25 Agustus 2012 - 19:30

Dalam pidato pembukaannya, Salehi menegaskan peran dan pengaruh GNB dan mengatakan, "Saat ini kita berkumpul kembali untuk membahas dan mengevaluasi transformasi terbaru yang berdampak pada dunia kita. Hal ini menjadi tanda nyata atas tekad kita untuk memperkuat gerakan ini dan mengubahnya sebagai alat yang efisien."

Menurut Kantor Berita ABNA, Tehran menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Ke-16 Gerakan Non-Blok (GNB). Pertemuan teknis negara-negara anggota GNB di Tehran dimulai hari ini (Ahad, 26/8) dengan pidato Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Ali Akbar Salehi. Dalam pidato pembukaannya, Salehi menegaskan peran dan pengaruh GNB dan mengatakan, "Saat ini kita berkumpul kembali untuk membahas dan mengevaluasi transformasi terbaru yang berdampak pada dunia kita. Hal ini menjadi tanda nyata atas tekad kita untuk memperkuat gerakan ini dan mengubahnya sebagai alat yang efisien." Ia menambahkan, kita sebagai anggota GNB menentang diskriminasi, bentrokan bersenjata, penyalahgunaan kekuatan dan tindakan sewenang-wenang dalam hubungan internasional serta semua bentuk penjajahan asing. Menlu Iran juga menyinggung pentingnya peninjauan kembali atas peran PBB dan Dewan Keamanan PBB, masalah Palestina dan kejahatan kemanusiaan rezim Zionis Israel serta transformasi di kawasan khususnya kebangkitan rakyat di negara-negara regional. Terkait dengan gerakan rakyat di kawasan yang menuntut kebebasan, martabat dan keadilan, Salehi menandaskan, intervensi asing dan penyalahgunaan gelombang instabilitas yang melanda kawasan kita tidak dapat diterima. Sebab, hal itu akan menghalangi proses sejati dari demokrasi untuk menentukan nasib mereka. Pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Iran itu menegaskan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak dapat dicapai dengan kebijakan diskriminasi, mendukung secara membabi buta terhadap rezim teroris (Israel), pendudukan, penyiksaan, penghancuran, ancaman dan agresi. "Amat jelas bahwa perdamaian di Palestina dan Timur Tengah hanya dapat dicapai melalui keadilan, diakhirinya diskriminasi dan penjajahan atas Palestina, Suriah, Lebanon, dan kembalinya pengungsi-pengungsi Palestina ke tanah mereka serta menciptakan mekanisme demokratik bagi bangsa Palestina, di mana mereka sendiri yang memutuskan masa depannya," tegas Salehi. Salehi menilai rezim Zionis sebagai salah satu sumber terorisme dan upaya Amerika Serikat menyalahgunakan peristiwa 11 September menyebabkan memburuknya instabilitas di Timur Tengah dan menjadi alat bagi Gedung Putih untuk menjustifikasi tujuan-tujuan dominasinya dengan dalih memerangi teroris di mana ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran menjadi salah satu korbannya. "Kami tengah menunggu dunia yang kosong dari terorisme," ujarnya. KTT GNB di Tehran juga membahas pemusnahan senjata nuklir, partisipasi seluruh negara dalam mengatur dunia dan menggelar seminar bersama untuk menyelesaikan krisis regional khususnya krisis Suriah. Menlu Iran juga menegaskan kenyataan bahwa meski Gerakan Non-Blok pada awal pembentukannya merupakan gerakan politik, namun saat ini telah masuk ke kancah yang lebih luas dalam interaksi dunia. Sebenenarnya GNB telah berada pada posisi tertentu dan menjadi simbol sistem multi-kutub yang menantang hegemoni dan unilateralisme serta menjadi cakrawala yang jelas bagi masyarakat dunia. Oleh karena itu, kesempatan untuk menjalin kerjasama dan menggunakan berbagai kapasitas ekonomi, interaksi budaya dan sains amat urgen dalam gerakan ini. Dengan demikian, KTT Ke-16 GNB di Tehran merupakan kesempatan emas untuk melangkah jauh dalam mencapai tujuan-tujuan gerakan ini. Iran sebagai ketua periodik baru GNB bertekad memainkan perannya dalam aktivitas-aktivitas gerakan ini dan pidato Salehi dalam pembukaan KTT tersebut menggambarkan cakrawala terang untuk mencapai cita-cita GNB. Sumber: IRIB Indonesia