2 September 2012 - 19:30

Pada 30 Agustus, pidato yang ditunggu-tunggu Presiden baru terpilih Mesir mengatakan bahwa mereka yang sedang berjuang untuk kebebasan adalah "Palestina dan Suriah." Namun, pidatonya itu salah salah diterjemahkan dengan "Palestina dan Bahrain." Kesalahan tersebut segera dimanfaatkan media Barat menyebut Iran berbuat culas.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Radio dan Televisi Republik Islam Iran (IRIB), Ezzatollah Zarghami menerima kesalahan dalam terjemahan ketika Presiden Mesir, Muhammad Mursi berpidato pada KTT ke-16 Gerakan Non-Blok (GNB) di Tehran.

 

"Kekurangan itu hanya dalam kasus salah menerjemahkan nama untuk Suriah menjadi Bahrain di salah satu saluran televisi [IRIB]," kata Zarghami pada hari Minggu.

 

Ditambahkannya bahwa kesalahan terjemahan pada pidato Presiden Mesir Muhammad Mursi, itu adalah kesalahan teknis yang terjadi pada siaran langsung Saluran 1 IRIB. Penerjemah yang membuat kesalahan itu telah diganti, demikian dilaporkan kantor berita Mehr.

 

Zarghami mengatakan, media Barat segera memanfaatkan kekeliruan tersebut.

 

Ditegaskannya, "Jaringan Berita Republik Islam Iran (IRINN) bertanggung jawab atas siaran konferensi puncak," seraya mengatakan bahwa proses konferensi itu disiarkan "baik di dalam negeri dan di luar negeri [termasuk] salah terjemahan."

 

Zarghami menekankan bahwa " Liputan media Iran [acara] itu begitu luas dan sempurna" media Barat memanfaatkan kekurangan tersebut.

 

Pada 30 Agustus, pidato yang ditunggu-tunggu Presiden baru terpilih Mesir mengatakan bahwa mereka yang sedang berjuang untuk kebebasan adalah "Palestina dan Suriah." Namun, pidatonya itu salah salah diterjemahkan dengan "Palestina dan Bahrain. "

 

Pada hari Sabtu (1/9), pemerintah Bahrain mengeluarkan statemen bahwa Manama telah mengajukan keluhan resmi terhadap Iran atas kekeliruan tersebut.(IRIB Indonesia)