandung penistaan terhadap Ahlul Bait (as) dan warga Mesir menuntut larangan penayangannya.
Fars News (27/10) melaporkan, film sinema Abdoo Moohta karya sutradara Ismail Farouq disiarkan di seluruh sinema Mesir bersamaan dengan peringatan Idul Adha.
Sebagian cuplikan dalam film tersebut dinilai menistakan kesucian Sayidah Fatimah az-Zahra sa, putri Rasulullah Saw, yang langsung mengundang kemarahan warga Mesir, khususnya kaum Syiah. Film yang banyak memuat materi tidak Islami tersebut dalam salah satu cuplikan adegannya menghadirkan seorang perempuan bernyanyi dan berjoget disebuah pesta dengan pakaian yang tidak layak sambil menyanyikan syair, "Ya Thahirah, ya Ummul Hasan wa Husain…". Syair tersebut sangat terkenal di Mesir, dikenal sebagai syair yang sudah sangat lama secara turun temurun diperdengarkan dari generasi ke generasi sehingga disebutkan sebagai salah satu peninggalan seni budaya Mesir klasik. Keberadaan syair fenomenal dikalangan masyarakat Mesir tersebut menunjukkan kecintaan dan penghormatan rakyat Mesir terhadap Ahlul Bait Nabi as, sehingga menyanyikan syair tersebut disebuah acara yang tidak Islami dengan berpakaian setengah telanjang dinilai sebagai sebuah penghinaan dan pelecehan.
Aliansi Muslim Pendukung Ahlul Bait as di Mesir melayangkan surat kepada Syeikh al-Azhar, Ahmad Tayyib, dan memintanya turun tangan dalam masalah ini dan melarang penayangan film tersebut.
Walid Ismail, anggota Aliansi menjelaskan bahwa dalam film tersebut dibacakan syair-syair terhadap Ahlul Bait namun sangat tidak sopan. "Jika Syeikh al-Azhar tidak menunjukkan sikap dalam hal ini, maka kami akan menggugat al-Tayyib, karena penistaan telah terjadi dan dia bungkam," kata Ismail.
Sementara itu, warga Syiah Mesir juga merilis statemen resmi yang menuntut campur tangan al-Azhar dan mengkritik kebungkaman Syeikh al-Azhar dalam hal ini.
Baha' Anwar Muhammad, juru bicara Syiah Mesir dan Direktur Pusat Fatimi untuk HAM Mesir mengatakan, "Warga Syiah Mesir berusaha menempuh langkah-langkah legal dalam hal ini."
Dia menuntut aksi cepat dalam hal ini seraya mengatakan, "Kebungkaman al-Azhar dan Mufti Agung Mesir menyusul aksi penistaan terhadap sosok mulia yang diakui baik oleh Syiah dan Sunni itu sangat tidak proporsional, di saat sebelumnya mereka telah berulangkali berkomentar tentang penistaan terhadap para sahabat."